Wali Kota Ungkap Penyebab Banjir di Bandar Lampung, Banyak Bangunan Tutupi Sungai
Robertus Didik Budiawan Cahyono April 28, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung- Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana mengungkap penyebab banjir yang kerap melanda Bandar Lampung.

Hal ini disampaikan Eva saat menghadiri Focus Group Discussion (FGD) yang digelar bersama Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung di kampus Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya, Selasa (28/4/2026).

FGD ini juga melibatkan sejumlah akademisi, seperti Rektor Universitas Lampung Prof Lusmeilia Afriani, Rektor Universitas Bandar Lampung Prof Yusuf Barusman, dan Rektor Institut Teknologi Sumatera Prof I Nyoman.

Menurut Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana, kondisi di lapangan memang tidak ideal.

Ia menyebut banyak bangunan mulai dari rumah warga hingga fasilitas umum seperti masjid dan hotel berdiri di atas atau menutup aliran sungai.

Baca juga: Akademisi Itera Ungkap Penyebab Banjir di Bandar Lampung

"Kalau dibuka semua, memang kondisi Bandar Lampung seperti ini. Banyak bangunan yang menutup sungai," ujarnya.

Secara aturan, sempadan sungai minimal tiga meter harus steril dari bangunan.

Namun, penerapan aturan tersebut tidak mudah karena menyangkut kondisi sosial masyarakat, terutama permukiman warga.

"Sebenarnya tidak boleh ada bangunan dalam jarak tiga meter dari sungai. Tapi kami juga mempertimbangkan sisi kemanusiaan," kata Eva.

Ia juga menyoroti kompleksitas penanganan banjir di Bandar Lampung yang memiliki sekitar 33 sungai besar.

Hampir di setiap kecamatan, kata dia, ditemukan bangunan yang mempersempit aliran sungai.

Sementara itu, Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Kawari, mengungkapkan pola banjir di Bandar Lampung terus berubah. Ia mencatat banjir pada 6 Maret terjadi di 44 titik, namun pada 11 April titiknya bergeser.

Menurut Elroy, penyebab banjir bukan hanya curah hujan tinggi, tetapi juga kerusakan infrastruktur sungai seperti tanggul jebol, sedimentasi, serta penyempitan badan sungai akibat bangunan dan infrastruktur.

"Masalahnya bukan hanya hujan, tapi juga kondisi sungai, termasuk di jembatan dan gorong-gorong," jelasnya.

Ia menegaskan, penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh berbasis daerah aliran sungai (DAS), dari hulu hingga hilir, bukan sekadar pengerukan.

Di akhir forum, Eva mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mencari solusi komprehensif mengatasi banjir yang kerap terjadi.

"Saya minta bantuan para pakar, mari kita diskusi dan cari solusi terbaik. Kami akan terus berbenah untuk Bandar Lampung," tandasnya.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.