TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kasus dugaan kekerasan dan penelantaran anak di Little Aresha Daycare, di kawasan Sorosutan, Kemantren Umbulharjo, terus bergulir.
Selain tindakan fisik, mencuat pula dugaan penggunaan obat-obatan jenis CTM yang diberikan pengelola untuk membuat anak-anak tertidur selama di penitipan.
Menanggapi kabar tersebut, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengaku belum menjalin komunikasi lebih jauh dengan jajaran Polresta Yogyakarta.
Namun, mengenai bukti fisik penggunaan obat tersebut, pria berlatarbelakang dokter kandungan ini menyebut sulitnya pembuktian melalui jalur biologis.
"Obat-obatan yang berdurasi singkat itu agak susah (dibuktikan), karena ada istilahnya masa paruh waktu," ujar Hasto, saat dikonfirmasi Rabu (29/4/2026).
Wali Kota menandaskan, jika benar diberikan pada korban, obat-obatan seperti CTM mempunyai efektivitas yang cenderung terbatas di dalam tubuh.
Menurutnya, obat tersebut biasanya dikonsumsi dengan dosis tiga kali sehari, yang berarti efeknya pun bakal hilang dalam hitungan delapan jam saja.
"Artinya, dalam waktu 8 jam sudah habis. Kalau saya memeriksanya lebih dari 8 jam, (kandungan obat) sudah hilang. Jadi diperiksa dari feses atau urin itu mungkin tidak mudah secara patofisiologis," jelasnya.
Baca juga: Bangunan Little Aresha Daycare Jadi Sasaran Vandalisme, Hasto Wardoyo Minta Warga Menahan Diri
Karena kendala medis tersebut, Hasto menekankan bahwa pendekatan psikologis jadi kunci utama untuk mengungkap fakta di balik dugaan pemberian obat tidur ini.
Pemkot Yogyakarta berencana melibatkan tim psikolog untuk melakukan wawancara mendalam kepada korban via wali murid, guna melihat adanya tanda-tanda adiksi atau efek samping obat.
"Saya kira pendekatan lain bisa lewat psikolog. Dilihat apakah anak ada tanda-tanda ketergantungan atau reaksi tertentu. Wawancara mendalam itu yang penting," tambahnya.
CTM (Chlorpheniramine Maleate) adalah obat alergi yang mengandung antihistamin.
Berperan dalam mengobati gejala dan reaksi alergi, CTM meredakan anafilaksis, pilek, rhinitis, ataupun alergi lainnya yang berhubungan dengan saluran pernapasan.
Meskipun berperan sebagai obat alergi, efek samping CTM berupa rasa kantuk kerap digunakan sebagai obat tidur.
Efek samping CTM yang dapat menyebabkan kantuk membuat orang yang susah tidur beranggapan dapat menggunakan obat ini untuk membantu tidur.
Padahal, tindakan ini adalah salah satu bentuk penyalahgunaan obat-obatan.
( tribunjogja.com )