BANJARMASINPOST.CO.ID - Pembunuhan sadis terjadi gara-gara persoalan sepele antar-anak. Kini, kepolisian menangkap dan menahan dua orang terduga pembunuhan.
Korban pembunuhan itu adalah Indra Kusuma, warga RT 10, Kelurahan Pinang Merah, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi.
Dia menjadi korban pembunuhan yang terjadi pada Minggu (26/4/2026) pukul 16.30 WIB.
Sementara pelaku yakni RG dan DH, yang merupakan tetangga korban yang berjarak sekira 100 meter.
Kapolsek Kotabaru Kompol Helrawaty Siregar menyebut, sementara ini, pihaknya baru menangkap dua orang, dan beberapa orang lainnya, termasuk keluarga terdekat pelaku.
"Sampai saat ini, kita masih menangkap dua orang. Jadi masih ada beberapa orang yang berstatus saksi. Nanti kita lihat, bisa saksi jadi tersangka, atau sebagai saksi saja, kita masih dalami," kata Helra, saat konferensi pers, Selasa (28/4/2026).
Baca juga: Tak Datang Saat Akad Nikah, Siswa SMP Dijemput dari Sekolah Lalu Dibawa ke Polisi: Kami Dipermalukan
Sejauh ini, katanya, baru RG dan DH yang memenuhi unsur untuk ditangkap dan dijadikan tersangka. Di mana hasil otopsi menyebut, korban mengalami 18 luka tusukan, yang menyebabkan korban tewas seketika.
Meski belum mengungkap secara rinci, namun Helra menyebut pembunuhan ini ditengarai masalah sepele, yakni salah paham antara anak Indra berinisial OT dengan keponakan RG dan DH, berinisial BM.
"Jadi ada salah paham, kemudian keributan melebar lah. Nah, ibu BM ini menelepon adiknya (paman BM, yakni RG dan DH), ada sebuah informasi yang disampaikan, membuat RG dan DH marah, dan mendatangi rumah korban hingga melakukan pembacokan," kata Helra.
Dari kejadian ini, kata Helra pihaknya mengamankan barang bukti dua bilah parang panjang, satu pisau dapur dan belati yang dipakai pelaku menikam Indra hingga tewas.
Kata Helra, RG dan DH dikenakan pasal 459 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP subsider pasal 458 dan pasal 626, dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.
"Intinya, ini masih kita kebangkan apakah akan ada pelaku lain, atau tidak," katanya.
Di sisi lain, istri Indra bernama Nia Astrina saat diwawancarai terpisah di kediamannya menyebut bahwa, pembunuhan ini diduga bermula dari selisih paham antara BM dengan OT, anak Indra yang masih pelajar sekolah dasar (SD).
"Jadi anak saya (OT) ini lewat dari depan rumah BM. Saat itu, ada salah paham, si BM merasa, anak saya ngejek, padahal tidak," kata Nia Astrina, suami korban, saat diwawancarai, Senin (27/4/2026).
Nia mengaku saat itu menemui langsung ibu BM, dan mencoba mejelaskan peristiwa sebenarnya. Namun situasi justru semakin panas, permasalahannya kian melebar hingga kedua keluarga terlibat cekcok besar.
"Setelah itu, si BM ini pergi. Terus kami juga pulang," kata Nia.
Tidak berselang lama, BM kembali dengan membawa dua orang yang diduga sebagai pamannya. Mereka bertiga membawa parang, dan secara membabi buta menyerang Indra.
Indra yang saat itu berada di teras rumah langsung dibacok, diserang tanpa perlawanan hingga terpojok di dalam rumahnya.
Tidak hanya itu, anak Indra bernama Ferdi (24) yang saat itu berupaya membantu ayahnya juga diserang, hingga mengalami sejumlah luka bacok.
"Semua saya saksikan lagsung, suami saya dibacok, ditikam tanpa ampun oleh mereka," kata Nia.
