Bola Terpopuler: Kisah Langka Piala Dunia 1 Laga 3 Kartu Kuning hingga Rafael Struick Absen Timnas
Arie Noer Rachmawati April 29, 2026 01:14 PM

Bek Kroasia, Josip Simunic, tercatat menerima tiga kartu kuning dalam satu pertandingan.

Selanjutnya Rafael Struick kembali absen dari daftar TC Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026.

Terakhir, kisah deretan negara yang pernah jadi tuan rumah Piala Dunia.

Berikut selengkapnya:

Baca juga: Bola Terpopuler: Luka Modric Cedera hingga Penyerang Fiorentina Tak Berkutik Gara-gara Jay Idzes

Kisah Langka di Piala Dunia: 3 Kartu Kuning dalam Satu Laga

Ajang Piala Dunia selalu menghadirkan cerita-cerita menarik, mulai dari rekor gemilang hingga kejadian yang sulit dipercaya.

Jika mencetak banyak gol dalam satu turnamen sudah menjadi hal yang lazim, ada pula momen unik yang justru dikenang karena keanehannya.

Salah satu peristiwa paling ganjil terjadi pada edisi Piala Dunia 2006.

Dalam pertandingan terakhir Grup F yang mempertemukan Tim nasional Kroasia dan Tim nasional Australia, tercipta sebuah kejadian yang jarang, bahkan nyaris tidak pernah terulang di level tertinggi sepak bola dunia.

Bek Kroasia, Josip Simunic, menjadi pusat perhatian dalam laga tersebut. 

Ia menerima kartu kuning pertama pada menit ke-66 setelah melakukan pelanggaran terhadap Harry Kewell.

Insiden itu tampak biasa, seperti pelanggaran yang sering terjadi dalam pertandingan sengit.

Namun, yang membuatnya luar biasa adalah apa yang terjadi setelahnya.

Alih-alih hanya mendapat dua kartu kuning lalu diusir keluar lapangan, Simunic justru tercatat menerima tiga kartu kuning dalam satu pertandingan.

Sebuah kejadian yang membingungkan sekaligus menjadi salah satu momen paling unik dalam sejarah Piala Dunia.

Josep Simunic diganjar kartu kuning setelah menekel Harry Kewell saat laga berjalan 66 menit.

Memasuki menit ke-90, Simunic dinyatakan melakukan pelanggaran dan mendapatkan kartu kuning kedua dari wasit Graham Poll.

Regulasi sepak bola menyatakan seorang pemain mendapat kartu merah setelah memperoleh dua kartu kuning dalam satu partai.

Namun, sang bek Kroasia justru masih tetap berada di lapangan.

BACA SELENGKAPNYA >>>

Baca juga: Bola Terpopuler: Hadiah Uang di Piala Dunia 2026 Naik hingga Allegri Tertawa Jelaskan Alasan Ngamuk

Rafael Struick Kembali Tak Dipanggil Timnas Indonesia

Rafael Struick dulu menjadi andalan Shin Tae Yong di Timnas Indonesia, kini kembali absen Garuda Calling.

Ia juga sempat menjadi langganan di lini depan skuad Garuda.

Kini Rafael Struick absen di daftar Garuda Calling Timnas Indonesia untuk pemusatan latihan (TC) jelang Piala AFF 2026.

Pelatih berganti, setelah di bawah kepemimpinan John Herdman, pemain berusia 23 tahun itu tak mendapatkan tempat.

Hal itu seiring performanya yang dinilai menurun di level klub maupun tim nasional.

PSSI resmi memanggil 23 pemain untuk TC Timnas Indonesia pada 26 hingga 30 Mei 2026 di Jakarta.

Nama-nama seperti Marselino Ferdinan, Jens Raven, hingga Eksel Runtukahu masuk dalam daftar, namun Rafael Struick kembali tersisih.

Absennya Struick cukup mengejutkan mengingat ia sempat menjadi pemain favorit Shin Tae-yong, terutama saat Indonesia tampil di Piala Asia 2023 dan Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.

Bersama STY, Rafael dikenal sebagai penyerang yang fleksibel.

Ia bisa bermain sebagai striker utama maupun winger kiri, serta memiliki kecepatan dan mobilitas tinggi yang cocok dengan skema serangan balik cepat.

Bahkan, Rafael menjadi salah satu pemain penting saat Timnas Indonesia mencetak sejarah lolos ke babak 16 besar Piala Asia 2023.

Ia tampil di seluruh pertandingan turnamen tersebut dan menjadi pilihan utama di lini serang.

Secara keseluruhan, Rafael Struick telah mencatatkan 23 caps bersama Timnas Indonesia senior dengan torehan 1 gol.

Gol semata wayangnya lahir saat menghadapi Bahrain pada Kualifikasi Piala Dunia 2026 pada Oktober 2024 silam.

BACA SELENGKAPNYA >>>

Baca juga: Bola Terpopuler: Penentu Cremonese Degradasi hingga Belanja Jay Idzes Bikin Keuangan Sassuolo Boncos

Deretan Kisah Tuan Rumah Piala Dunia

Inilah kisah deretan negara yang pernah jadi tuan rumah Piala Dunia.

Di antara mereka ada yang menoreh prestasi, namun ada pula yang menggoreskan tragedi.

Memang, bagi sejumlah negara, status tuan rumah Piala Dunia bisa menjadi jalan alternatif untuk meraih prestasi secara instan.

Dalam sejarahnya, terdapat contoh-contoh nyata bagaimana tim penyelenggara Piala Dunia berhasil memaksimalkan dukungan penuh suporter untuk tampil meyakinkan sepanjang kompetisi.

Dari 22 pergelaran terdahulu, enam negara tuan rumah sukses memanfaatkan privilese ini dengan menyudahi turnamen sebagai kampiun, dilansir dari BolaSport.

Rasionya cukup menggugah, yakni enam kali kejadian atau hampir sepertiganya.

Tren tersebut dimulai pada dua edisi pertama yang dimenangkan Uruguay (1930) serta Italia (1934) di kandang sendiri.

Tradisi juara bagi tuan rumah dilanjutkan oleh Inggris (1966), Jerman (1974), dan Argentina (1978) dalam waktu yang berdekatan.

Adapun timnas Prancis (1998) tercatat sebagai kontestan terakhir yang memenangi trofi kejuaraan garapan FIFA di negara sendiri.

Kalaupun tidak berhasil juara, ada sejumlah tim yang mampu menggoreskan rekor pencapaian terjauh mereka saat menjadi host.

Swiss merasakannya saat mencapai perempat final pada Piala Dunia 1954, diikuti secara beruntun oleh Swedia (runner-up 1958) dan Cile (peringkat tiga, 1962).

Perjalanan terbaik juga dialami Meksiko, yang sama-sama finis sampai perempat final dalam dua edisi pertamanya sebagai tuan rumah (1970, 1986).

Pun timnas Korea Selatan yang bikin heboh dengan mencetak sejarah lolos hingga semifinal 2002.

Di era kekinian, Rusia berhasil menyentuh titik terjauhnya selepas era Uni Soviet ketika menggelar Piala Dunia 2018.

Tim Beruang Merah melaju sampai perempat final sebelum disingkirkan Kroasia via adu penalti.

BACA SELENGKAPNYA >>> 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.