Tradisi Ithuk-Ithukan, Semangat Kebersamaan dan Kesederhanaan Masyarakat Desa di Banyuwangi
Titis Jati Permata April 29, 2026 06:32 PM

 

SURYA.co.id, BANYUWANGI - Warga Dusun Rejopuro, Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, menghidupkan kembali tradisi turun-temurun Ithuk-Ithukan pada Rabu (29/4/2026). 

Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan kesederhanaan, ditandai dengan arak-arakan makanan menuju sumber mata air Kajar.

Lalu dilanjutkan dengan makan bersama secara sederhana di lokasi tersebut, dengan menggelar tikar.

Menu yang Disajikan

Menu yang dibawa antara lain makanan khas suku Osing pecel pitik, sayur pakis, dan botok manisa. 

Baca juga: Kiprah Pemuda Suku Osing Banyuwangi yang Jadi Penggerak Desa Wisata Kelas Dunia

Warga menggunakan daun pisang sebagai wadah makan. 

Dengan gayeng, mereka melahap menu yang dibawa masing-masing secara bersama-sama.

Kenakan Pakaian Adat Suku Osing

Selama tradisi tersebut, warga mengenakan pakaian adat suku Osing. 

Para perempuan memakai baju hitam dan bawahan kain batik. 

Sementara para pria memakai busana atas-bawah berwarna hitam. Lengkap dengan udeng yang dipakai di kepala.

Asal Mula Tradisi Ithuk-ithukan

Sejak pagi, warga telah bersolek dan menyiapkan berbagai makanan untuk menyambut hajatan tahunan yang digelar setiap 12 Zulkaidah dalam kalender Islam.

Tetua Dusun Rejopuro, Sarino, mengatakan, Ithuk-Ithukan berasal dari tradisi para leluhur yang telah digelar puluhan atau bahkan ratusan tahun silam.

"Para leluhur berpesan agar tradisi dibuat sesederhana mungkin, yang terpenting tidak ada masyarakat yang kelaparan dan semua bisa makan bersama," kata keturunan kelima dari tetua dusun setempat itu.

Jaga Warisa Budaya Tetap Lestari

Sarino menyebut, tradisi Ithuk-Ithukan dilestarikan untuk meneruskan perjuangan para leluhur dan menjaga warisan budaya agar tetap lestari. 

Karena itu pula, para anak-anak turut ikut serta dalam tradisi itu.

Kepala Desa Kampung Anyar, Suwandi, menambahkan, tradisi Ithuk-Ithukan berakar dari ungkapan rasa syukur warga atas keberadaan sumber mata air Kajar. 

Sumber air tersebut tak pernah mati dan mengaliri ratusan hekatare lahan pertanian di wilayah Glagah dan sekitarnya.

"Ini merupakan wujud syukur kami atas nikmat air, terutama karena desa kami tidak pernah kekurangan air," katanya.

Ungkapan Rasa Syukur

Ia menyebut, ritual adat tersebut digelar rutin sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur atas pemberian Tuhan.

"Kami mengajak seluruh warga ikut bersyukur dan bersama-sama menjalankan tradisi menuju mata air, yakni Sumber Kajar," ujar dia.

Warga Desa Sekitar Ikuti Tradisi

Tradisi Ithuk-Ithukan bukan hanya dirayakan oleh warga Kampung Anyar. 

Warga desa sekitar juga turut datang untuk mengikuti secara utuh tradisi tersebut.

Salah satunya adalah Susianti, warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. 

Susianti yang sudah berusia sekitar 80-an tahun mengikuti tradisi tersebut sejak kecil.

"Sejak saya kecil diajak bapak. Sampai sekarang ikut," kata dia.

Selain memiliki kerabat di Kampung Anyar, Susianti juga merasakan berkah dari sumber mata air Kajar. 

Wilayahnya menjadi tempat alliran sumber Kajar. Termasuk juga lahan pertanian yang ada di sana.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.