TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI TIMUR- Mogoknya taksi hijau di perlintasan rel diduga jadi biang kerok tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.
Mogoknya mobil taksi listrik Green SM tersebut membuat KRL Commuter Line dari arah lainnya tidak bisa begerak sehingga diseruduk Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur.
Muncul pertanyaan kenapa mobil tersebut tidak didorong agar tidak menghalangi KRL lewat dan terhindar dari kecelakaan.
Ternyata setelah taksi tersebut mogok, kendaraan milik Vinfast asal Vietnam tersebut terkunci rodanya sehingga tidak bisa didorong.
Hal itu lah yang membuat kendaraan melintang sehingga menyebabkan jalur rel yang seharusnya kosong terhalang taksi dan memicu tabrakan.
Lantas kenapa roda mobil terkunci saat taksi hijau itu mogok?
Ahli mengungkap alasan taksi listrik Green SM yang mogok di perlintasan rel diduga tak bisa didorong sesaat sebelum tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.
Baca juga: Pasca Tabrakan Kereta Api, Plt Bupati Bekasi Prioritaskan Pembangunan Flyover
Baca juga: Sempat Dirawat di ICU, Mia Citra, Korban Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Meninggal Dunia
Baca juga: Update Korban Kecelakaan Kereta Api di Stasiun Bekasi Timur: 16 Orang Meninggal
Baca juga: Total Korban Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Mencapai 106 Orang
Taksi listrik VinFast VF e34 itu dilaporkan berhenti di atas rel dan tidak dapat dievakuasi manual sebelum tertabrak kereta yang melintas.
Pendiri EV Safe sekaligus dosen National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar, menjelaskan kendaraan modern dengan sistem electronic shifter memiliki mekanisme keselamatan yang bisa membuat rem aktif otomatis saat terjadi gangguan.
Menurut dia, sistem tersebut dirancang agar kendaraan tidak menggelinding ketika mengalami mogok atau gangguan teknis.
“Mobil dengan electronic shifter, ketika mogok umumnya akan mengaktifkan rem agar tidak menggelinding. Ini bagian dari sistem keselamatan,” ujar Mahaendra dikutip dari kompas.com
Mahaendra menjelaskan, saat rem otomatis aktif, kendaraan bisa sulit bahkan tidak bisa didorong secara manual karena sistem pengereman tetap bekerja.
Kondisi ini diduga menjadi salah satu penyebab taksi Green SM tidak dapat dipindahkan dari lintasan rel saat insiden terjadi.
Ia menambahkan, untuk memindahkan mobil ke posisi netral atau N agar dapat didorong, suplai daya kendaraan harus tetap aktif.
“Power harus tetap on supaya bisa dipindah ke N,” katanya.
Jika daya listrik terputus atau terganggu, perpindahan transmisi ke posisi netral bisa terhambat.
Meski demikian, Mahaendra menegaskan penyebab kendaraan berhenti total di atas rel belum dapat dipastikan.
Menurut dia, kemungkinan penyebab masih perlu ditelusuri lebih lanjut, mulai dari gangguan sistem, hilangnya suplai daya, hingga faktor teknis lain.
Ia juga menilai penanganan darurat di perlintasan sebidang perlu menjadi perhatian, mengingat lokasi tersebut memiliki tingkat risiko tinggi.
Adapun penyebab pasti kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur masih menunggu hasil investigasi pihak berwenang.