TRIBUNNEWS.COM - Keberadaan perlintasan liar menjadi sorotan setelah terjadi kecelakaan antara KRL Commuter Line jurusan Cikarang nomor PLB 5568A dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026).
Perlintasan sebidang itu berada di Jalan Ampera, Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat.
Lokasinya sekitar 300 meter dari Stasiun Bekasi Timur serta Jalan Pahlawan Bulak Kapal sekitar satu kilometer dari titik kejadian.
Akibat kecelakaan tersebut, Polda Metro Jaya mencatat jumlah korban tewas mencapai 15 orang pada Selasa (28/4/2026) sore.
Awalnya, di perlintasan sebidang Jalan Ampera, telah lebih dulu terjadi kecelakaan yang melibatkan KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta dengan taksi Green SM.
Akibat insiden tersebut, lalu lintas kereta menuju Cikarang terganggu, sehingga KRL Lintas Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur.
Tak berselang lama, KA Argo Bromo Anggrek dari arah Jakarta masuk ke jalur Stasiun Bekasi Timur menghantam KRL yang sedang tertahan di lokasi.
Ternyata rencana pembangunan flyover di dua perlintasan sebidang, sudah ada sejak lama.
Namun, pembangunan flyover di lokasi tersebut belum dapat terealisasi.
"Konsep untuk membangun flyover ini sudah lama lah, karena memang kalau dari visi rasio gitu, dari jumlah kendaraan yang melintas itu harusnya memang sudah teknik lalu lintasnya harusnya sudah flyover," ungkap Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, Selasa, dikutip dari TribunJakarta.com.
Tri menyampaikan, Pemkot Bekasi sudah melakukan penganggaran untuk proses pembebasan lahan proyek pembangunan flyover.
Baca juga: Sopir Taksi yang Terlibat dalam Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Selamat, Kini Diamankan Polisi
Pemkot Bekasi hanya dimandatkan terkait proses pembebasan lahan.
Sementara, untuk pembangunannya merupakan anggaran dari pemerintah pusat.
"Di 2025 sudah kita anggarkan Rp50 miliar, 2026 kita selesaikan lagi 56 miliar. Jadi sekarang kurang lebih sudah 106 miliar untuk pembebasan lahannya," jelas Tri.
Presiden Prabowo Subianto menyiapkan anggaran hingga Rp4 triliun untuk memperbaiki ribuan perlintasan kereta api yang tidak terjaga di seluruh Indonesia.
Langkah ini diambil sebagai respons pemerintah usai insiden kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi Timur.
Saat mengunjungi para korban di RSUD Bekasi, Prabowo mengatakan anggaran besar tersebut dialokasikan demi menjamin keselamatan masyarakat di jalur transportasi massal.
Keputusan ini didasari atas temuan terdapat sekitar 1.800 titik perlintasan kereta api di Pulau Jawa yang masih tidak memiliki penjagaan memadai.
"Apakah dengan dilakukan pos jaga atau flyover, nanti pelaksanaannya kita tunjuk, kita perhitungkan sekitar hampir Rp4 T, demi keselamatan dan karena kita sangat penting, kita sangat perlu kereta api, ya kita harus keluarkan itu, sekarang saatnya," kata Prabowo, Selasa.
Khusus untuk wilayah Bekasi, Prabowo telah menyetujui usulan pemerintah daerah untuk pembangunan jalan layang untuk mengurai kepadatan dan menghindari kecelakaan di perlintasan sebidang.
"Pemerintah daerah Bekasi telah mengajukan dibuat flyover karena bekasi ini juga padat, dan keperluan kereta api itu sangat penting, sangat mendesak. Jadi saya udah setujui segera dibangun flyover langsung oleh bantuan presiden," jelas Prabowo.
Fadli (25), saksi mata kecelakaan kereta di sekitaran area Stasiun Bekasi Timur menceritakan kronologi kejadian.
Fadli merupakan warga sekitar perlintasan kereta di Jalan Ampera, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi.
Ketika itu, Fadli baru saja pulang kerja.
Baca juga: Menanti Kabar di RS Polri, Keluarga Korban Kecelakaan KA Bekasi Tunjukkan Foto Keponakan
Fadli melihat ada satu unit mobil listrik milik salah satu perusahaan taksi berwarna hijau mengalami mogok di tengah perlintasan kereta.
Menurutnya, mobil listrik mengalami mogok sebelum ada tanda-tanda akan adanya kereta yang melintas.
Namun, kata Fadli, upaya beberapa warga untuk mendorong mobil tersebut tidak berhasil karena kendaraan roda empat itu sulit digerakkan.
"Dari arah Timur, dari Bulak Kapal, kereta KRL masuk, nah nabraklah (kereta tabrak taksi). Sekitar 5-10 meter itu berhenti kereta," ujarnya kepada Tribunnews.com, Selasa.
Fadli melanjutkan, ada rangkaian KRL di jalur 1 yang hendak mengarah dari Barat ke Timur.
Katanya, rangkaian KRL dari arah Barat tersebut terlihat berhenti di Stasiun Bekasi Timur karena melihat adanya kerumunan warga yang menghalangi perlintasan di jalur 1.
"Kan dari sana ada kereta juga jalur satu dari arah Barat, ada KRL di stasiun. Kondisinya di sini (perlintasan kereta Jalan Ampera) kan ramai, orang ngumpul di sini lihat mobil ditabrak."
"Di jalur satu itu yang tadinya KRL mau berangkat, jadi enggak berangkat," tambah Fadli.
Tak disangka beberapa menit kemudian, menurutnya, ada rangkaian kereta jarak jauh yang juga melintas di jalur 1 dari arah Barat menuju ke Timur dan hendak melewati Stasiun Bekasi Timur.
Kereta jarak jauh itu, kata Fadli, langsung menghantam KRL yang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, meninjau langsung lokasi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).
AHY menyampaikan ucapan bela sungkawa terhadap para korban yang meninggal dan luka-luka.
Dalam kesempatan itu, AHY juga memaparkan data terbaru korban hingga Selasa siang.
Ia menyebut jumlah korban meninggal dunia mencapai 15 orang, sementara puluhan lainnya masih menjalani perawatan.
"Update sampai dengan jam satu siang tadi, ada 15 orang yang meninggal dunia dan 88 orang yang masih dirawat, termasuk ada 3 yang tadinya terjepit bisa kita evakuasi dan masih dalam perawatan di rumah sakit," paparnya.
(Tribunnews.com/Nuryanti/Igman Ibrahim/Ibriza Fasti Ifhami/Fahdi Fahlevi) (TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar)