POSBELITUNG.CO - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dikabarkan tidak senang dengan proposal terbaru yang diajukan oleh pihak Iran untuk mengakhiri perang.
Seorang pejabat tinggi AS yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebutkan bahwa Trump secara tersirat menolak tawaran dari Teheran tersebut.
Dalam usulan terbarunya, Iran menawarkan pembukaan kembali akses Selat Hormuz dengan syarat penundaan negosiasi program nuklir.
Penolakan Trump terhadap skema ini dinilai merusak harapan publik akan penyelesaian konflik yang telah memicu inflasi global dan krisis energi.
Pemerintah AS tetap pada pendiriannya bahwa masalah pengayaan nuklir harus menjadi poin utama yang diselesaikan sejak awal pembicaraan.
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wells, menegaskan bahwa pihak Washington tidak akan melakukan negosiasi melalui tekanan pers.
"Kami jelas tentang garis merah kami," tegas Olivia Wells menanggapi dinamika perang yang melibatkan sekutu dekat AS tersebut.
Konflik yang pecah sejak Februari 2026 ini kian rumit karena sejarah runtuhnya kesepakatan nuklir pada masa jabatan pertama Trump.
Trump sebelumnya secara sepihak menarik diri dari perjanjian tahun 2015 yang membatasi aktivitas nuklir Iran untuk tujuan sipil.
Upaya perdamaian semakin terlihat suram setelah Trump membatalkan kunjungan utusan khususnya ke Islamabad pekan ini.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, justru mencari dukungan diplomatik dengan mengunjungi Rusia dan menemui Vladimir Putin.
Ketidakpastian politik antara Trump dan Iran langsung berdampak pada meroketnya harga minyak mentah di pasar Asia pada perdagangan Selasa.
Analis pasar Fawad Razakzadeh menyebutkan bahwa bagi pedagang minyak, yang paling krusial saat ini adalah aliran fisik melalui Selat Hormuz.
"Bagi para pedagang minyak, yang penting bukanlah retorika lagi, melainkan aliran minyak mentah yang sebenarnya melalui Selat Hormuz," ujar Fawad dalam catatannya.
Data pelacakan kapal menunjukkan setidaknya enam kapal tanker Iran terpaksa berputar arah akibat blokade laut yang dilakukan militer AS.
Kementerian Luar Negeri Iran secara keras mengecam tindakan penyitaan kapal tersebut sebagai bentuk perampokan bersenjata di laut lepas.
Statistik menunjukkan penurunan drastis lalu lintas kapal di Selat Hormuz, dari rata-rata 140 kapal per hari menjadi hanya tujuh kapal saja.
Menanggapi tekanan tersebut, Abbas Araghchi mengeklaim bahwa Trump meminta negosiasi karena AS gagal mencapai tujuan militernya.
Sumber internal Iran menyebutkan bahwa proposal yang ditolak Trump sebenarnya menawarkan langkah gencatan senjata bertahap.
Langkah pertama dalam usulan tersebut adalah penghentian serangan militer dan pemberian jaminan keamanan dari pihak Washington.
Iran juga menginginkan pencabutan blokade pelabuhan dan tetap memegang kendali atas operasional Selat Hormuz setelah dibuka kembali.
Isu nuklir baru akan dibahas oleh Teheran setelah poin-poin mengenai blokade ekonomi dan keamanan wilayah disepakati oleh AS.
Hingga saat ini, Teheran masih menuntut pengakuan internasional atas hak mereka dalam melakukan pengolahan uranium untuk kebutuhan dalam negeri.
Trump sendiri kini berada di bawah tekanan domestik yang besar untuk segera mengakhiri keterlibatan AS dalam perang yang menguras anggaran tersebut. (Sumber : Tribunnews)