Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Noel Iman Untung Wenda
TRIBUN-PAPUA.COM, WAMENA - Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap XVI Yahukimo Korowai mengklaim telah menembak dua orang yang disebut sebagai agen intelijen militer Indonesia, hingga mengalami kondisi kritis. Insiden tersebut dilaporkan terjadi di wilayah Kali Biru, Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo, pada Senin (27/4/2026).
Klaim itu disampaikan melalui siaran pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB yang diterima pada Selasa, (28/04/2026). Dalam keterangan tersebut, aksi penembakan dilakukan oleh pasukan di bawah pimpinan Mayor Mackar Sobolim bersama anggotanya.
Selain menyebabkan korban luka kritis, TPNPB juga mengklaim dua unit mobil mengalami kerusakan akibat tembakan, dengan bagian pintu dan bodi dilaporkan bocor.
Baca juga: KKB Yahukimo Tembak Leher Warga Perantau Hingga Harus Dirujuk ke Jayapura
Dalam pernyataan itu, TPNPB menyebut bahwa pihaknya sebelumnya telah mengeluarkan ultimatum sejak 26 April 2026 kepada para pengguna kendaraan yang melintas di wilayah yang mereka sebut sebagai “zona perang”, agar menurunkan kaca mobil dan membuka helm. Kelompok tersebut mengklaim tindakan penembakan dilakukan karena ultimatum itu tidak diindahkan.
TPNPB juga mengeluarkan peringatan kepada warga sipil, khususnya yang disebut sebagai warga imigran Indonesia, untuk segera meninggalkan wilayah Yahukimo. Mereka mengatakan telah menetapkan wilayah tersebut sebagai daerah konflik bersenjata dan mengancam akan melakukan penembakan terhadap pihak-pihak yang dianggap bagian dari aparat atau intelijen.
Dalam siaran pers itu, TPNPB turut meminta pemerintah Indonesia untuk mengevakuasi warga sipil yang bekerja di wilayah tersebut, termasuk ASN, tenaga kesehatan, guru, sopir dan pekerja lainnya. Mereka menyebut langkah itu diperlukan untuk menghindari jatuhnya korban sipil.
Baca juga: KKB Tembak Tenaga Profesional Pemkab Yahukimo, Mobil Korban Diadang dan Ditembaki Pelaku
Situasi di sejumlah wilayah Papua Pegunungan dalam beberapa waktu terakhir dilaporkan masih rawan akibat meningkatnya aktivitas kelompok bersenjata, yang berdampak pada keamanan masyarakat sipil.(*)