Ironisnya, pembacokan itu disaksikan langsung oleh dua anak Nia yang lainnya yang masih berusia 18 bulan dan 13 tahun.
Peristiwa itu membuat kedua anaknya tersebut trauma mendalam. Terlebih anak perempuannya yang masih berusia 18 bulan tersebut.
"Anak saya yang masih 18 bulan ini ketakutan, menyaksikan ayahnya berdarah. Badannya gemetar, dia trauma," katanya.
Nia menyebut, pembunuhan ini sudah direncanakan oleh pelaku. "Kan dia pergi, kemudian pas balik lagi sudah bawa dua orang dan langsung nyerang," katanya.
Saat anak terlibat konflik atau berselisih dengan temannya, banyak orangtua cenderung bereaksi spontan; langsung marah, menyalahkan pihak lain, atau turun tangan tanpa memahami duduk persoalan secara menyeluruh.
Padahal, menurut psikolog Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., dari RS Dr. Oen Solo Baru, Jawa Tengah, sikap reaktif justru dapat menghambat anak belajar menyelesaikan masalah dan mengelola emosinya sendiri.
“Pertama-tama, orangtua perlu tenang secara emosional. Kalau ikut terbawa emosi, mereka tidak akan bisa bersikap objektif,” ujar Joko kepada Kompas.com (25/6/2025).
Salah satu kesalahan umum adalah orangtua hanya fokus pada apa yang terlihat di permukaan, bukan pada proses atau penyebab konflik.
Joko mencontohkan, ketika anak ditendang oleh temannya, reaksi spontan biasanya adalah marah kepada anak lain. Namun, setelah ditelusuri, ternyata anak sendirilah yang memicu pertengkaran.
“Kalau kita langsung bereaksi tanpa memahami konteks, itu artinya kita bersikap subjektif,” jelasnya.
Sikap seperti ini bisa memperkuat pola pikir anak bahwa dirinya selalu benar, sementara orang lain selalu salah. Anak pun kehilangan kesempatan untuk belajar introspeksi dan memahami konsekuensi dari tindakannya.
Saat anak mengalami kesulitan, orangtua sebaiknya hadir sebagai pendamping emosional, bukan sebagai pelindung yang reaktif.
“Dukung anak secara emosional bukan berarti menyalahkan pihak lain langsung. Katakan, ‘Saya tahu ini enggak nyaman buat kamu, tapi mari kita lihat dulu kejadiannya seperti apa. Kalau memang kamu salah, ya kita belajar bareng-bareng,’” kata Joko.
Dengan pendekatan seperti itu, anak tetap merasa dimengerti sekaligus belajar mengevaluasi diri tanpa merasa dihakimi.
Ketika orangtua terlalu sering bereaksi secara emosional dan menyelesaikan semua masalah anak, maka anak kehilangan kesempatan untuk belajar berjuang sendiri.
“Kalau dari kecil sampai dewasa anak terbiasa dibela, saat menghadapi tekanan sendirian nanti dia bisa stres atau depresi. Karena tidak terbiasa struggling,” ujar dia.
Anak yang selalu dibela tanpa dievaluasi justru rentan tumbuh dengan mental yang tidak tangguh, tidak tahan kritik, dan sulit menyelesaikan masalah secara mandiri.
Peran orangtua bukan untuk menjadi “pembela tanpa syarat”, melainkan sebagai pendamping yang membantu anak memahami situasi dan mencari solusi.
Emosi orangtua bisa menjadi cermin yang kuat bagi anak dalam mengelola emosinya sendiri. Jika orangtua mudah marah, anak pun bisa belajar untuk reaktif.
Sebaliknya, jika orangtua menunjukkan ketenangan dan bersikap objektif, anak pun akan meniru cara berpikir dan menyikapi masalah dengan lebih dewasa.
“Maka penting bagi orangtua untuk reflektif. Emosi kita bukan hanya soal perasaan pribadi, tapi juga pembelajaran langsung bagi anak,” pungkas Joko.
(Banjarmasinpost.co.id/Kompas.com)