TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kekalahan telak 0-7 dari Malut United di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Selasa (28/4/2026) malam, memicu gelombang protes suporter PSBS Biak.
Suara tegas datang langsung dari suporter Biak yang hadir di stadion, mendesak manajemen segera mencopot pelatih kepala Marian Mihail.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Napi Bongkar, wadah suporter PSBS Biak, Dirk Putuhena yang datang langsung dari Biak ke Sleman, secara terbuka meminta Ketua Umum PSBS Biak untuk segera turun tangan dan mengambil alih situasi tim, termasuk mencopot pelatih kepala.
“Saya selaku warga Biak dan suporter setia PSBS Biak meminta Ketua Umum untuk segera mengintervensi manajemen dan pelatih kepala segera out dari tim,” tegas Dirk pada wartawan di Sleman, Selasa (28/4/2026) malam.
Ia menilai, sejak Marian Mihail menangani tim, Laskar Badai Pasifik tidak menunjukkan perkembangan berarti. Bahkan, satu pun kemenangan belum berhasil diraih.
“Selama beliau datang ke tim kami, belum satu kali pun kemenangan beliau persembahkan untuk masyarakat Biak. Kami meminta dengan tegas pelatih segera keluar,” lanjutnya.
Marian Mihail sendiri resmi menangani PSBS Biak sejak 10 Februari 2026. Saat itu, PSBS berada di peringkat 15 klasemen sementara BRI Super League 2025/2026 dengan koleksi 17 poin, masih di batas aman zona degradasi.
Namun, dalam sembilan pertandingan yang sudah dijalani sejak debutnya melawan Persis Solo, performa PSBS justru merosot tajam.
Baca juga: PSBS Biak Kalah 0-7 dari Malut United, Laskar Badai Pasifik Tatap Liga 2
Mereka hanya meraih satu hasil imbang dan menelan delapan kekalahan, termasuk kekalahan telak dari Malut United.
Dirk menilai kondisi ini tidak bisa lagi ditoleransi, apalagi kompetisi masih berjalan dan peluang keluar dari zona degradasi belum sepenuhnya tertutup.
“Kami berharap saat melawan Persebaya nanti sudah tidak menggunakan pelatih tersebut. Walaupun kita jatuh ke degradasi, setidaknya kita keluar dengan kepala tegak, bukan tertunduk,” ujarnya.
Ia juga menyoroti adanya dugaan ketidakharmonisan antara pelatih dan pemain yang berdampak pada performa tim.
“Kehadiran pelatih ini menimbulkan ketidakharmonisan di antara pemain. Banyak pemain potensial tidak bisa bermain karena diduga konflik dengan pelatih,” ungkapnya.
Desakan pun ditutup dengan ultimatum tegas.
“Dalam sejarah PSBS, kalau pelatih sudah tiga sampai empat kali kalah pasti out. Kami mendesak pelatih segera keluar, apapun alasannya,” pungkas Dirk.(*)