WARTAKOTALIVE.COM, BEKASI - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengunjungi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi, Kota Bekasi pada Selasa (28/4/2026) siang.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi para korban luka akibat kecelakaan KRL dengan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek di dekat Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.
Arifah menjelaskan, sebanyak 55 korban dirujuk ke RSUD Bekasi.
Dari jumlah tersebut, tiga orang meninggal dunia dan 15 lainnya telah diperbolehkan pulang.
“Rata-rata korban mengalami luka memar, namun ada juga yang mengalami patah tulang di beberapa bagian. Pemerintah bertanggung jawab atas kejadian ini, dan PT KAI telah menyampaikan akan menanggung seluruh biaya pengobatan,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia menegaskan, pendampingan kepada korban tidak hanya sebatas penanganan medis, tetapi juga pemulihan pascakejadian.
Menurutnya, para korban juga akan mendapatkan pendampingan psikologis untuk mengatasi trauma akibat kecelakaan.
“Selain itu, bagi korban yang bekerja, kami berupaya agar perusahaan tempat mereka bekerja dapat memberikan keringanan hingga kondisi mereka pulih dan bisa kembali bekerja,” tuturnya.
Baca juga: Jamin Pengobatan, Plt Bupati Bekasi Sambangi Warganya yang Jadi Korban Tabrakan Kereta
Arifah mengaku sempat bertemu dengan perwakilan perusahaan korban di salah satu ruang perawatan.
“Kami berharap hak-hak para pekerja tetap terpenuhi, sehingga setelah sembuh mereka bisa kembali bekerja seperti semula,” katanya.
Terpisah, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan, berdasarkan data terbaru hingga pukul 08.45 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia akibat insiden tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
“Berdasarkan data terbaru hingga pukul 08.45 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia. Korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut,” kata Bobby dalam keterangan resmi, Selasa (28/4/2026).
Sementara itu, 84 korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan, antara lain RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Baca juga: Butuh 12 Jam, Proses Evakuasi Korban Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Dinyatakan Rampung
Sejak awal kejadian, katanya seluruh upaya difokuskan pada penanganan korban dengan mengutamakan keselamatan dan kondisi setiap penumpang.
Proses evakuasi dan penanganan dilakukan secara hati-hati karena terdapat korban yang membutuhkan penanganan khusus.
Setiap langkah dilakukan dengan pertimbangan medis dan keselamatan agar penanganan dapat berjalan optimal.
KAI memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan maksimal.
Seluruh biaya pengobatan bagi korban luka serta biaya pemakaman bagi korban meninggal dunia ditanggung sepenuhnya oleh asuransi dan KAI.
KAI juga menyampaikan bahwa barang-barang milik pelanggan yang ditemukan di lokasi kejadian telah diamankan dan saat ini berada di layanan lost and found.
Pendataan dan pengelolaan barang tersebut dilakukan secara terkoordinasi bersama pihak kepolisian untuk mendukung proses identifikasi dan kebutuhan penanganan lebih lanjut.
KAI telah menyiapkan Posko Tanggap Darurat dan Posko Informasi di Stasiun Bekasi Timur untuk membantu keluarga memperoleh informasi terkait korban dan penumpang.
Keluarga dapat menghubungi Contact Center KAI 121.
Sebuah taksi hijau yang terhenti tepat di jalur rel kereta api di Stasiun Bekasi Timur disinyalir menjadi penyebab kecelakaan maut KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek pada Senin (27/4/2026) malam.
Sebab taksi hijau yang terhenti di lintasan rel membuat KRL tertahan sebelum ditabrak KA Argo Bromo Anggrek dari belakang di jalur yang sama.
Sopir taksi hijau itu sempat muncul dalam rekaman video amatir yang beredar luas di media sosial.
Juga beredar foto sang sopir yang tengah jongkok menggunakan seragam hijau sedang menelepon sembari memegang rokok.
Dalam rekaman video sopir taksi sempat terlihat berada di luar kendaraannya tak lama setelah insiden terjadi.
Sang sopir tampak dalam kondisi syok.
Baca juga: KAI Didesak Tak Cuma Andalkan Skema Asuransi saat Tanggung Jawab atas Guru SD Korban KRL Bekasi
Ia dikelilingi warga yang berusaha menenangkan situasi di tengah kepanikan.
Warga sempat menggiring sopir tersebut agak mmenjauh dari lokasi kejadian.
Dalam kondisi masih terguncang, sang sopie terlihat kembali mendekati mobilnya yang berada di sekitar rel kereta.
Dalam video itu, sang sopir memberikan penjelasan singkat mengenai kejadian yang dialaminya.
Diduga ia memberikan penjelasan kepada polisi.
Ia mengaku mobil yang dikemudikannya tiba-tiba tidak bisa bergerak saat berada tepat di jalur rel.
Menurutnya ada sistem di mobil yang membuat mesin tidak berfungsi ketika berada di tengah rel kereta.
"Ada steering. Nah ini ngunci langsung, jadi kita mau jalanin gak bisa. Karena tadi pas posisi udah kelewat langsung mati sendiri," katanya.
Di satu sisi, manajemen taksi hijau Green SM Indonesia buka suara melalui Instagramnya pada Selasa (28/4/2026).
Green SM mengakui bahwa armadanya yang memang sempat mati di jalur perlintasan rel sebelum kecelakaan terjadi.
Green SM mengaku telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang, terkait peristiwa ini.
Hal itu menjadi bentuk dukungan penuh dari Green SM untuk investigasi mengenai penyebab kecelakaan.
Manajemen Green SM juga memberikan perhatian penuh terhadap insiden yang melibatkan salah satu taksinya.
Pihak Green SM menyatakan akan terus menyampaikan perkembangan terbaru seiring dengan tersedianya informasi yang telah terverifikasi.
"Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami. Kami berkomitmen untuk menjaga standar keselamatan yang tinggi melalui sistem operasional, pengawasan, serta peningkatan layanan secara berkelanjutan," tulis manajemen, Selasa (28/4/2026) dini hari.