Identitas Korban Kecelakaan KRL Bekasi yang Teridentifikasi asal Jambi
Mareza Sutan AJ April 28, 2026 10:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Korban kecelakaan kereta api di Bekasi diketahui berasal dari berbagai daerah, termasuk Provinsi Jambi.

Dari total 15 korban meninggal dunia, satu di antaranya adalah Nur Alimantun Citra Lestari (19), warga Pasar Jambi.

Nur Alimantun Citra Lestari termasuk dalam sepuluh jenazah pertama yang berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga.

Sebanyak 10 kantong jenazah korban kecelakaan KRL di Bekasi telah diserahkan kepada pihak keluarga setelah proses identifikasi di RS Polri Kramat Jati, Selasa (28/4/2026) malam.

Penyerahan dilakukan setelah tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri menyelesaikan pencocokan data antemortem dan postmortem.

Sebelumnya, Karodokpol Pusdokkes Polri, Nyoman Eddy Purnama Wirawan, mengumumkan identitas 10 korban yang berada di RS Polri Kramat Jati, yakni:

- Anita Sari (31), Cikarang Barat, Bekasi

- Harum Anjasari (27), Cipayung, Jakarta Timur

- Nur Alimantun Citra Lestari (19), Pasar Jambi

- Faridha Utami (50), Cibitung, Bekasi

- Fika Aknia Pratiwi (23), Cikarang Barat

- Ida Nuraida (48), Cibitung, Bekasi

- Gita Septia Wardani (20), Cibitung, Bekasi

- Fatmawati Rahmayani (29), Bekasi Selatan, Kota Bekasi

- Rinjani Novitasari (25), Tambun Selatan, Bekasi

- Nur Ainia Eka Rahmadhyna (32), Tambun Selatan, Kota Bekasi

Proses Identifikasi

Kepala RS Bhayangkara Tk I Pusdokkes Polri, Brigjen Pol dr Prima Heru Yulihartono, memastikan seluruh tahapan identifikasi telah dilakukan sesuai standar forensik.

Proses identifikasi dilakukan menggunakan data primer seperti sidik jari, serta data sekunder berupa ciri medis dan barang pribadi korban.

Setelah identitas dinyatakan valid, pihak keluarga diarahkan dari ruang antemortem ke ruang forensik untuk proses penyerahan jenazah.

Sementara itu, lima jenazah lainnya masih berada di rumah sakit berbeda, yakni tiga di RSUD Bekasi, satu di RS Bella, dan satu di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menyampaikan bahwa puluhan korban lainnya masih menjalani perawatan.

"Update sampai dengan jam satu siang tadi, ada 15 orang yang meninggal dunia dan 88 orang yang masih dirawat, termasuk ada 3 yang tadinya terjepit bisa kita evakuasi dan masih dalam perawatan di rumah sakit," ujarnya, Selasa (28/4/2026), saat meninjau lokasi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur.

Pemerintah, lanjutnya, akan memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis terbaik.

"Sekali lagi kita berupaya maksimal untuk melakukan penanganan secara medis agar bisa menyelamatkan saudara-saudara kita yang masih dirawat saat ini," pungkasnya.

Ia juga menyampaikan duka cita atas peristiwa tersebut.

"Yang intinya pertama, kita semua tentunya berduka atas insiden kecelakaan kereta api tadi malam. Tentunya kita mendoakan kepada korban, semoga husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," ujar AHY.

Ia memastikan proses evakuasi korban telah selesai dilakukan, dengan fokus utama sejak awal pada penyelamatan korban.

"Sekaligus yang paling utama tentunya adalah melakukan evakuasi terhadap korban, dan itu sudah dilakukan. Bisa dikatakan semua sudah berhasil dievakuasi, dikeluarkan dari gerbong yang tertabrak tadi malam," katanya.

Kecelakaan ini melibatkan rangkaian KRL PLB 5568A relasi Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi di KM 28+920 wilayah Stasiun Bekasi Timur.

