Sosok Bu Guru Nurlaela, Korban Tabrakan Kereta di Bekasi, Meninggal Setelah Tunaikan Tugas Mengajar
Adi Suhendi April 29, 2026 12:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nurlaela (39), seorang guru di SDN Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur meninggal dunia akibat kecelakaan tabrakan kereta KA Argo Bromo Anggrek Vs KRL Commuter Line di Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4/2026) malam.

Nurlaela tercatat sebagai PNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak 2019 dan bertugas mengajar di SDN Pulogebang 11.

Selain menjadi guru kelas, Nurlaela juga memegang tugas tambahan sebagai bendahara serta pengelola perpustakaan sekolah.

Menurut keterangan keluarga, Nurlaela sudah empat tahun menjadi guru di SDN Pejagan 11 Pulogebang Jakarta Timur.

Ia sebelumnya menempuh pendidikan strata satu (S1) guru sekolah dasar di Universitas Negeri Jakarta di Rawamangun, Jakarta Timur.

Wanita yang akrab disapa Bu Ela tersebut diketahui baru tiga bulan lalu menyelesaikan pendidikan magister di kampus yang sama.

Baca juga: Sosok Nur Ainia, Korban Tabrakan Kereta di Bekasi: Berdedikasi 11 Tahun di Balik Layar Kompas TV

Nurlaela sehari-hari memang rutin menggunakan moda transportasi KRL untuk berangkat maupun pulang bekerja.

“Dia tiap hari naik KRL, pagi-sore. Memang kerjanya ngajar di sana,” ujar Paman korban, Mulyadi di rumah duka desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Almarhumah dikenal sebagai  pekerja keras dan pendiam. 

"Dia pekerja yang ulet, enggak banyak bicara, benar-benar kerja orangnya," ujar dia.

Keluarga Sempat Mencari Keberadaan Nurlaela

Menurut Mulyadi keluarga sempat mencari keberadaan korban sejak malam setelah tak kunjung ada kabar.

Setelah mencari, akhirnya sekira pukul 01.00 WIB keluarga menemukan keberadaan Nurlaela sudah tidak bernyawa di rumah sakit.

“Jam satu kami baru ketemu, terus koordinasi dan jemput. Sampai rumah jam tiga pagi,” ucap Mulyadi.

Baca juga: Kesaksian Penumpang Gerbong Wanita dalam Insiden Kereta di Bekasi Hingga Selamat dari Kecelakaan

Menurut Mulyadi, kondisi Nurlaela tak ada luka mengkhawatirkan saat diterima keluarga.

Kemungkinan, Nurlaela meninggal dunia karena mengalami luka dalam.

“Kondisi tubuhnya utuh, tidak ada luka yang mengkhawatirkan. Cuma kakinya patah dan mungkin ada luka dalam,” ujar Mulyadi

Saat ini jenazahnya sudah dimakamkan di pemakaman yang tak jauh dari rumah duka.

Nurlaela meninggalkan suami dan seorang anak yang masih duduk di bangku kelas 6 SD.

Mamah Di Mana?

"Mamah di mana," itulah menjadi pesan singkat WhatsApp yang dikirim anak Nurlaela pada pukul 17.30 WIB pada Senin (27/4/2026)

Tak lama pesan itu langsung dibalas ibunya.

Balasan pesan berisi bahwa almarhumah masih di sekolah dan akan pulang malam.

"Mamah dimana. Iya (dijawab) masih di sekolah pulang malam," ujar anak almarhumah saat berbincang dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang datang ke rumah duka.

Tak ada perbincangan apa pun lagi setelah Nurlaela menjawab WA anaknya.

Sang anak paham, biasanya jika ada kegiatan tambahan di sekolah ibunya memang kerap pulang malam.

Namun, kekhawatiran muncul karena sampai hampir tengah malam sang ibu tidak kunjung pulang.

"Biasanya kalau ada kegiatan jam 9 atau 10 itu sudah pulang. Ini belum pulang-pulang juga," ujar suami Nurlaela .

Suami juga menceritakan pada subuh hari ia mengeluarkan motornya untuk dipanaskan.

Selanjutnya masuk ke dalam rumah kembali.

Sehingga, ia tidak melihat langsung ketika istrinya pergi berangkat kerja dan tidak biasanya korban Nurlaela tidak salam untuk pamit berangkat.

Meski demikian, Nurlaela pamit dengan bibinya yang rumahnya bersebelahan.

"Saya sempat keluarin motor, nggak (pamit) tapi ke bibi pamit. Soalnya saya langsung masuk ke dalam habis keluarin motor," kata suami Nurlaela bercerita ke Dedi Mulyadi.

Dijadikan Anak Angkat Dedi Mulyadi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkap akan menjadikan anak Nurlaela sebagai anak angkatnya dan menjamin biaya untuk sekolahnya sampai kuliah.

Pada kesempatan itu, Dedi Mulyadi menyampaikan belasungkawa dan memberikan uang santunan sebesar Rp 50 juta.

Ia sempat menyinggung peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei.

Dedi menilai almarhumah Nurlaela sebagai pendidik sejati.

"Dan tanggal 2 adalah Hari Pendidikan Nasional. Ini adalah tokoh pendidik yang meninggal atau gugur setelah menunaikan tugas sebagai pengajar," tuturnya.

Dedi Mulyadi pun mendorong investigatif yang dilakukan pihak berwenang untuk mencari tahu penyebab kecelakaan tersebut.

"Saya dan atas nama pemerintah provinsi mengucapkan rasa duka kami. Kepada keluarga almarhuman Nurlaela dan juga korban lainnya baik yang meninggal, luka-luka yang masih dirawat maupun sudah pulang," kata Dedi Mulyadi.

Dedi menegaskan kembali semua hal terkait kecelakaan harus diinvestigasi dengan baik, sehingga di Indonesia tidak boleh ada lagi kecelakaan kendaraan angkutan massal atau transportasi publik yang menyebabkan korban jiwa.

"Kita berkomitmen berikan bantuan alami luka-luka, masih dirawat maupun sudah meninggal dan ini bersama-sama karena ditangani BPJS, KAI, asuransi dan termasuk bapak presiden sudah turun," kata dia.

Sekadar informasi kecelakaan kereta api di Bekasi Timur melibatkan kereta PLB 5568A (Commuter Line relasi Cikarang) dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi.

Peristiwa bermula dari commuter line yang tertemper taksi listrik lalu ditabrak oleh rangkaian kereta jarak jauh di gerbong paling akhir.

Akibat kecelakaan tersebut 15 orang dilaporkan meninggal dunia dan 80 orang lainnya mengalami luka-luka.

(Tribunnews.com/ adi Tribunbekasi.com/ Muhammad Azzam)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.