TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Rencana pembangunan Jembatan Cirahong 2 yang akan menghubungkan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya dipastikan belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan, keterbatasan kondisi keuangan daerah menjadi faktor utama yang membuat proyek tersebut harus ditunda sementara.
Menurutnya, perencanaan pembangunan sebenarnya telah disusun secara matang, termasuk estimasi kebutuhan anggaran yang diperlukan. Namun, kemampuan fiskal pemerintah daerah saat ini belum memungkinkan untuk menanggung pembiayaan proyek dengan nilai besar tersebut.
"Rencananya sudah ada, alokasinya Rp 450 miliar. Nah untuk kondisi hari ini, Pemprov belum mampu lah untuk hari ini, Rp 450 miliar kan masih banyak yang teriak jalan jelek di mana-mana," katanya dilansir kompas.com, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan, fokus kebijakan saat ini diarahkan pada penanganan jalan rusak yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat. Menurutnya, kebutuhan perbaikan infrastruktur jalan dinilai lebih mendesak dibandingkan pembangunan jembatan baru.
"Nanti kalau cash flow pemerintah daerah tahun 2028 sudah surplus, saya bangun (Jembatan Cirahong 2)," ujar Dedi.
Ketika disinggung mengenai peluang kerja sama dengan pemerintah daerah di Ciamis dan Tasikmalaya, Dedi menilai opsi tersebut tidak mudah diwujudkan. Ia menyebut kondisi keuangan di tingkat kabupaten juga tengah menghadapi tekanan serupa.
"Berat, sudahlah. Kabupaten dananya juga berat. Tetapi bisa saja itu dibangun di 2028," tuturnya.
Ia memperkirakan, proyek Jembatan Cirahong 2 baru berpotensi dimulai paling cepat pada tahun 2028, dengan catatan kondisi keuangan daerah sudah lebih stabil dan memungkinkan.
"Paling cepat 2028. Tapi kalau 2027 dana DBH-nya yang 3,6 (triliun) balik, saya bangun Cirahong tuh," katanya.
Untuk sementara waktu, pemerintah daerah mendorong optimalisasi pemanfaatan jembatan yang telah ada, sambil menunggu kesiapan anggaran pada masa mendatang.
"Ya sudah aja yang ada ini manfaatkan dengan baik," kata Dedi.
Sebelumnya, wacana pembangunan Jembatan Cirahong 2 sempat mencuat sebagai bagian dari rencana penguatan konektivitas antara Tasikmalaya dan Ciamis. Bahkan, Gubernur Jawa Barat sempat bertemu dengan Bupati Ciamis Herdiat untuk membahas langkah lanjutan proyek tersebut.
Di sisi lain, proses pembebasan lahan di wilayah Ciamis telah rampung dilakukan. Namun, untuk area di Kabupaten Tasikmalaya, kepastian pembebasan lahan masih belum ditentukan waktunya.
Pada tahap perencanaan awal, proyek ini sempat ditargetkan dapat direalisasikan pada 2026 atau paling lambat 2027, dengan tujuan memperlancar akses transportasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di kedua wilayah.
Secara geografis, Jembatan Cirahong 2 direncanakan menghubungkan Kampung Sukakarya di Desa Margaluyu, Kecamatan Manonjaya, Tasikmalaya, dengan Desa Panyingkiran di Kecamatan Panyingkiran, Ciamis.
Menanggapi rencana tersebut, Kepala Desa Margaluyu, Kecamatan Manonjaya, Dian Cahyadinata menyatakan kesiapan pihak desa untuk mendukung penuh pembangunan melalui koordinasi bersama pemerintah provinsi dan kabupaten terkait.
"Pemerintah desa siap mengikuti arahan Gubernur Jawa Barat dan berharap dukungan dari Bupati Ciamis serta Bupati Tasikmalaya agar pembangunan ini benar-benar memperhatikan kepentingan masyarakat," katanya pada Tribun Jabar.
Saat ini, sejumlah tahapan awal telah dijalankan, di antaranya pemetaan wilayah, pengukuran luas lahan, serta pendataan aset berupa tanaman dan bangunan yang terdampak proyek.
Proses pembebasan lahan dijadwalkan berlangsung pada rentang Juni hingga Juli 2026. Untuk wilayah Tasikmalaya sendiri, kebutuhan lahan diperkirakan mencapai sekitar 14.000 meter persegi, dengan estimasi anggaran pembebasan sekitar Rp12 miliar.
"Perhitungan harga akan mengacu pada tiga indikator, yakni harga pasar lokal, NJOP kabupaten, dan penilaian dari Badan Pertanahan Nasional (BPN)," ucap Dian.
Dian menegaskan, gagasan pembangunan Jembatan Cirahong 2 bukanlah hal baru. Rencana tersebut telah muncul sejak masa kepemimpinan Gubernur Jawa Barat sebelumnya, yakni Ridwan Kamil bersama Wakil Gubernur Uu Ruzhanul Ulum.
"Ini adalah cita-cita lama yang mudah-mudahan bisa terwujud sekarang. Kami optimistis di bawah kepemimpinan Gubernur saat ini, Bapak Dedi Mulyadi, rencana ini dapat direalisasikan," jelas Dian.
Dalam konteks pengembangan wilayah, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemerintah agar penataan kawasan Cirahong dapat berjalan maksimal dan merata.
Ia juga mengingatkan agar perhatian pembangunan tidak hanya terpusat di wilayah tertentu, melainkan menjangkau kawasan lain termasuk wilayah timur Tasikmalaya.
"Jangan sampai perhatian hanya terfokus di wilayah Selatan saja. Kami di wilayah timur juga bagian dari masyarakat yang membutuhkan perhatian yang sama," kata Dian.