Minat Rendah, FK-PKBM Pangandaran Soroti Tantangan Tuntaskan Anak Putus Sekolah
Dedy Herdiana April 29, 2026 05:35 PM

 


Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Upaya menuntaskan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Pangandaran masih menghadapi tantangan yang cukup serius.

Rendahnya minat masyarakat melanjutkan pendidikan menjadi kendala utama, meski fasilitas pendidikan nonformal telah tersedia.

Ketua Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FK-PKBM) Pangandaran, Cucun Ruhyat, mengatakan bahwa saat ini jumlah warga belajar yang terdaftar di PKBM sekitar 800 orang., namun angka itu dinilai belum mencerminkan kebutuhan riil di lapangan.

"Animo masyarakat untuk melanjutkan sekolah memang masih rendah, padahal PKBM sudah siap memfasilitasi warga yang putus sekolah," ujar Cucun kepada Tribun Jabar di Parigi beberapa hari ini.

Baca juga: Disdikpora Pangandaran Catat 3.315 Anak Tidak Sekolah, Rata-rata Putus pada Jenjang SMP dan SMA

Menurutnya, program utama PKBM adalah menuntaskan ATS. Namun, pelaksanaannya tidak mudah karena banyak warga belajar yang kesulitan mengikuti proses pendidikan secara berkelanjutan.

"Di lapangan, tantangannya adalah bagaimana menjaga warga belajar tetap konsisten mengikuti pendidikan tanpa terputus," katanya.

Meski demikian, PKBM menawarkan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel dibandingkan pendidikan formal. 

Metode yang digunakan meliputi tatap muka, tutorial, serta pembelajaran mandiri yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta didik.

"PKBM itu tidak kaku seperti sekolah formal. Warga belajar tidak harus selalu datang ke lembaga, karena ada metode lain yang bisa menyesuaikan dengan situasi mereka," ucap Cucun.

Baca juga: Jadi Kebutuhan Dasar, FK-PKBM dan Disdikpora Pangandaran Kerja Sama Tingkatkan Kualitas Tutor

Sementara terkait sosialisasi terkait program PKBM sebenarnya sudah dilakukan secara masif, mulai dari tingkat desa hingga kecamatan. 

Namun, faktor motivasi masih menjadi hambatan terbesar, terutama bagi anak-anak yang sudah terlanjur putus sekolah dan enggan kembali belajar.

"Kendala utamanya ada pada motivasi. Banyak yang sudah putus sekolah, tapi tidak mau kembali melanjutkan," ujarnya.

Cucun berharap, adanya dukungan lebih luas dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.