Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung– Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Lampung menekankan pentingnya transformasi ekonomi melalui hilirisasi komoditas pertanian sebagai kunci menjaga pertumbuhan ekonomi di tahun 2026.
Kepala Kpw BI Lampung, Bimo Epyanto, menyebut bahwa Provinsi Lampung memiliki potensi ekonomi yang besar dari sektor pertanian serta komoditas unggulan seperti kopi, kakao, hingga hortikultura.
Namun, ia menyoroti seringkali keuntungan justru dinikmati oleh daerah lain karena minimnya proses pengolahan di Bumi Ruwa Jurai.
Beski BI optimis ekonomi Lampung tumbuh kuat hingga akhir 2026, namun Bimo menyoroti tantangan besar membayangi dari sektor pertanian yang menjadi lapangan usaha utama di Bumi Ruwa Jurai.
"Angka pertumbuhan di 2025 itu sudah sangat tinggi. Jika tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi, akan sulit bagi kita untuk kembali tumbuh di atas 5 persen hanya dengan mengandalkan pola lama," ujar Bimo dalam acara Diseminasi Laporan Perekonomian Lampung Semester I di Hotel Marriot, Pesawaran, Selasa (28/4/2026).
Ditambah lagi, adanya risiko eksternal global yang tidak menentu berpotensi memberikan tekanan pada pertumbuhan ekonomi nasional yang berdampak ke daerah.
Salah satu poin krusial yang disoroti Bimo adalah fenomena ekspor bahan mentah, terutama pada komoditas kopi.
Lampung Barat, misalnya, dikenal sebagai penghasil kopi luar biasa, namun mayoritas yang keluar masih berbentuk biji mentah (green bean).
"Kita melihat uang mengalir miliaran dari kopi, tapi karena diekspor dalam bentuk biji, kita tidak bisa menikmati nilai tambah lebihnya. Ibaratnya, kita hanya melihat uang lewat saja," ungkap Bimo dengan nada lugas.
Bimo mencatat, harga beras cenderung stabil sepanjang 2025, namun inflasi justru sering dipicu oleh komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah.
"Kalau cabai hanya habis dikonsumsi, nilai tambahnya segini-segini saja. Tapi kalau diolah jadi bon cabai, saus, atau produk turunan lainnya di pabrik yang ada di Lampung, ceritanya akan beda," tambahnya.
BI Lampung mendorong penguatan model bisnis dari hulu ke hilir dengan melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga akademisi.
Menurutnya, ada tiga keuntungan utama jika hilirisasi ini berjalan masif:
"Pertama produk olahan memiliki harga yang jauh lebih tinggi dan stabil dibanding bahan mentah, kemudian aktivitas industri pengolahan akan menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pajak yang tidak didapatkan dari konsumsi barang mentah. Pada alhirnya yang diharapkan munculnya pabrik pengolahan atau UMKM naik kelas akan menciptakan lapangan kerja baru, mulai dari pekerja pabrik hingga tenaga ahli seperti barista untuk industri kopi," jelasnya.
Melalui tema "Penguatan Model Bisnis Komoditas Strategis dalam Mendukung Ketahanan Pangan," BI Lampung mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kelembagaan petani.
"Hilirisasi tidak harus selalu dimulai dengan industri besar. Kita bisa mulai dari penguatan UMKM. Yang penting, proses pengolahannya terjadi di Lampung, sehingga nilai tambahnya dinikmati oleh masyarakat Lampung, bukan daerah lain," tegas Bimo.
Dengan langkah sinergi antara hilirisasi dan penguatan ekosistem usaha, BI meyakini Lampung akan bertransformasi dari sekadar daerah produsen menjadi daerah yang unggul dalam pengolahan dan distribusi pangan nasional.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)