BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN- Menjelang Idul Adha 1447 H, persiapan penyembelihan hewan kurban mulai dilakukan oleh para juru sembelih profesional.
Salah satunya adalah Akhmad Friyadi, Ketua The Jagal Banjarmasin,Kalimantan Selatan yang ditemui di ruang kantornya di Komplek Bumi Raha Sultan Adam, Selasa (28/4/2026) pukul 17.00 Wita.
Dengan penuh percaya diri, ia memperlihatkan deretan peralatan lengkap, pisau berbagai ukuran, parang, sarung tangan, hingga asahan.
Untuk menunjukkan standar ketajaman, Akhmad memperlihatkan bagaimana selembar tisu yang tertiup angin bisa terbelah di atas mata pisaunya.
Tak hanya perlengkapan, deretan sertifikat hasil berbagai pelatihan penyembelihan juga tampak rapi tersusun, menegaskan profesionalitas Akhmad Friyadi sebagai juru sembelih bersertifikasi.
Baca juga: Jaksa Tuntut Pecatan Polisi Pembunuh Mahasiswi 14 Tahun Penjara, BEM ULM: Kecewa dan Prihatin
Baca juga: Update Kecelakaan Kereta Api di Bekasi, Renggut 15 Nyawa Perlu Delapan Jam Evakuasi Korban
“Fisik harus benar-benar fit, alat sembelih harus tajam sesuai standar, dan APD wajib digunakan,” tegasnya, menekankan pentingnya kesiapan teknis dan kesehatan jelang lonjakan permintaan semeblih hewan kurban.
Menurut Akhmad, standar tajam pisau penyembelihan merujuk pada sertifikasi SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Minimal, pisau harus mampu mengiris kertas, bahkan bisa ditingkatkan hingga level membelah tisu hanya dengan tiupan.
Sementara itu, hewan kurban wajib memenuhi syarat kesehatan, yakni fisik sempurna tanpa cacat, bebas penyakit mulut dan hidung, serta benar-benar sehat sebelum disembelih.
Meski begitu, Akhmad mengakui bahwa tidak semua proses berjalan mulus. Ia menuturkan, ada sejumlah kasus di mana sapi kurban kerap mengalami stres. Kondisi ini biasanya muncul setelah perjalanan panjang menuju lokasi penyembelihan atau ketika hewan dikerumuni banyak orang.
Faktor-faktor tersebut membuat sapi menjadi lebih sensitif dan sulit dikendalikan, sehingga diperlukan kehati-hatian ekstra serta kerja sama tim yang solid untuk memastikan proses tetap aman dan sesuai syariat.
“Harus ekstra hati-hati, kerja sama tim penting. Kendali ada di tali hidung, di situlah kelemahannya,” jelasnya.
Akhmad menekankan bahwa proses penyembelihan harus sesuai syariat Islam agar daging halal dan thayyib (baik). Adab penting yang tidak boleh dilupakan adalah memperlakukan hewan dengan cara yang ihsan sebelum dikurbankan.
Dalam sehari, seorang penjagal disebut bisa menyembelih puluhan hingga ratusan ekor sapi. Namun, proses lengkap mulai dari penyembelihan, pengulitan, hingga pemotongan daging memerlukan waktu sekitar satu jam dengan kerja tim.
Tantangan terbesar, menurutnya, adalah kebiasaan masyarakat yang merobohkan sapi secara beramai-ramai atau menutup leher dengan daun pisang saat penyembelihan.
“Itu menyulitkan untuk memastikan tiga saluran benar-benar terputus,” ujar Akhmad.
Menjelang Idhul Adha, Akhmad tak hanya menekankan aspek teknis dan syariat, tetapi juga mengingatkan pentingnya profesionalitas dalam proses penyembelihan. Ia menilai, keterlibatan juru sembelih yang berpengalaman dan bersertifikasi akan sangat menentukan kualitas daging kurban yang dihasilkan, sekaligus menjaga kelancaran pelaksanaan ibadah.
“Kualitas daging yang fresh, bersih, dan halal adalah kepuasan tersendiri bagi kami,” katanya.
Pelaksanaan Idhul Adha tahun ini diharapkan berjalan lancar tanpa hambatan. Akhmad menekankan pentingnya kerja sama dan profesionalitas seluruh juru sembelih demi menjaga kualitas ibadah kurban.
“Mudah-mudahan semua juru sembelih diberikan kelancaran dan keselamatan dalam menjalankan tugasnya,” tutup ketua The Jagal Banjarmasin, Akhmad Friyadi.
(Banjarmasinpost.co.id/Saifurrahman)