Kronologi Kecelakaan

Kecelakaan tragis ini terjadi pada Senin (27/4/2026) malam di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920.

Peristiwa diduga berawal dari KRL yang tertemper taksi listrik, kemudian dihantam kereta jarak jauh dari belakang saat dalam kondisi berhenti di jalur.

Kondisi itu menyebabkan rangkaian kereta berhenti tidak normal di jalur.

Dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang tidak sempat menghindar dan menabrak rangkaian KRL.

Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menjelaskan bahwa insiden awal terjadi di perlintasan dekat Bulak Kapal.

"Jadi KRL-nya itu ada taksi yang menemper KRL di JPL (Jalur Perlintasan Langsung) lintasan dekat Bulak Kapal, yang membuat KRL-nya terhenti," kata Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo kepada media.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menyebut gangguan tersebut berdampak pada sistem operasional di area emplasemen.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyebut jumlah korban meninggal hingga Selasa siang tetap 15 orang, dengan jenazah tersebar di beberapa rumah sakit di wilayah Bekasi.

Seluruh 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat.

Sopir Taksi Selamat

Sopir taksi Green SM yang diduga menjadi pemicu awal kecelakaan dilaporkan selamat dan telah diamankan di Polres Metro Bekasi Kota untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Hingga saat ini, proses penyelidikan terhadap kecelakaan masih berlangsung.

Di sisi lain, keluarga korban, termasuk dari Jambi, mulai membawa pulang jenazah untuk dimakamkan.

Kesaksian Penumpang

Sejumlah penumpang yang selamat turut menceritakan detik-detik kejadian.

Sausan Sarifah, salah satu penumpang KRL, mengaku peristiwa berlangsung sangat cepat.

"Kejadiannya cepat banget. Sepersekian detik," katanya.

Saat tabrakan terjadi, ia berada di gerbong bagian belakang dan sempat tertindih penumpang lain.

"Saya pikir saya meninggal, apalagi kalau misalkan evakuasinya lama. Karena di situ sudah ketiban-tiban. Jadi kayak pasti akan kehabisan napas gitu, saya pikir ," katanya.

"Tapi Alhamdulillah-nya masih bisa selamat," dia melanjutkan.

Ia juga melihat sejumlah penumpang lain dalam kondisi kritis saat terjepit.

"Mungkin mereka sudah nggak ada juga ya. Karena pas ada di bawah saya tuh, mereka semua sudah pada kejang-kejang, kehabisan nafas," katanya.

"Semoga mereka husnul khotimah dan keluarga diberi ketabahan," kata Sausan dengan suara bergetar.

Penumpang lainnya, Desi Budianti (50), mengaku masih syok usai kejadian. Ia menceritakan bahwa sebelum tabrakan, kereta yang ditumpanginya sempat berhenti cukup lama di Stasiun Bekasi Timur.

"Ibu biasanya di gerbong lima kalau naik kereta, dari Jakarta mau pulang ke Cikarang," kata Desi kepada Tribun Jakarta.

Ia sempat merasa ada kejanggalan karena kereta berhenti lebih lama dari biasanya.

"Ternyata kan kereta itu ada yang kesrempet kereta apa ditabrak kereta, tapi di jalur lain, jalur sebelah sana," ucap Desi.

Ketika suasana mulai tidak nyaman, tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari arah belakang.

"Kereta (KRL) kan berhenti lama, tiba-tiba 'brak' aja suaranya keras," ucap Desi.

Benturan tersebut membuat sejumlah penumpang terpental.

"Ya keras lah (suara benturan), orang pada mental semua! Itu bapak-bapak di depan Ibu juga semua mental," jelas dia.

 

Baca juga: Tangis Ibu Pecah saat Hakim PN Jambi Vonis Pembunuh Anaknya 19 Tahun Penjara

Baca juga: Dua Pelaku Pembunuhan di Alam Barajo Jambi Ditangkap Polisi

Baca juga: Progres Audit Forensik dan Pemulihan Bank Jambi setelah Peretasan 2 Bulan Lalu

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.