Ucapan Terakhir Nurhayati Korban Tewas KA Argo Bromo, Sempat Pingsan: Ini Ada Apa?
Dedy Qurniawan April 29, 2026 06:03 PM

BANGKAPOS.COM -- Inilah ungkapan terakhir Nurhayati (63) korban tewas  tragedi tabrakan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi, Jawa Barat.

Kisah pilu kembali terungkap dari salah satu korban yang meninggal dunia.

Nuryati (63), meninggalkan cerita mengharukan sebelum mengembuskan napas terakhir.

Baca juga: Gema Syukur dari Dusun Air Abik, Tradisi Nuju Jerami Satukan Warga dan Jadi Daya Tarik Wisata

Perempuan asal Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat tersebut mengembuskan napas terakhirnya setelah mengalami kejadian tragis di dalam kereta.

Insiden ini sendiri diketahui menyebabkan sedikitnya 14 orang meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka dan harus menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan.

Seluruh korban meninggal kemudian dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi.

Di tengah suasana duka yang menyelimuti keluarga korban, cerita tentang detik-detik terakhir Nurhayati menjadi salah satu yang paling menyentuh.

Saat kejadian, Nurhayati diketahui tengah melakukan perjalanan bersama anak dan cucunya yang masih berusia lima tahun.

Mereka berangkat dengan tujuan mengunjungi anggota keluarga di Cikarang. Namun, perjalanan yang awalnya direncanakan sebagai kunjungan keluarga justru berujung petaka.

Kronologi kejadian disampaikan oleh menantu korban, Andi Ayubi (39). Ia mengungkapkan bahwa situasi di dalam kereta saat itu berubah mencekam dalam hitungan detik.

"Senin malam itu, mertua saya memang berencana menjenguk anaknya di Cikarang,

Dia di kereta bertiga, bareng sama anak dan cucunya yang berusia 5 tahun," ujar Andi saat ditemui di rumah duka, Selasa (28/4/2026).

Ia menjelaskan, guncangan hebat tiba-tiba terjadi, diikuti padamnya listrik di dalam kereta yang membuat suasana semakin panik.

“Tiba-tiba ada guncangan, lalu lampu dan kipas mati semua. Penumpang langsung panik,” katanya menceritakan laporan dari adik iparnya yang berada di KRL.

Dalam kondisi darurat tersebut, anak dan cucu Nurhayati berhasil diselamatkan lebih dulu melalui jendela. Sementara Nurhayati harus menunggu lebih lama untuk dievakuasi.

“Karena usia beliau sudah 63 tahun, mungkin proses evakuasinya lebih sulit. Beliau dievakuasi terakhir,” jelas Andi.

Di saat-saat genting itu, Nurhayati sempat mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi kenangan terakhir bagi keluarganya.

“Ucapan terakhirnya itu, ‘Ini ada apa?’ Sepertinya beliau kaget,” ungkapnya.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Nurhayati kehilangan kesadaran dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Sementara itu, anak dan cucunya yang selamat mengalami trauma mendalam akibat kejadian tersebut.

Andi juga menceritakan bahwa anak korban sempat menghubungi keluarga dalam kondisi panik sesaat setelah kejadian.

“Dia sempat telepon, bilang ‘Mama pingsan, kenapa?’ Kami juga bingung. Sekitar satu jam kemudian baru dapat kabar kalau mama sudah tidak ada,” tuturnya.

Ia menambahkan, alasan keluarga memilih perjalanan malam adalah agar perjalanan terasa lebih tenang dan tidak terlalu padat.

“Rencananya memang mau menginap di sana, sekalian menjenguk anak,” katanya.

Rencananya, jenazah Nurhayati akan dimakamkan di TPU Karet Tengsin setelah salat zuhur. Kisah ini menjadi salah satu potret pilu dari tragedi tersebut, sekaligus menggambarkan besarnya kehilangan yang dirasakan keluarga korban.

(Bangkapos.com/Tribunnews/Tribun Trends)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.