Kisah Pilu Karyawati Kompas TV: Tulang Punggung Keluarga yang Jadi Korban Tragedi Kereta di Bekasi
Hironimus Rama April 29, 2026 02:35 PM

Laporan Yolanda Putri Dewanti & Ikhwana Mutuah Miko

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEKASI – Tragedi kecelakaan maut yang melibatkan KRL Commuter Line dan kereta jarak jauh KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam menyisakan duka yang sangat mendalam.

Di antara puing-puing gerbong yang hancur dan jeritan kepanikan malam itu, terselip kisah pilu tentang hilangnya nyawa seorang tulang punggung keluarga.

Insiden nahas ini merenggut nyawa Nur Ainia Eka Rahmadyna, seorang karyawati berdedikasi dari Kompas TV yang meregang nyawa saat menempuh perjalanan pulang ke rumahnya usai lelah bekerja.

Baca juga: Total Korban Tabrakan Kereta Api di Bekasi Capai 106 Orang, 15 Meninggal Dunia

Perjalanan Terakhir Sang Tulang Punggung Keluarga

Kabar tewasnya Ainia membawa pukulan telak bagi keluarga dan rekan-rekan kerjanya. Wanita yang telah mengabdi selama kurang lebih 11 tahun di bagian News Production Support ini dikenal bukan hanya sebagai pekerja keras, melainkan juga penopang ekonomi keluarganya.

Wapemred Kompas TV, Martian Damanik, menuturkan rutinitas terakhir almarhumah pada hari kejadian.

"Dia kemarin (Senin) itu meninggalkan kantor berdasarkan di mesin absensi itu pukul 19.31 WIB,” ujar Martian saat dikonfirmasi, Rabu (29/4/2026).

Ainia yang berkantor di Palmerah, Jakarta Pusat, menggunakan jalur KRL langganannya menuju Tanah Abang, lalu berganti kereta ke arah Cikarang untuk turun di Stasiun Tambun.

“Biasanya di Tambun itu dijemput adiknya. Eh, ternyata kok nggak muncul, nggak bisa dihubungi,” ungkap Martian menceritakan kepanikan keluarga saat itu.

Kecurigaan memuncak saat sang adik tak kunjung mendapat kabar. Pada pukul 22.00 WIB, pihak keluarga akhirnya menghubungi kantor untuk meminta bantuan.

"Sekitar jam 10-an kita kantor sudah tahu, kita mulai melakukan pencarian itu, hubungi sana-sini,” jelas Martian.

Pencarian tanpa lelah yang menyisir berbagai rumah sakit di kawasan Bekasi akhirnya menemui titik terang yang menyayat hati pada keesokan harinya di RS Polri.

"Baru teridentifikasi Selasa bahwa Ainia meninggal, jadi korban,” tambah Martian dengan nada duka.

Kepergian Ainia menjadi kehilangan besar bagi keluarga dan rekan-rekan kerjanya di KompasTV. 

"Dia masih single, dan dia tulang punggung keluarga juga. “Kami sangat kehilangan, dia sangat helpful, profesional, dan komunikatif dengan tim,” pungkasnya.

Dedi Mulyadi Melayat

Almarhumah langsung dimakamkan pada Rabu (29/4/2026) tak jauh dari kediamannya di Tambun, Kabupaten Bekasi pada Rabu (29/4/2026) pagi. Suasana duka tampak menyelimuti kediaman Ainia  di Griya Asri 2 Blok H 14, Tambun Selatan.

Berdasarkan pantauan di lokasi, para pelayat sudah berdatangan sejak pukul 07.00 WIB. Mereka terdiri dari keluarga besar, tetangga sekitar, hingga rekan kerja.

Sejumlah karangan bunga berjejer di sepanjang gang menuju rumah duka. Karangan tersebut tampak berasal dari berbagai pihak, termasuk jajaran pimpinan Kompas TV, PT Kereta Api Indonesia (KAI), serta kerabat dan relasi lainnya sebagai bentuk belasungkawa atas kepergian Ainia.

Suasana di sekitar rumah duka tampak hening dan khidmat. Lantunan doa dari para pelayat terdengar silih berganti, mengiringi langkah mereka yang keluar-masuk rumah.

Wajah-wajah penuh kesedihan terlihat jelas, sementara para pelayat saling menguatkan satu sama lain di tengah kehilangan tersebut.

Di dalam rumah, pihak keluarga tampak setia mendampingi peti jenazah berwarna cokelat yang bertuliskan nama “Nur Aini Eka R”.

Isak tangis sesekali pecah, namun tetap diiringi dengan doa dan harapan agar almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Ayah almarhumah, Hary Marwata (63), dengan suara bergetar mengungkapkan kesedihan yang masih dirasakan keluarga.

Ia menyebut adik almarhumah hingga kini belum mampu menahan duka.

“Adiknya yang paling belum kuat. Masih terus menangis sampai pagi ini. Ain itu anak sulung dari tiga bersaudara,” ujar Hary. 

Jenazah almarhumah disalatkan di Masjid Nur Hidayah yang tak jauh dari rumah duka, sebelum dimakamkan di TPU Mangun Jaya. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dijadwalkan turut melayat untuk memberikan penghormatan terakhir. 

Ratusan Korban Dievakuasi, 15 Orang Meninggal Dunia

Sebagai informasi, kecelakaan kereta api ini memicu korban jiwa yang tidak sedikit. Dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026), Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengonfirmasi bahwa total korban menyentuh angka lebih dari seratus orang.

"Korbab meninggal dunia maupun yang luka-luka adalah sejumlah 106 penumpang. Kemudian yang meninggal dunia 15 penumpang dan yang luka-luka 91," kata Bobby Rasyidin.

Ia menambahkan, sebagian korban luka yang sempat dilarikan ke rumah sakit kini perlahan membaik dan dipulangkan.

"Dari 91 penumpang yang luka-luka, 38 penumpang sudah kembali," tandasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.