Trump Mengacuhkan Proposal Damai Iran, Apakah Perang Dingin Bakal Kembali Terjadi?
Nuryanti April 28, 2026 07:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dilaporkan menolak mentah-mentah proposal perdamaian terbaru yang diajukan oleh Iran.

Alasannya klasik, Iran dianggap masih "main-main" soal program nuklirnya.

Seorang pejabat tinggi Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump tidak sreg dengan poin-poin yang ditawarkan Iran.

Berdasarkan informasi dari internal Iran, Teheran ingin agar pembahasan soal nuklir ditunda terlebih dahulu.

Mereka lebih memilih fokus untuk mengakhiri gencatan senjata dan memulihkan jalur perdagangan di Selat Hormuz yang saat ini macet total.

Namun, Washington punya prinsip berbeda.

Bagi Trump dan tim keamanan nasionalnya, urusan nuklir adalah "menu utama" yang harus dibereskan di awal.

Tanpa ada komitmen nuklir yang jelas, AS enggan menarik pasukannya atau mencabut blokade pelabuhan.

Akibatnya, upaya mediasi yang dilakukan oleh Pakistan pun kini berada di ujung tanduk.

Padahal, Pakistan disebut-sebut sudah bekerja keras menjembatani ego kedua negara.

Baca juga: Kanselir Jerman Ejek AS telah Dipermalukan Iran, Teheran: Fakta yang Diakui Barat

Kabar batalnya kunjungan utusan khusus AS, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, ke Islamabad akhir pekan lalu menjadi sinyal kuat bahwa jalur diplomasi sedang mengalami "lampu merah".

Dengan adanya penolakan tersebut, akankah Perang Dingin bakal kembali terjadi?

Situasi yang Mirip dengan Perang Dingin

Konflik Iran ini disebut-sebut telah memasuki fase yang sangat mirip dengan Perang Dingin yang terjadi pada tahun 1947 hingga 1991 antara Blok Barat dengan Blok Timur.

Kebuntuan pembicaraan damai yang tegang ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat.

Sehingga, kenaikan harga energi tampaknya pasti akan terjadi selama berbulan-bulan — dan perang terbuka dapat meletus kapan saja.

Beberapa pejabat AS mengatakan kepada Axios bahwa mereka khawatir Amerika akan terseret ke dalam konflik beku tanpa perang dan tanpa kesepakatan.

Dalam skenario ini, AS harus mempertahankan pasukannya di Iran selama berbulan-bulan lagi.

Selat Hormuz akan tetap tertutup, blokade AS akan tetap berlaku, dan kedua belah pihak akan terus menunggu pihak lain untuk menyerah atau menembak lebih dulu.

"Dengan pemilihan paruh waktu bulan November yang kini tinggal enam bulan lagi, konflik yang membeku adalah hal terburuk bagi Trump secara politik dan ekonomi," kata sebuah sumber yang dekat dengan Presiden.

Trump kini berada di situasi bimbang, antara melancarkan serangan militer baru atau menunggu untuk melihat apakah "tekanan maksimum" yang diberlakukannya akan membuat Iran melunak.

Baca juga: 21 Jam Tanpa Hasil! Iran Mengadu ke Putin, Sebut AS Terlalu Banyak Mau

"Yang dipahami semua (pemimpin Iran) hanyalah bom," kata seorang penasihat yang menirukan ucapan Trump.

"Saya akan menggambarkannya sebagai orang yang frustrasi tetapi realistis."

"Dia tidak ingin menggunakan kekerasan. Tetapi dia tidak akan mundur," lanjut penasihat tersebut.

Beberapa penasihat senior Trump juga ingin sang Presiden mempertahankan blokade AS terhadap Selat Hormuz untuk saat ini.

Tak hanya itu, para penasihat ingin memberlakukan lebih banyak sanksi ekonomi untuk menekan rezim Iran — sebelum kembali melakukan pengeboman.

"Tingkat sanksi terhadap Iran sangat luar biasa, tekanan terhadap Iran sangat luar biasa, dan saya pikir lebih banyak lagi yang dapat diterapkan," kata Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang juga penasihat keamanan nasional Trump, dalam sebuah wawancara dengan Fox News.

"Saya berharap seluruh dunia akan bergabung dengan kami dalam sanksi berat dan hal-hal lain yang kami lakukan untuk menekan rezim tersebut agar membuat konsesi yang tidak ingin mereka buat," lanjutnya.

Trump saat ini telah memberlakukan blokade setelah Iran menutup Selat Hormuz dan mulai mengenakan biaya tol kepada kapal tanker yang mengangkut minyak keluar dari Teluk Persia.

Militer AS memaksa kapal-kapal berbendera Iran yang membawa minyak negara itu untuk kembali ke pantai, tetapi beberapa di antaranya berhasil lolos.

AS juga telah menyita kapal tanker lain yang membawa minyak mentah Iran dan diduga "barang selundupan" yang menurut AS dapat digunakan Iran untuk perang.

Trump mengatakan dia tidak akan mencabut blokade sebelum Iran menyetujui kesepakatan yang mengatasi kekhawatiran tentang program nuklirnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent telah meningkatkan kampanye sanksi tekanan maksimum yang menargetkan lembaga keuangan, perusahaan pelayaran, dan bahkan kilang minyak "kecil" di China yang memproses minyak Iran yang dikenai sanksi.

"Ini adalah tekanan maksimum di mana-mana dan dari semua sudut," ucap seorang pejabat senior pemerintahan.

"Itu bisa berarti tindakan militer juga. Mungkin juga tidak. Itu terserah presiden," ungkapnya.

Para pejabat pemerintahan Trump dan sekutunya percaya bahwa sanksi tersebut dapat membuat Iran tidak mungkin lagi menyimpan lebih banyak minyak.

Sehingga, kata para pejabat, Iran harus menutup sumur-sumur minyaknya — yang menyebabkan kerusakan ekonomi besar.

Namun, para analis yang mengkritik perang tersebut mengatakan bahwa hal itu tidak akan berhasil untuk mendapatkan konsesi dari Iran.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.