Oleh: Bruder Pio Hayon SVD
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan Katolik Rabu 29 April 2026.
Tema renungan katolik "bapa yang mengutus aku".
Renungan katolik untuk Perayaan Wajib St. Katarina dari Siena dengan warna liturgi putih.
Bacaan hari Rabu: Kis 12:24 - 13:5a; Mzm 67:2-3.5.6.8; Yoh 12:44-50 dan BcO Kis 13:44-14:7.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 29 April 2026, Menyebarkan Pesan Kasih
“Maka firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang.
Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem setelah mereka menyelesaikan tugas pelayanan mereka. Mereka membawa Yohanes, yang disebut juga Markus.
Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu Barnabas, Simeon yang disebut Niger, Lukius orang Kirene, Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.
Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.’
Maka setelah berpuasa dan berdoa, mereka meletakkan tangan ke atas kedua orang itu dan mengutus mereka pergi.
Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus.
Mazmur Tanggapan:
Mzm 67:2 (67-3) supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.
Mzm 67:3 (67-4) Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.
Mzm 67:5 (67-6) Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.
Mzm 67:6 (67-7) Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita.
Injil Katolik: Yohanes 12:44–50
“ Tetapi Yesus berseru, kata-Nya: ‘Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia yang telah mengutus Aku. Dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku.
Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku jangan tinggal di dalam kegelapan.
Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.
Barangsiapa menolak Aku dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan; itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.
Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.
Dan Aku tahu bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.’ ”
Demikianlah Injil Tuhan.
Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik
"Bapa yang mengutus Aku”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Hari Rabu pekan Paskah ini mengantar kita semakin dekat pada rahasia iman: Yesus bukan datang dengan inisiatif sendiri, tetapi diutus oleh Bapa. Tema hari ini—“Bapa yang mengutus Aku”—menyadarkan kita bahwa kesaksian Kristen tidak berhenti pada kata-kata, melainkan berakar pada ketaatan kepada Allah. Dua bacaan hari ini memperlihatkan “benih Sabda yang maju”: Injil berjalan karena Allah bekerja, dan Yesus sendiri menjelaskan dasar iman: siapa yang percaya kepada-Nya percaya kepada Bapa.
Saudara-saudari terkasih.
Bacaan ini (Kis 12:24-13:5a) menegaskan bahwa “firman Allah bertambah dan menyebar.” Di Antiokhia, Roh Kudus menuntun jemaat untuk memisahkan Barnabas dan Saulus bagi karya perutusan. Ini menunjukkan bahwa misi Gereja bukan sekadar strategi manusia, melainkan gerak Roh yang meneguhkan pewartaan dan mempersiapkan utusan. Dalam Injil (Yoh 12:44-50) Yesus menegaskan: barang siapa percaya kepada-Nya berarti percaya juga kepada Dia yang mengutus-Nya. Selanjutnya, Yesus menyebut Sabda-Nya sebagai Sabda yang menghakimi dan menyelamatkan. Itu bukan karena Yesus “mencari penghukuman”, melainkan karena Sabda itu menyingkap arah hidup manusia di hadapan Allah. Kristus hadir sebagai terang: siapa mengikuti-Nya tidak tersesat, siapa menolak akan menanggung akibat dari penolakan itu. Poin refleksi Kita adalah “Pusat iman”: apakah pusat iman kita ada pada “Yesus yang diutus”, atau hanya pada “ajaran/iman saya”? Permenungan kita: ketika kita berdoa dan mengambil keputusan, apakah kita sungguh mengandalkan Dia yang datang dari Bapa atau sekadar mencari rasa aman/pegangan dari agama? “Roh Kudus menuntun perutusan”: apakah kita merasakan hidup kita dipimpin oleh Roh kudus untuk melangkah atau atas kehendak kita sendiri? Permenungan kita: seperti Barnabas dan Saulus dipilih dan dikirim, kita pun bisa dipanggil untuk menjadi saksi: lewat tugas pelayanan, pendampingan iman, karya kasih, atau kesaksian sederhana di tempat kerja/keluarga. “Sabda Tuhan adalah terang”: keputusan harian apa yang perlu “disinari”? Injil menegaskan bahwa Sabda Tuhan menerangi jalan hidup kita. Permenungan kita: ada sikap/keputusan yang masih kitagelapkan sepert keengganan mengampuni, ketidakjujuran, atau kompromi?
Saudara-saudari terkasih.
Pesan untuk kita, pertama, tema “Bapa yang mengutus Aku” mengajak kita memandang Yesus sebagai Utusan yang membawa terang dan keselamatan. Kedua, melalui bacaan pertama, kita melihat pewartaan berjalan karena Roh Kudus dan firman Allah bertambah. Melalui Injil, kita diingatkan: percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Bapa. Ketiga, karena itu, biarlah hidup kita menjadi jawaban: percaya, terbuka pada Sabda, dan siap ikut ambil bagian dalam perutusan Tuhan di tempat tugas kita masing-masing. Tuhan memberkati kita semua. (Sumber: www.imankatolik.or.id/kgg).

