TRIBUNJAKARTA.COM - Jakarta kembali menjadi ruang diskusi penting bagi pelaku industri dalam merespons pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI).
Di tengah euforia teknologi, muncul kesadaran bahwa AI saja tidak cukup tanpa sistem yang aman dan terintegrasi.
Di ibu kota, para pemimpin bisnis dan teknologi berkumpul membahas tantangan baru yang muncul seiring penggunaan AI di berbagai sektor.
Diskusi yang digelar di kawasan perkantoran teknologi ini menyoroti bagaimana perusahaan mulai menghadapi persoalan sistem yang terfragmentasi, data yang tersebar, serta kontrol yang semakin kompleks.
Penggunaan banyak tools tanpa integrasi yang jelas justru berpotensi menimbulkan risiko baru, terutama dari sisi keamanan dan tata kelola.
Seiring ekspansi perusahaan, kebutuhan operasional juga ikut berkembang.
Tim kerja menjadi lebih besar dan tersebar, alur kerja makin kompleks, serta ketergantungan pada berbagai platform digital meningkat.
CEO Virtuenet by Prasetia, Arya Setiadharma menyebut, kondisi ini kerap menimbulkan hambatan, mulai dari koordinasi yang tidak efektif hingga meningkatnya potensi kebocoran data akibat sistem yang tidak terintegrasi.
“Semakin banyak perusahaan mengadopsi AI untuk meningkatkan produktivitas, semakin penting juga bagi mereka untuk memastikan bahwa sistem yang digunakan tetap aman dan terkontrol,” ujar Arya Setiadharma, Selasa (28/4/2026)
Menurutnya, keamanan kini tidak lagi dapat dipandang sebagai fitur tambahan, melainkan fondasi utama dalam membangun sistem operasional yang scalable.
Dalam diskusi tersebut, muncul pandangan bahwa kolaborasi saja tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan operasional modern.
Perusahaan dituntut mengadopsi pendekatan yang lebih menyeluruh.
Pendekatan itu mencakup kolaborasi yang saling terhubung, workflow yang terstruktur, serta sistem keamanan dan governance yang kuat.
Dengan demikian, operasional tidak hanya berjalan efisien, tetapi juga memiliki kontrol dan visibilitas yang lebih baik.
Pengelolaan workflow yang rapi menjadi salah satu sorotan.
Sistem kerja yang terstruktur dinilai mampu membantu perusahaan dalam mengelola tugas, menyelaraskan kerja tim, serta memantau progres secara lebih transparan.
Dengan pendekatan ini, potensi miskomunikasi dalam eksekusi dapat ditekan, sementara produktivitas tim meningkat secara signifikan.
Di tengah meningkatnya penggunaan AI dan aplikasi berbasis cloud, aspek keamanan menjadi perhatian utama. Perusahaan tidak hanya dituntut cepat beradaptasi, tetapi juga cermat dalam mengelola risiko.
“Banyak organisasi saat ini fokus pada adopsi teknologi, namun belum sepenuhnya memikirkan bagaimana mengelola risiko yang muncul dari penggunaan berbagai tools tersebut,” kata Tina Zhang, Country Manager Indonesia & Malaysia, SealSuite.
Ia menambahkan bahwa tanpa governance yang tepat, kompleksitas sistem justru dapat menjadi hambatan dalam scaling bisnis.
Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan kecerdasan artifisial tidak boleh berkembang tanpa tata kelola yang kuat.
Lonjakan penggunaan AI dinilai telah melampaui kesiapan regulasi, sehingga berpotensi memicu berbagai risiko, mulai dari disinformasi hingga kebocoran data.
“Transformasi digital bergerak dengan kecepatan eksponensial dan pemanfaatan data serta kecerdasan artifisial bukan lagi wacana, bukan lagi sesuatu yang berada di masa depan, tetapi sesuatu yang present, sesuatu yang berada dan kita hadapi setiap hari di hari-hari ini,” ujar dikutip dari laman Komdigi.
Nezar juga menyoroti masifnya penggunaan AI generatif yang kini merambah berbagai aktivitas, termasuk produksi konten digital.
“Makin lama makin halus, makin smooth, dan kadang-kadang kita sulit membedakan apakah ini asli atau bukan. Maksudnya asli apakah dibuat oleh manusia atau dibuat oleh mesin,” ungkapnya.
Fenomena ini dikenal sebagai synthetic reality atau realitas sintetis, di mana hasil produksi AI semakin sulit dibedakan dengan karya manusia.
Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius dalam menjaga kualitas informasi publik.
Baca juga: Kasus Aduan JAKI Direspons Pakai AI, Komisi A Heran PPSU Disuruh Tertibkan Parkir Liar
Baca juga: Rismon Sianipar Bantah Fitnah Jusuf Kalla, Sebut Video Hasil Rekayasa AI
Baca juga: Beda dari Rekannya Pakai Foto AI, Muklisin Petugas PPSU Rajin Bagikan Kinerjanya hingga Tuai Pujian