Qatar Tolak Selat Hormuz Dijadikan Alat Tekanan Politik, Peringatkan Dampak Global
Facundo Chrysnha Pradipha April 28, 2026 11:38 PM

TRIBUNNEWS.COM — Pemerintah Qatar menegaskan penolakannya terhadap penggunaan Selat Hormuz sebagai alat tekanan politik di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Teluk.

Doha menilai stabilitas jalur pelayaran vital tersebut krusial bagi pasar energi global dan rantai pasokan internasional.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (28/4/2026), menegaskan bahwa negaranya tidak menerima penutupan selat maupun gangguan terhadap navigasi internasional.

“Keamanan Selat Hormuz sangat penting bagi stabilitas pasar energi global. Gangguan terhadap jalur ini akan berdampak luas secara ekonomi,” ujar Al-Ansari.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Mengutip dari U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi selat tersebut setiap harinya, menjadikannya chokepoint utama perdagangan energi global.

Sejumlah analis yang dilansir dari Reuters menyebut bahwa setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi langsung memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu distribusi energi dari kawasan Teluk.

Qatar menegaskan bahwa prioritas utamanya adalah menjaga stabilitas regional melalui jalur diplomatik.

Al-Ansari menyatakan Doha mendukung upaya gencatan senjata, pembukaan kembali jalur pelayaran, serta penyelesaian konflik secara damai.

Ia juga mengungkapkan bahwa Qatar tengah berkoordinasi dengan Pakistan dalam upaya mediasi untuk meredakan ketegangan kawasan.

Di sisi lain, Qatar mengakui telah mengambil langkah militer untuk melindungi kedaulatannya.

 Al-Ansari menyebut sekitar 98 persen serangan yang menargetkan negara tersebut berhasil dicegat dalam periode terakhir, meski tidak merinci jenis ancamannya.

Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa eskalasi keamanan di kawasan Teluk masih menjadi perhatian serius komunitas internasional.

Negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) disebut tetap solid dalam menyerukan penyelesaian konflik melalui diplomasi.

Para pemimpin GCC menggelar pertemuan puncak konsultatif luar biasa di Jeddah untuk membahas perkembangan situasi regional.

Selain itu, Qatar juga menegaskan dukungannya terhadap stabilitas di Lebanon sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan kawasan.

Ketegangan di kawasan Teluk kembali menjadi perhatian pelaku pasar global.

Dilansir dari Bloomberg, investor mencermati risiko gangguan pasokan energi yang dapat memicu volatilitas harga minyak dan gas dunia.

Sikap Qatar yang menolak politisasi Selat Hormuz dinilai mencerminkan kepentingan bersama negara-negara Teluk untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meredam eskalasi konflik yang lebih luas.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.