TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Anak empat tahun yang tewas karena digigit anjing di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali, bernama Ni Made Sukma Diatmika, asal Banjar Ulun Danu, Desa Songan.
Rupanya korban tewas bukan karena digigit satu anjing, melainkan diduga ada sekitar tiga ekor anjing liar. Masyarakat yang resah akan keberadaan anjing liar di seputaran lokasi, telah meminta dinas terkait melakukan eliminasi.
Per Selasa 28 April 2026, sudah ada sembilan ekor anjing liar yang telah dieliminasi oleh Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli.
Baca juga: TANGIS Ayah Pecah Anaknya Meninggal Dunia Usai Digigit Anjing di Songan Bangli, Ini Kronologinya!
Baca juga: DENCIK Panggilan Menteri LH Jumhur Tatkala Sekolah di SMPN 1 & SMAN 1 Denpasar Bali, Fokus Sampah!
Kerabat korban, I Nyoman Muliawan, Selasa 28 April 2026 mengatakan bahwa lokasi kejadian berada di warung ibu korban yang berada di jalur pendakian Gunung Batur, yang dikenal memang sepi.
Saat itu, seusai dimandikan ibunya, korban mendengar ada anjing ribut, lalu ia pun keluar untuk melihat. Muliawan menuturkan tidak ada yang tahu secara persis, terkait bagaimana korban bisa digigit.
Namun informasinya, ada yang melihat anak tersebut dikerubungi sekitar tiga ekor anjing. Di mana semua anjing tersebut merupakan anjing liar.
"Katanya ada yang melihat ada sekitar 3 ekor yang mengerubuti korban. Salah satu bulunya dilihat warna putih,”ucapnya.
Pasca kejadian itu, korban yang merupakan anak paling bungsu dari lima saudara ini, mengalami luka serius pada leher dan wajah. “Setelah dilarikan ke rumah sakit, dinyatakan meninggal dunia,” ujarnya.
Pasca dinyatakan meninggal dunia, pada Senin sekitar pukul 22.00 Wita, jenazah korban telah dimakamkan di Setra Desa Songan.
"Kami tidak menyangka kalau korban akan pergi dengan secepat itu, dan dengan jalan yang memilukan,” ujarnya dengan nada sedih.
Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sarma mengatakan, pihaknya bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangli telah turun ke TKP.
Di sana, pihaknya mendapati warga setempat resah terhadap keberadaan anjing liar di seputaran lokasi. Mereka pun meminta agar anjing liar tersebut dieliminasi.
Dan, pihaknya telah melakukan eliminasi. Total ada sembilan ekor anjing liar yang telah dieliminasi. "Tidak ada indikasi rabies.
Eliminasi dilakukan atas permintaan masyarakat untuk mengurangi risiko penularan rabies dan gangguan keamanan," ujarnya. (*)