Pendidikan Buka Pasar
Nurhadi Hasbi April 29, 2026 07:47 PM

Membaca Ulang Wacana Penutupan Program Studi

Oleh: Furqan Mawardi
(Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju)

Ada kegelisahan yang perlahan mulai tumbuh di ruang-ruang akademik kita. Kegelisahan itu muncul ketika kampus mulai terlalu sering dibicarakan dengan bahasa pasar.

Mulai dari kata  Efisiensi, serapan kerja, kebutuhan industri, dan keuntungan ekonomi.

Bahkan belakangan, muncul wacana penutupan sejumlah program studi yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Alasan yang dikemukakan terdengar logis, yaitu  prodi harus menyesuaikan diri dengan dunia industri, dengan kebutuhan lapangan kerja, dengan tren ekonomi masa depan.

Sekilas, tidak ada yang salah. Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika pendidikan mulai dipersempit maknanya hanya sebagai penyedia tenaga kerja.

Baca juga: Membaca Arah Pendidikan Lewat Tes Kemampuan Akademik

Di titik inilah kita perlu bertanya dengan jujur dan memakai  hati nurani,  apakah kampus memang dilahirkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar?

Bagi saya, kampus bukan pabrik buruh. Universitas bukan mesin produksi tenaga kerja. Kampus adalah rumah ilmu pengetahuan, ruang tumbuhnya gagasan, tempat lahirnya kritik, inovasi, dan peradaban.

Ketika pendidikan tinggi hanya diukur dengan logika pasar, maka sesungguhnya kita sedang perlahan membunuh ruh pendidikan itu sendiri.

Kita tentu memahami bahwa lulusan perguruan tinggi memang harus mampu beradaptasi dengan dunia kerja.

Tidak ada yang salah dengan orientasi profesionalisme. Namun menjadikan pasar sebagai penentu utama hidup-matinya sebuah disiplin ilmu adalah cara pandang yang terlalu sempit terhadap hakikat pendidikan.

Hari ini mungkin ada program studi yang dianggap tidak “menjual”. Tetapi sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa banyak perubahan besar justru lahir dari bidang ilmu yang dahulu dipandang sebelah mata.

Ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari selera pasar semata, tetapi dari rasa ingin tahu, penelitian, perenungan, dan keberanian berpikir melampaui zamannya.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dunia jika seluruh ilmu hanya dipertahankan berdasarkan hitungan ekonomi sesaat. Bisa jadi filsafat sudah lama ditutup karena dianggap tidak menghasilkan uang.

Sastra dianggap tidak produktif. Sejarah dianggap tidak relevan. Bahkan ilmu-ilmu keagamaan mungkin dipandang tidak punya kontribusi industri secara langsung. Padahal dari ilmu-ilmu itulah lahir moralitas, kebudayaan, identitas bangsa, dan arah peradaban manusia.

Tokoh pendidikan kritis asal Brasil, Paulo Freire, pernah mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh sekadar menjadi alat reproduksi sistem ekonomi.

Pendidikan, menurutnya, harus membebaskan manusia, membangun kesadaran kritis, dan memanusiakan manusia.

Ketika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, maka manusia perlahan diposisikan hanya sebagai komoditas ekonomi. Kampus kehilangan fungsi emansipatorisnya. Mahasiswa tidak lagi dididik untuk berpikir, tetapi hanya dilatih untuk bekerja.

Kritik Freire terasa sangat relevan dengan kondisi hari ini. Kita mulai menyaksikan bagaimana universitas didorong untuk semakin pragmatis.

Ukuran keberhasilan pendidikan lebih sering dihitung dari angka serapan kerja ketimbang kualitas moral, kedalaman intelektual, atau kontribusi kemanusiaannya.

Seolah-olah nilai sebuah ilmu hanya ditentukan oleh cepat atau tidaknya menghasilkan uang. Padahal pendidikan sejatinya berbicara tentang masa depan manusia, bukan sekadar masa depan industri.

Pandangan yang lebih mendalam juga disampaikan oleh pemikir Muslim kontemporer, Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan bukanlah sekadar mencetak pekerja, tetapi membentuk manusia yang beradab. 

Dalam konsepnya tentang ta’dib, pendidikan harus melahirkan manusia yang mengenal tempatnya di hadapan Tuhan, masyarakat, dan ilmu pengetahuan. Pendidikan bukan sekadar transfer keterampilan, melainkan proses pembentukan akhlak, kebijaksanaan, dan kesadaran spiritual.

Di sinilah letak kegelisahan terbesar kita. Ketika kampus terlalu tunduk pada logika pasar, maka perlahan pendidikan kehilangan dimensi adabnya.

Ilmu tidak lagi dipandang sebagai jalan membangun peradaban, tetapi sekadar alat kompetisi ekonomi. Akibatnya, lahirlah generasi yang mungkin cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral dan miskin kepekaan sosial.

Lebih menyedihkan lagi, jika negara mulai menentukan kelayakan sebuah ilmu hanya berdasarkan kebutuhan industri sesaat, maka sesungguhnya negara sedang mempersempit cakrawala berpikir bangsanya sendiri.

Padahal tugas pendidikan tinggi justru menyiapkan masa depan yang belum sepenuhnya terlihat hari ini. Universitas harus menjadi mercusuar yang menerangi masa depan, bukan sekadar mengikuti arah angin pasar.

Kampus seharusnya menjadi ruang yang bebas untuk merawat keberagaman ilmu pengetahuan. Sebab bangsa besar tidak dibangun hanya oleh insinyur dan pebisnis, tetapi juga oleh ahli pendidikan, budayawan, filsuf, sejarawan, sosiolog, ulama, dan para pemikir yang menjaga nurani bangsa.

Karena itu, wacana penutupan program studi perlu dilihat secara lebih hati-hati dan bijaksana. Evaluasi tentu penting. Perbaikan mutu juga sebuah keniscayaan. Tetapi pendekatan pendidikan tidak boleh semata-mata dibangun di atas logika untung-rugi ekonomi. Sebab ketika pendidikan kehilangan idealismenya, maka bangsa ini perlahan akan kehilangan arah peradabannya.

Kita membutuhkan kampus yang hidup, yang merdeka berpikir, yang berani melahirkan gagasan-gagasan besar, bukan kampus yang hanya sibuk menyesuaikan diri dengan tabel kebutuhan pasar kerja. Sebab pasar bisa berubah setiap saat, tetapi nilai ilmu pengetahuan dan pendidikan akan selalu menjadi fondasi peradaban manusia.

Dan mungkin, inilah saatnya kita kembali mengingat satu hal penting bahwa pendidikan tidak pernah lahir untuk melayani pasar, akan tetapi  justru  pendidikan lahir untuk memuliakan manusia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.