Menempa di Bara Panas, Museum Keris Nusantara Tunjukkan Proses Lahirnya Keindahan Sebilah Keris
Sinta Manilasari April 28, 2026 06:44 PM

 

TRIBUNSTYLE.COM - Meski diguyur hujan deras, Mpu Anjang Pratama ditemani tiga orang panjak yakni asisten pembuat keris menyalakan prapen dan bersiap untuk menempa keris baru.

Prapen terletak di pendopo kecil yang berada di taman Museum Keris Nusantara, Surakarta.

Disaksikan beberapa warga yang datang, acara nemempa keris Museum Keris Nusantara ini rutin digelar setiap bulan.

Digelar setiap hari Jumat di minggu keempat setiap bulannya, acara ini merupakan bagian dari kegiatan Museum Keris Nusantara yang diberi nama SERIRA Atraksi Tempa Keris.

Baca juga: KISAH Keris Kiai Nogo Siluman Pusaka Pangeran Diponegoro, 189 Tahun di Belanda Kembali ke Indonesia

Proses panjang yang tak sekadar teknis, tetapi sarat makna, ditunjukkan secara nyata oleh Museum Keris Nusantara.

Diawali dengan arak-arakan kecil para panjak dan Mpu Anjang Pratama yang membawa besi bakal keris dan nasi tumpeng.

Setibanya di pendopo, Mpu Anjang dan para panjaknya menggelar selametan kecil  sebelum memulai menempa keris.

Proses pembuatan keris di Museum Keris Nusantara.

Mpu Anjang Pratama dan dua panjak sedang menempa besi yang akan dijadikan keris.
Proses pembuatan keris di Museum Keris Nusantara. Mpu Anjang Pratama dan dua panjak sedang menempa besi yang akan dijadikan keris. (TribunStyle.com/Sinta Manilasari)

Tepat pukul 19.00 WIB, ritual doa-doa dilantunkan dalam kirab atau selametan, menjadi pembuka sebelum api di prapen benar-benar bekerja.

Di depan tungku, Empu Anjang Pratama bersama para panjak menundukkan kepala, memohon kelancaran dalam setiap tahapan yang akan dijalani.

Sebelum menyentuh besi, mereka lebih dulu menyucikan diri, dimulai dengan membasuh wajah, tangan, dan kaki dibasuh dengan air bunga.

Kemudian tungku prapen dinyalakan dengan menggunakan arang kayu jati untuk mendorong suhu hingga ribuan derajat celcius.

Sehingga prapen dapat membakar logam-logam bahan baku keris.

Ada tiga jenis logam yang digunakan untuk bahan baku keris yakni besi, baja, dan pamor atau nikel. 

"Arang kayu jati yang bisa menghasilkan panas hingga 1500 derajat celcius.

Meterial dari bakal bilah keris sendiri ada tiga, yaitu besi, baja dan nikel.

Tiga percampuran logam ini akan diproses di prapen dengan suhu mencapai 1500 celcius." ungkap Putri salah satu pemandu di Museum Keris Nusantara pada TribunStyle.com pada Jumat, 24/4/2026.

Dari dalam tungku, logam yang telah membara diangkat, kemudian ritme keras mulai terdengar.

Denting palu bersahutan, bunga api meloncat-loncat, seiring dengan besi dipukul, dilipat, lalu dipukul kembali.

Proses pembuatan keris di Museum Keris Nusantara.

Mpu Anjang Pratama dan dua panjak sedang menempa besi yang akan dijadikan keris.
Proses pembuatan keris di Museum Keris Nusantara. Mpu Anjang Pratama dan dua panjak sedang menempa besi yang akan dijadikan keris. (TribunStyle.com/Sinta Manilasari)

Mpu Anjang dan dua panjak bekerja dalam irama, proses ini tak terjadi sekali dua kali saja, melainkan berulang bahkan hingga ribuan kali.

Setiap lipatan menyimpan cerita, dari proses panas dan penuh tekanan itu, justru lahir keindahan yang halus dan sarat filosofi.

"Proses pemanasan yang pertama adalah material besi.

Proses pembuatan keris sendiri merupakan seperti proses kehidupan manusia.

Proses tempa, lipat dilakukan berulang ratusan bahkan puluhan ribu kali hingga besi terbentuk menjadi batang besi." cerita Putri tepat pada saat Mpu Anjang mengeluarkan bilah besi dari dalam tungku.

Kemudian proses terus dilanjutkan hingga keris disebut dengan kodokan.

"Calon bakal bilah keris yang disebut dengan kodokan, akan terus ditempa hingga menjadi bentuk keris yang diinginkan." ujar Putri.

Rangkaian proses kemudian ditutup dengan selametan atau berkatan.

"Keris kemudian direndam di cairan arsenikum yang disebut dengan proses pewarangan.

Keris diberikan perabot, berupa warongko, jejeran, pendok, mendak, selut dan juga ukiran lainnya.

Setelah pembuatan bilah dan perabotnya selesai, Mpu bersama para panjak dan masyarakat melakukan sesaji akhir yang disebut nyepuh." ujar Putri, mengakhiri rangkaian kisah kelahiran sebilah keris baru.

Di balik bara, lipatan, dan ribuan kali tempa, tersimpan satu hal yang tak selalu terlihat.

Yakni kesabaran, ketekunan, dan keyakinan dari Mpu dan para panjaknya.

Sebilah keris bukan hanya hasil dari panas dan logam, tetapi juga dari doa dan perjalanan panjang yang menyertainya.

***

(TribunStyle.com/Sinta Manila)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.