TRIBUNNEWS.COM - Sepak bola Italia kembali diguncang skandal, kali ini melibatkan perangkat wasit dan penggunaan VAR yang diduga tidak independen.
Situasi ini bukan sekadar krisis internal, tetapi berpotensi menyeret dampak besar hingga ke level internasional.
Menurut laporan media Italia, UEFA memandang serius perkembangan ini, terutama jika ada campur tangan politik dalam tubuh Federasi Sepak Bola Italia.
Ancamannya tidak main-main: Italia bisa kehilangan status sebagai tuan rumah bersama Euro 2032.
Tak hanya itu saja, klub-klub Serie A juga berisiko dilarang tampil di kompetisi Eropa.
Kasus ini bermula dari investigasi terhadap kepala wasit Serie A, Gianluca Rocchi, yang diduga terlibat manipulasi keputusan VAR.
Ia dituduh memengaruhi keputusan dalam pertandingan, sesuatu yang jelas melanggar protokol karena VAR seharusnya independen.
Salah satu bukti kunci adalah video yang menunjukkan intervensi dari luar ruang VAR saat proses peninjauan berlangsung.
Dalam rekaman tersebut, terlihat adanya komunikasi yang diduga mengarahkan keputusan wasit di lapangan.
Tak hanya Rocchi, beberapa nama lain seperti Andrea Gervasoni hingga sejumlah wasit Serie A juga ikut terseret dalam penyelidikan.
Bahkan, jumlah pihak yang terlibat disebut bisa terus bertambah seiring penyelidikan yang dilakukan.
Baca juga: Scudetto Diguncang Skandal, Respons Anyep Pelatih Inter Milan soal Pengaturan Wasit di Liga Italia
Skandal wasit ini muncul di Italia beberapa minggu setelah kosongnya jabatan presiden FIGC yang ditinggalkan Gabrielle Gravina.
Seperti diketahui, Grabriele Gravina mengundurkan diri setelah kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia.
Mencuatnya skandal dengan kosongnya Presiden FIGC, lantas mendorong Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, mengusulkan satu ide.
Yakni, tentang kemungkinan penunjukan komisaris eksternal untuk mengelola federasi.
Ide inilah yang kemudian dianggap sebagai langkah berbahaya, dan jadi perhatian oleh pihak UEFA, seperti dilaporkan Corriere della Sera.
Badan sepak bola Eropa itu secara tegas menolak segala bentuk intervensi politik dalam federasi nasional.
Jika hal itu terjadi, Italia bisa dianggap melanggar prinsip independensi federasi.
Memiliki Komisaris FIGC, yang ditunjuk oleh CONI, akan secara efektif menempatkan FA Italia di bawah administrasi, skenario yang ingin dihindari UEFA.
Presiden Lega Serie A, Ezio Maria Simonelli, telah berkomunikasi langsung dengan Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, untuk membahas situasi ini.
Jika Italia benar-benar menunjuk komisaris alih-alih melalui pemilihan presiden federasi, konsekuensinya bisa sangat berat.
Saat ini Italia telah mendapatkan status tuan rumah Euro 2032 bersama Turki. Namun adanya intervensi politik ini bisa membuat rencana status tuan rumah dicabut.
Selain terancam kehilangan hak sebagai tuan rumah Euro 2032, klub-klub Italia juga bisa dikeluarkan dari kompetisi Eropa seperti Liga Champions dan Liga Europa.
Situasi ini menjadi alarm keras bagi sepak bola Italia yang sebelumnya juga diguncang kegagalan lolos ke Piala Dunia.
Dalam waktu singkat, reputasi mereka kembali dipertaruhkan.
Di tengah badai ini, pihak Serie A meminta semua pihak menahan diri dan menunggu hasil investigasi resmi.
Namun, tekanan terus meningkat karena dampaknya sudah meluas ke level internasional.
Jika tidak ditangani dengan hati-hati, skandal ini bisa menjadi salah satu krisis terbesar dalam sejarah sepak bola Italia,
Bukan hanya soal integritas pertandingan, tetapi juga masa depan mereka di panggung Eropa dan dunia yang dipertaruhkan.
(Tribunnews.com/Tio)