TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Sofia, seorang warga asal Kelurahan Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat, tidak pernah menyangka perjalanan menuju Cikarang pada Senin malam, 27 April 2026, akan menjadi tragedi bagi keluarganya.
Ia berangkat bersama putri kecilnya yang berusia lima tahun dan ibundanya, Nuryati, sekira pukul 19.00 WIB.
Tujuan mereka adalah menjenguk saudara kembar Sofia yang sedang jatuh sakit.
Rombongan kecil ini masuk ke gerbong KRL yang berisi campuran penumpang laki-laki dan perempuan.
Kereta mulai bergerak sekira pukul 20.00 WIB. Namun, perjalanan tersebut terhenti secara tidak terduga pada pukul 21.00 WIB saat kereta sampai di Stasiun Bekasi Timur.
Awalnya, Sofia mendengar pengumuman bahwa perjalanan terganggu karena ada kendala mobil tertemper KRL di peron sebelah.
Pintu gerbong sempat terbuka, namun petugas segera mengimbau penumpang untuk kembali masuk.
Sesaat setelah pintu tertutup kembali, guncangan hebat lantaran kereta ditabrak kereta api Argo Bromo Anggrek terjadi.
Saat itu juga seluruh lampu di dalam gerbong padam.
Suasana di dalam gerbong seketika berubah mencekam. Dalam kegelapan dan kepanikan, Sofia melihat salah satu jendela gerbong terbuka.
Tanpa pikir panjang, ia segera menggendong putrinya yang berusia lima tahun dan mengeluarkannya lewat jendela tersebut agar segera menjauh dari gerbong.
Setelah memastikan anaknya aman di luar, fokus Sofia langsung beralih sepenuhnya kepada ibunya, Nuryati.
Sofia sangat menyadari bahwa sang ibu memiliki riwayat penyakit jantung yang membuatnya rentan terhadap guncangan emosional.
Tak lama kemudian, petugas keamanan datang membantu membuka pintu gerbong yang terkunci.
"Saya langsung seret orang tua saya keluar. Dari situ mungkin dia syok ya. Terus, enggak lama kemudian dia pingsan, jatuh. Di situ saya udah panik. Karena yang lain fokusnya ke gerbong yang tertabrak itu," tutur Sofia, Selasa (28/4/2026).
Baca juga: Pesan Terakhir Nur Ainia Karyawati Kompas TV Sebelum Tewas di KRL Bekasi, Minta Dijemput Keluarga
Saat berhasil keluar dari gerbong, Nuryati sebenarnya masih sempat sadar selama beberapa saat.
Sofia terus berupaya memberikan ketenangan kepada ibundanya di tengah situasi stasiun yang kacau.
"Ya sudah tenang, sabar-sabar," kata Sofia mengulang percakapan terakhirnya dengan sang ibu.
Namun, hanya dalam hitungan detik, kondisi Nuryati memburuk. Ia tiba-tiba jatuh tersungkur hingga bibirnya berdarah dan kehilangan kesadaran.
Sofia merasa pertolongan pertama pada saat itu sangat minim karena konsentrasi petugas terpecah untuk menangani gerbong utama yang tertabrak.
Sambil terus berdoa, Sofia menunggu tim medis datang.
Petugas kemudian mengevakuasi Nuryati ke lantai dua Stasiun Bekasi Timur sebelum akhirnya memanggil ambulans untuk membawanya ke rumah sakit terdekat demi mendapatkan penanganan intensif.
Sekira pukul 21.30 WIB, Sofia mendampingi ibundanya di dalam ambulans menuju RSUD Bekasi.
Ia sempat menghubungi keluarga besar agar segera berkumpul di rumah sakit.
Namun, takdir berkata lain. Setibanya di sana, pihak medis menyatakan bahwa Nuryati telah meninggal dunia.
Nuryati meninggal dunia dengan meninggalkan delapan orang anak dan enam orang cucu.
Jenazah telah disemayamkan dan disalatkan di Musala Al Ikhlas sebelum akhirnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Selasa siang.
Baca juga: Kesaksian Penumpang Gerbong 5 KRL Bekasi, Sempat Merasa Hal Ganjil Sebelum Tabrakan: Pintu Ketutup
Hingga saat ini, Sofia mengaku masih mengalami trauma berat akibat peristiwa tersebut.
Suara guncangan dan suasana gelap di dalam gerbong masih terus membekas di ingatannya.
"Mungkin belum ya, masih terngiang-ngiang. Ya mungkin masih bisa naik, cuma untuk saat ini tidak dulu," ucap Sofia.