Dugaan Taksi Listrik Jadi Pemicu Kecelakaan Maut KRL vs KA Bromo Anggrek, 14 Orang Meninggal Dunia
Sarah Elnyora Rumaropen April 28, 2026 04:35 PM

SURYAMALANG.COM, BEKASI - Tragedi memilukan terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam, melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line.

Polisi mengungkapkan KA Argo Bromo Anggrek tengah melaju kencang dengan kecepatan 110 kilometer per jam saat menghantam bagian belakang KRL yang sedang berhenti.

Insiden maut yang diduga dipicu oleh mogoknya sebuah taksi listrik di perlintasan rel ini telah merenggut sedikitnya 14 korban jiwa dan menyebabkan 84 penumpang lainnya luka-luka.

Hingga saat ini, dugaan awal mengarah pada kurangnya koordinasi dan informasi akurat yang diberikan kepada masinis KA Argo Bromo Anggrek terkait kondisi jalur di depannya.

Kronologi Tragedi Maut di Stasiun Bekasi Timur

Kecelakaan besar yang melibatkan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line lintas Cikarang terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin sekira pukul 20.57 WIB.

Insiden maut ini diduga kuat berawal dari gangguan pada satu unit taksi mobil listrik Green SM Indonesia di perlintasan Jalan Ampera, kawasan Bulak Kapal.

Baca juga: Cerita Agus Gagal Naik KA Jayabaya di Malang Imbas kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek, Beralih ke Bus

Taksi tersebut mengalami korsleting elektrik sehingga mogok tepat di tengah rel dan kemudian tertemper KRL yang melaju dari arah Cikarang menuju Jakarta.

Akibatnya, perjalanan kereta api terganggu dan rangkaian KRL tersebut berhenti di jalur rel.

Kondisi inilah yang memicu rangkaian kejadian berikutnya, di mana KRL yang menuju Cikarang terpaksa berhenti di Stasiun Bekasi Timur.

Di saat yang bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek melaju di lajur yang sama dari arah belakang.

Mengingat jarak yang sudah dekat, KA Argo Bromo Anggrek tidak dapat menghindari tabrakan dan menghantam bagian belakang KRL dengan dampak yang sangat fatal. 

Dahsyatnya Benturan pada Kecepatan 110 Km/Jam

Polisi mengungkapkan, saat kejadian, kecepatan laju KA Bromo Anggrek mencapai 110 kilometer per jam.

Kepala Seksi Kumpul, Olah, dan Kaji Data Kecelakaan Lalu Lintas Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe, menduga tabrakan terjadi karena pemberian informasi yang kurang akurat.

"Mungkin akibat kurangnya koordinasi atau pun informasi, tidak mampu memberikan informasi menyeluruh atau pun akurat kepada kereta api Argo Bromo Anggrek, di mana ketika itu sedang melintas dengan kecepatan 110 kilometer per jam," kata Sandhi, Selasa (28/4/2026).

Baca juga: KA Jayabaya dari Stasiun Malang Dibatalkan Imbas Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek, 7 Orang Meninggal

Akibat kerasnya benturan, lokomotif KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan merangsek masuk ke dalam gerbong khusus perempuan di bagian paling belakang KRL.

Sandhi juga mengatakan, KRL yang ditabrak KA Bromo Anggrek sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur karena perjalanan yang terganggu imbas peristiwa KRL menabrak satu unit taksi mobil listrik di perlintasan Jalan Ampera.

Kata Sandhi, taksi mobil listrik tersebut mogok tepat di perlintasan Jalan Ampera karena mengalami korsleting elektrik.

"Kecelakaan ini diakibatkan dari korsleting atau permasalahan elektrik dari kendaraan taksi roda empat elektrik, ya. Dimana tepat permasalahan itu terjadi di perlintasan Ampera, perlintasan rel kereta api di Ampera," ujarnya. 

Insiden ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar.

Hingga Selasa pagi, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengonfirmasi total 14 orang meninggal dunia dan 84 orang mengalami luka-luka.

Sorotan Pada Sistem Signaling dan Koordinasi

Agus menduga, sinyal tanda berhenti untuk KA Argo Bromo Anggrek terlambat diaktifkan, sehingga kereta tetap melaju dengan kecepatan penuh meski ada rangkaian lain yang berhenti di depannya.

"Soal signaling, yang mengherankan kami, di satu tapak rel atau ruas ada satu kereta yang tertemper kemudian KRL di belakangnya sudah merah terus berhenti" kata Agus dikutip dari YouTube Tribunnews (grup suryamalang), Selasa.

"Kenapa yang (KAJJ) Argo Bromo di jalur yang sama, itu dengan kecepatan full di atas 100 (kilometer per jam) yang menghantam kereta sedang berhenti" lanjutnya. 

"Jadi, ada persoalan apakah di sistem signaling atau apakah di sistem Petugas Perjalanan Kereta Api (PPA) itu yang ada di Manggarai," imbuhnya. 

Baca juga: Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek Tujuan Surabaya: 240 Penumpang Selamat, KA dari Malang Dibatalkan

Agus menilai, kondisi ruas rel bukan penyebab utama karena seharusnya pengaturan perjalanan di stasiun yang memiliki banyak rel bisa diatur lebih baik.

Pihaknya pun mendesak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk menyelidiki titik lemah pada sistem koordinasi tersebut.

Desakan Pemisahan Direktorat Sarana dan Prasarana

Selain masalah teknis di lapangan, Agus Pambagio mengkritik beban tugas Direktorat Prasarana Perkeretaapian yang dinilai terlalu berat karena masih disatukan dalam satu lembaga.

Menurut Agus, pengawasan keselamatan menjadi kurang maksimal akibat dua beban pekerjaan besar yang diemban bersamaan.

"Direktorat Sarana dan Prasarana itu harus dipisah karena pekerjaannya berat. Dua pekerjaan berat dijadikan satu sehingga pengawasan untuk keselamatan perjalanannya kurang" ujarnya. 

"Nah, ini sudah jaman Dirut (PT KAI) yang lama, sudah kami sampaikan, tapi sampai hari ini belum, masih disatukan. Ini salah satu lubang yang harus diselidiki oleh KNKT," lanju Agus.

Hingga saat ini, investigasi masih terus dilakukan guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan secara menyeluruh.

Sementara itu, pihak taksi listrik Green SM Indonesia menyatakan dukungan penuh terhadap proses investigasi dan menegaskan komitmen mereka terhadap keselamatan operasional melalui peningkatan sistem pengawasan secara berkelanjutan.

“Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami. Kami berkomitmen untuk menjaga standar keselamatan yang tinggi melalui sistem operasional, pengawasan, serta peningkatan layanan secara berkelanjutan,” tulis pernyataan resmi perusahaan.

Seluruh korban meninggal telah dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi, sedangkan korban luka dirawat di sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi.

Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan oleh pihak berwenang guna mengungkap rangkaian kejadian secara menyeluruh.

(Tribunnews.com/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.