Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Banda Aceh
TribunGayo.com, BANDA ACEH - Dibawah bayang-bayang arsitektur cinta, Gunongan, malam itu, Senin, 27 April 2026, puisi tidak sekadar dibacakan ia seperti dipanggil pulang ke rahim sejarahnya sendiri.
Di pelataran sunyi yang pernah menjadi saksi kisah kasih Sultan Iskandar Muda dan permaisurinya Putro Phang, Taufiq Ismail duduk, membawa suara yang telah menempuh zaman.
Ia membuka dengan “Acehku, Yang” puisi yang ditulisnya pada 2005, ketika luka Aceh masih basah.
Larik-lariknya seperti doa yang disusun dari nama-nama besar: Hamzah Fansuri, Daud Beureueh, hingga Ali Hasjmy.
Nama-nama itu bukan sekadar disebut, tetapi dihadirkan sebagai ruh yang menghidupkan kembali ingatan kolektif Aceh.
Kemudian, dari tahun yang lebih jauh 1989 ia menghidupkan “Bintang Gemerlap Puisi Perlawanan".
Puisi itu menjelma semacam monumen lisan bagi “Hikayat Perang Sabi”, karya Teungku Chik Pante Kulu, yang pernah menjadi nyala dalam dada rakyat Aceh melawan kolonialisme.
Dalam suara Taufiq, hikayat itu seperti bangkit lagi bukan sebagai teks lama, melainkan sebagai energi yang terus berdenyut.
Malam pun bergerak, dan panggung tak lagi milik satu generasi.
Puisi karya Taufiq Ismail “Hamzah Fansuri, Setitik Bintang yang Mengirim Cahaya” dibacakan bergantian oleh suara anak-anak hingga remaja sebuah lintasan usia yang memperlihatkan bahwa sastra tidak pernah benar-benar tua.
Ia selalu menemukan tubuh baru untuk hidup.
Orasi puisi dari para penyair dan guru Zul Kirbi, Salman Yoga, Asmira Dieni, Zuliana Ibrahim, hingga Vera Hastuti membawa puisi Taufiq Ismail lainnya.
“Syair untuk Seorang Petani dari Waimital…” menjadi lebih dari sekadar teks: ia berubah menjadi suara tanah, suara kerja, suara pulang.
Ketika musikalisasi puisi juga ciptaan Taufiq Ismail, berjudul "Doa" dan "Rawa Puing di Lhok Nga' mengalun lewat kolaborasi Devie Matahari, Rahmad Sanjaya, Wahyu Glen, dan Cek Nas, suasana menjadi cair, puisi tak lagi berdiri sendiri, tetapi berkelindan dengan bunyi, ritme, dan rasa.
Lalu hadir LK Ara, sahabat lama Taufiq, yang membacakan puisi tentang pertemuan imajiner sang penyair dengan Iskandar Muda di Taman Putroe Phang sebuah jembatan antara sejarah, mitos, dan kenangan personal.
Menjelang akhir, panggung seperti mencapai nadinya yang paling dalam.
Fikar W Eda bersama grup Bur’am membacakan “Sobekan Perca Tanah Gayo” dan “Kencing Cukong”.
Puisi-puisi itu tidak lagi bicara romantika, tetapi luka ekologis—tentang tanah yang digerus, tentang alam yang merintih. Di sini, puisi menjadi peringatan.
“Puitika Tanah Rencong” demikian acara ini dinamai bukan sekadar peristiwa sastra.
Ia adalah pertemuan antara ingatan dan harapan, antara masa lalu dan masa depan, yang difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Aceh.
Direktur Film, Musik dan Seni, Irini Dewi Wanti menyebut kehadiran Taufiq sebagai kehormatan besar.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, melihat malam itu sebagai tanda bahwa Aceh memiliki ruang-ruang hidup bagi sastra, dan ruang itu harus terus dijaga, dihidupkan, dan dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi Taufiq sendiri, Aceh adalah rindu yang lama ditahan. “Saya rindu sekali baca puisi di Aceh,” katanya pelan, didampingi Ati Ismail.
Malam itu, di Gunongan, rindu itu akhirnya menemukan suaranya. (*)
Baca juga: Taufiq Ismail Baca Puisi di SMA Fajar Harapan Banda Aceh, Pertemuan Batin Antara Kata dan Sejarah
Baca juga: Penyair Indonesia Taufiq Ismail Berziarah ke Makam Budayawan Aceh Ali Hasjmy
Baca juga: Sastrawan Besar Indonesia Taufiq Ismail Hadir di Banda Aceh, Isi “Puitika Tanah Rencong”