Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Seorang pria paruh baya fokus menuangkang biji kopi robusta ke tempat roasting sambil sesekali mengecek suhu dari mesin, Selasa (28/4/2026) di Anjosia Coffee.
Ia adalah Iskandarsyah (43) atau yang akrab disapa Bang Amenx selaku owner dari Anjosia Coffee.
Amenx menceritakan bahwa awal mula berdirinya Anjosia Coffee ini didorong keinginan kuatnya untuk bertransformasi dari seorang pekerja menjadi pengusaha.
Pada 25 Februari 2016, Bang Amenx memutuskan untuk membuka Anjosia Coffee setelah mundur dari pekerjaannya sebagai service manager di sebuah perusahaan otomotif dan mulai merintis usaha kopi.
“Anjosia Coffee berdiri dari keinginan saya pribadi ada niatan untuk banting stir dari karyawan ke wirausahawan,” tuturnya Selasa (28/4/2026).
Baca juga: Tunda Panen Demi Mutu, Bisnis Kopi PTPN IV Tetap Raup Laba pada Awal 2026
Dengan tekadnya yang sudah bulat untuk banting stir, akhirnya ia memilih untuk memulai bisnis kopi sebab Lampung dikenal dengan produsen kopi.
“Lampung itu kopi, dan kopi itu Lampung. Dari situ saya yakin memilih bisnis pengolahan kopi,” ungkapnya.
Perjalanan Anjosia Coffee dimulai dari konsep sederhana, namun dengan visi besar yaitu menghadirkan kopi berkualitas untuk semua kalangan mulai dari muda hingga tua.
Amenx ingin produknya bisa dinikmati siapa saja baik penikmat kopi kelas premium maupun masyarakat umum yang mencari kopi berkualitas dengan harga terjangkau.
Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar datang saat pandemi Covid-19 melanda. Pembatasan aktivitas (PPKM) membuat distribusi terhambat dan penjualan turun drastis.
“Selama covid omzet kami sangat drop, waktu itu hampir tidak ada transaksi. Banyak mitra kami tidak bisa berjualan karena sedang PPKM. Tapi alhamdulillah, kami bisa bertahan,” ujarnya.
Saat ini Anjosia Coffee menawarkan variasi produknya yang sangat beragam. Mulai dari kopi bubuk hingga kopi tablet, semuanya diproses tanpa campuran (pure coffee).
“Untuk produk kami itu semuanya 100 persen coffee tanpa campuran bahan apapun,” jelasnya.
Produk unggulannya yaitu kopi tablet yang hanya satu-satunya di Lampung. Kopi tablet ini yaitu kopi yang dikemas seperti tablet yang siap dikunyah kapan saja.
Sasarannya yaitu untuk masyarakat yang ingin ngopi namun malas ribet.
Selain kopi tablet, produk yang tersedia di Anjosia Coffee antara lain:
Harga produknya pun cukup variatif, mulai dari Rp.16.000 hingga Rp.110.000 sesuai dengan kuliatan dan besaran bobot kopinya.
Dalam industri kopi yang kompetitif, Amenx menekankan pentingnya kualitas dan standar produksi. Produk Anjosia Coffee telah memiliki sertifikasi dari BPOM serta label halal.
Selain itu, proses produksi dilakukan secara higienis, termasuk pencucian biji kopi menggunakan air mineral sebelum diolah dan dimasukkan ke mesin roasting. Sebuah langkah yang jarang dilakukan oleh produsen lain.
“Proses produksi kami lebih higienis. Sebab saya memiliki standar yang ketat dalam kualitas produk,” jelasnya.
Meski bahan baku kopi relatif mudah didapat di Lampung, tantangan terbesar justru datang dari fluktuasi harga biji kopi yang terus meningkat. Hal ini berdampak pada kemampuan produksi.
“Dulu bisa beli 1 ton, sekarang dengan modal yang sama hanya dapat sekitar 300 kilogram biji kopi saja,” katanya Amenx.
Di sisi lain, Amenx juga mengakui bahwa pemasaran menjadi tantangan tersendiri. Ia mengatasi hal ini dengan menggandeng mitra yang ahli di bidang marketing.
Saat ini, Anjosia Coffee tidak hanya dipasarkan di Lampung, tetapi juga telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia seperti Pontianak, Samarinda, Jabodetabek, hingga Yogyakarta.
Produk-produk mereka juga tersedia di sejumlah toko oleh-oleh seperti toms hingga Chandra Mall.
Dalam satu bulan, Anjosia Coffee mampu menjual sekitar 200 hingga 300 kilogram kopi. Dengan estimasi omzet mencapai sekitar Rp.36 juta per bulan.
Dengan inovasi seperti kopi tablet dan parfum mobil berbasis kopi, Anjosia Coffee menunjukkan bahwa industri kopi tidak hanya soal minuman, tetapi juga gaya hidup.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)