Seorang Penumpang Gerbong 5 KRL Bekasi Ungkap Detik-detik Kecelakaan Maut: Terdengar Benturan Keras
Eri Ariyanto April 29, 2026 02:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Peristiwa kecelakaan maut yang melibatkan rangkaian KRL di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam, masih menyisakan kepanikan dan trauma bagi para penumpang yang berada di dalam gerbong.

Salah satu saksi mata, Desi Budianti (50) yang berada di Gerbong 5 mengungkap detik-detik mencekam sebelum insiden terjadi.

Desi Budianti menuturkan bahwa suasana di dalam kereta semula berjalan normal seperti perjalanan biasanya pada jam sibuk.

Namun, beberapa saat sebelum kejadian, penumpang mulai merasakan adanya hal yang tidak biasa pada laju kereta.

Tak lama kemudian, terdengar suara benturan keras yang mengejutkan seluruh penumpang di dalam gerbong.

Suasana langsung berubah menjadi kepanikan, dengan teriakan dan upaya penumpang mencari perlindungan.

Getaran kuat akibat benturan membuat sejumlah penumpang kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Peristiwa ini kini masih dalam penanganan pihak terkait untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut.

Baca juga: Penyebab Taksi Hijau Berhenti di Tengah Rel, Jadi Pemicu Kecelakaan Kereta di Bekasi: 14 Orang Tewas

Seperti diketahui, kesaksian Desi Budianti mengungkap detik-detik tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.

Saat kejadian, Desi sedang berada di dalam gerbong lima KRL jurusan Cikarang yang tengah berhenti lama di emplasemen stasiun.

Benturan keras tersebut menyebabkan mesin lokomotif kereta jarak jauh merangsek masuk ke gerbong KRL, terutama pada gerbong khusus perempuan.

Kejadian ini mengakibatkan kepanikan bagi penumpang di dalam rangkaian. 

Malam itu, Desi dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Cikarang.

Ia mengaku sudah merasa ada yang tidak beres karena kereta tertahan cukup lama sebelum terjadi tabrakan.

"Ibu biasanya di gerbong lima kalau naik kereta, dari Jakarta mau pulang ke Cikarang," kata Desi, Selasa (28/4/2026).

Penyebab KRL tersebut tertahan di Stasiun Bekasi Timur adalah karena adanya kecelakaan lain di jalur sebelah.

Sebuah taksi dilaporkan tertemper rangkaian KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta di perlintasan Jalan Ampera.

"Ternyata kan kereta itu ada yang ada kesrempet kereta apa ditabrak kereta, tapi di jalur lain," imbuhnya.

KECELAKAAN KERETA DI BEKASI - Tujuh orang meninggal dunia dalam kecelakaan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Senin (27/4/2026) malam. Manajer Humas Daop I Jakarta Franoto Wibowo mengatakan, para korban telah dievakuasi ke rumah sakit terdekat.
KECELAKAAN KERETA DI BEKASI - Tujuh orang meninggal dunia dalam kecelakaan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Senin (27/4/2026) malam. Manajer Humas Daop I Jakarta Franoto Wibowo mengatakan, para korban telah dievakuasi ke rumah sakit terdekat. (TribunBekasi/Rendy Rutama)

Detik-detik Benturan di Dalam Gerbong

Kondisi gerbong lima saat itu sedang padat penumpang sehingga muncul rasa keresahan.

Di tengah suasana tersebut, tiba-tiba terdengar suara benturan yang sangat kencang dari arah belakang.

"Kereta (KRL) kan berhenti lama, tiba-tiba 'brak' aja suaranya keras," ucap Desi.

Kerasnya benturan membuat sejumlah penumpang terpental dari posisi duduk maupun berdiri.

Desi yang saat itu duduk di kursi prioritas menggambarkan suasana di dalam gerbong seketika menjadi mencekam.

Para penumpang langsung berusaha menyelamatkan diri di tengah kekacauan tersebut.

Proses penyelamatan diri para penumpang sempat terkendala teknis pintu kereta.

Desi mengungkapkan bahwa banyak pintu gerbong yang tetap tertutup rapat setelah benturan terjadi.

Di gerbong lima, hanya ada satu akses yang bisa digunakan oleh penumpang untuk keluar.

"Kita orang langsung pada nyari keluar. Kan ada sebagian kan gerbong itu pintunya tertutup, di gerbong lima cuma satu doang yang terbuka," ungkap Desi.

Keterbatasan akses ini membuat suasana evakuasi mandiri di dalam gerbong menjadi semakin riuh.

Hingga Selasa pagi, petugas gabungan dari SAR, BPBD, dan PMI masih berupaya mengevakuasi korban yang terjepit di dalam gerbong.

Proses ini memakan waktu lama karena kondisi material kereta yang rusak parah setelah dihantam lokomotif.

Berdasarkan data terbaru, jumlah korban meninggal dunia mencapai 14 orang hingga pukul 08.45 WIB.

Selain korban jiwa, tercatat lebih dari 80 orang mengalami luka-luka dan telah dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

(TribunNewsmaker.com/TribunnewsBogor.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.