Tolak Karangan Bunga, Prof Wahyuddin Halim : Tanpa Gratifikasi, Tetapi Memiliki Gravitasi Yang Kuat
Saldy Irawan April 28, 2026 05:22 PM

TRIBUN-GOWA.COM — Prof Drs Wahyuddin Halim, M.A., M.A., Ph.D resmi dikukuhkan sebagai guru besar dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Jalan HM Yasin Limpo, Romangpolong, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (28/4/2026).

Pengukuhan tersebut tak hanya menarik perhatian dari sisi pidato ilmiah.

Tetapi juga sikap Wahyuddin yang menolak karangan bunga ucapan selamat.

Pantauan di lokasi, terlihat hanya beberapa karangan bunga ucapan di bagian samping depan aula

Tetapi tak terlihat ucapan khusu untuk ke prof Wahyuddin Halim

Ia menilai tradisi tersebut tidak relevan dalam konteks akademik.

“Pidato pengukuhan seharusnya menonjolkan substansi akademik, bukan hal-hal simbolik yang justru memakan biaya besar,” tegasnya.

Wahyuddin bahkan menyebut momentum pengukuhannya sebagai bentuk “tanpa gratifikasi, tetapi memiliki gravitasi yang kuat”.

Menurutnya, kehadiran tamu undangan semestinya didorong oleh ketertarikan pada gagasan, bukan sekadar formalitas seremoni.

“Antusiasme itu lahir dari ide dan pemikiran, bukan simbol-simbol,” ujarnya.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa agar tidak menjadikan gelar akademik sebagai tujuan akhir.

“Akademisi itu tidak pernah berhenti. Mengajar, meneliti, menulis, dan mengabdi harus terus berjalan,” katanya.

Ia menyoroti fenomena mahasiswa yang hanya berfokus pada capaian nilai.

“IPK tinggi tidak cukup jika tidak dibarengi wawasan dan kemampuan berpikir kritis,” lanjutnya.

Wahyuddin turut berbagi cerita soal dorongan yang membuatnya meraih jabatan profesor.

Menurutnya, peran keluarga, terutama sang istri, menjadi motivasi kuat.

“Barangkali yang paling kuat itu istri, karena dia melihat kemampuan dan peluang saya. Juga orang tua serta kolega yang terus mendorong,” tuturnya.

Ia mengaku sempat menunda pengurusan jabatan akademik tersebut.

Namun, dorongan dari orang-orang terdekat membuatnya menyadari bahwa capaian itu bukan hanya milik pribadi.

“Kalau saya menunda, saya seperti menghalangi orang lain ikut merasakan kebahagiaan. Jabatan profesor ini bukan hanya membahagiakan saya, tetapi juga keluarga dan kolega,” ucapnya.

 

Laporan TribunGowa.com, Sayyid Zulfadli 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.