BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kebijakan retribusi di sejumlah kawasan pantai di Kota Sungailiat, Kabupaten Bangka, menjadi sorotan setelah dikeluhkan mantan Bupati Bangka periode 2006–2013, Yusroni Yazid.
Dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-260 Kota Sungailiat, Yusroni menilai hampir seluruh pantai kini menerapkan biaya masuk, namun belum jelas pengelolaan serta kontribusinya terhadap pendapatan daerah.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka, Rismi Wira Madonna, menegaskan bahwa pada prinsipnya pantai merupakan ruang publik yang tidak dikenakan biaya.
Namun demikian, ia menjelaskan bahwa pungutan dapat diberlakukan jika kawasan tersebut dikelola sebagai objek usaha pariwisata, baik oleh pemerintah, swasta, maupun pihak lainnya.
“Ketika dijadikan tempat jasa usaha pariwisata, memang bisa dikenakan retribusi dalam usaha kita meningkatkan pendapatan asli daerah sepanjang pungutan itu tidak memberatkan masyarakat,” kata Wira, Selasa (28/4/2026).
Pasalnya kata dia, dengan retribusi ini maka pelan-pelan dapat dilakukan penataan terhadap pantai-pantai tersebut.
“Bisa dibayangkan kalau kita mau menata kawasan pantai, dan tidak ada dana operasionalnya, agak sulit saya kira di jaman sekarang,” jelasnya.
Kendati demikian, pihaknya tidak membiarkan pungutan tersebut sampai memberatkan masyarakat, termasuk menindak orang yang melakukan pungutan liar (pungli).
“Sudah ada Satgas Saber Pungli yang terlibat dalam tim yaitu untuk menindak kalau memang ada laporan masyarakat yang melakukan pungutan liar yangtidak jelas,” imbuhnya.
Baca juga: Mantan Bupati Bangka Yusroni Yazid Soroti Sampah dan Pantai Berbayar di HUT ke-260 Sungailiat
Di hari yang bersejarah itu, sosok tokoh pendahulu yang pernah memimpin Kabupaten Bangka dari periode 2006-2013 juga turut hadir.
Dialah Yusroni Yazid, mantan Bupati Bangka dua periode yang turut datang dalam paripurna istimewa HUT Ke-260 Kota Sungailiat di Kantor DPRD Bangka, Senin (27/4/2026).
Mengenakan pakaian adat melayu terang berwarna hijau muda, Yusroni turut menerima potongan tumpeng yang menjadi simbol istimewa peringatan hari bersejarah tersebut.
Tak sekedar hadir, saat diwawancarai awak media, dirinya juga turut memberikan sejumlah pernyataan di momen HUT Kota Sungailiat, termasuk soal Kota Sungailiat dulu dan kini.
“Lebih bagus sekarang daripada dulu. Kalau tata kota enggak banyak berubah,” ungkapnya.
Dirinya mengungkapkan bahwa Kota Sungailiat memiliki suatu hal yang membanggakan yakni mempunyai jalan lurus membentang hampir sepanjang 5 km.
Jalan yang dimaksud yakni Jalan Jenderal Sudirman Sungailiat yang membentang mulai dari Gedung Juang hingga Taman Kota Sungailiat.
“Di Bangka Belitung ini hanya ada di Sungailiat, jarang ketemu kota seperti itu dan dibangun dua jalur. Kalau ditata tengahnya itu dengan tanaman yang bagus, rapi dan segalan macam, itu ikon yang luar biasa,” tuturnya.
Kemudian, dirinya juga turut membahas soal masalah sampah yang cukup krusial di Kota Sungailiat yang menurutnya sangatlah menganggu. Kata dia, masalah sampah terjadi salah satunya disebabkan adanya pertambahan jumlah penduduk.
“Jaman saya dulu mungkin penduduknya belum terlalu padat seperti sekarang. Sekarang sudah padat kan, sehingga permasalahan sampah ini sangat krusial,” kata Yusroni.
Kendati demikian, menurutnya permasalahan sampah tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah daerah.
Justru, keterlibatan seluruh masyarakat yang diharapkan ikut andik dalam mengatasi permasalahan tersebut.
“Makanya saya bilang ke Pak Bupati, coba di tata dari rumah tangga, individu yang memiliki kesadaran untuk pengolahan sampah dari mulai rumah tangga,” ujarnya.
Lalu, hal itu dapat didukung dengan kesadaran di tingkat RT, Lingkungan yang perlu diberdayakan. Seperti misalnya di kota-kota besar yang sudah memiliki bank sampah serta menjadikan sampah memiliki nilai ekonomis.
“Kan dapat dipilah, pemilahan di rumah tangga antara sampah organik, sampah plastik dan lain-lain yang punya nilai kalau dijual,” sambungnya.
Diakuinya, hal itu telah disampaikan ke Bupati Bangka saat ini dan mendapat respon positif. Walau begitu, menurutnya solusi permasalahan sampah di Kota Sungailiat ini tidak dapat dilakukan secara instan dan perlu kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Bahkan, jika sampah-sampah tersebut dapat dikelola menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis tinggi serya strategi, maka tidak menutup kemungkinan ada investor yang datang.
“Kalau punya nilai strategis dan ekonomis yang tinggi, pasti ada investor ngelola itu. Datang investor ke sini, malah jadi pendapatan daerah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dirinya juga berbicara soal pantai-pantai yang banyak terbentang di Kota Sungailiat sehingga dapat menjadi potensi untuk pariwisata di Kabupaten.
Namun dirinya menyampaikan keluhan lantaran saat ini semua pantai yang ada di Kota Sungailiat yang masuknya sudah berbayar atau berbiaya.
“Orang ngeluh, jaman bapak (saya-red) dulu, tidak semua pantai berbayar, kini berbayar semuanya. Itu jadi masalah, siapa yang ngelolanya, berapa pendapatan untik daerah, inikan belum jelas, perlu kejelasan itu, kerjasamanya bagaimana bentuknya,” tuturnya.
Kata dia, di Kota Sungailiat, dulunya saat masa kepemimpinannya, hanya Pantai Matras yang dibuat berbayar atau berbiaya masuk.
“Sekarang tiap-tiap pantai ada yang jaganya. Nah siapa yang ngelolanya, ada pribadi, ada kelompok, ada perorangan, ada desa segala macam. Harus ada regulasinya supaya ditertibkan,” tambahnya. (Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)