Lantunan Selawat Iringi Pemakaman Hanum, Korban Kecelakaan Maut KA ABA vs KRL
Noval Andriansyah April 29, 2026 09:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Rabu (29/4/2026) pagi di TPU Cipayung, Jakarta Timur, dipenuhi suasana duka. Tangis keluarga pecah ketika jenazah Harum Anjasari tiba untuk dimakamkan.

Lantunan selawat mengiringi kedatangan jenazah yang dibawa oleh keluarga, kerabat, serta rekan kerjanya. Peti jenazah kemudian langsung diangkat menuju area pemakaman.

Langkah para pengantar jenazah berjalan perlahan, seolah berat melepas kepergian Harum untuk terakhir kalinya.

Di sekitar liang lahat, wajah-wajah penuh kesedihan terlihat dari keluarga dan sahabat yang datang mengantar.

Tangis pun tak terbendung, terutama dari orang tua dan suami Harum yang terus menatap prosesi pemakaman dengan mata berkaca-kaca.

Baca juga: Suara Sri Bergetar Ceritakan Keinginan Harum Sebelum Jadi Korban Kecelakaan Maut KA

Isak tangis dan selawat terdengar saat jenazah Harum Anjasari, korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur tiba di TPU Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026) pagi.

Dikutip dari Tribunnews.com, diantar oleh keluarga, kerabat serta rekan kerja, jenazah Harum Anjasari langsung diangkat menuju pemakaman.

Suasana haru pun menyelimuti prosesi pemakaman Harum.

Sejumlah anggota keluarga dan rekan kerja tak kuasa menahan tangisnya.

Orang tua maupun suami dari Harum pun tak henti-henti meneteskan air matanya.

Matanya terus berkaca-kaca saat jenazah Harum dimasukan ke liang lahat.

Lantunan doa pun dipanjatkan di pusara makam Harum. Prosesi tabur bunga juga dilakukan oleh pihak keluarga.

Sebelumnya, Harum Anjasari menjadi seorang di antara 10 korban kecelakaan kereta yang meninggal dunia dan berhasil teridentifikasi.

Identifikasi rampung pada Selasa (28/4/2026) sore di Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I Pusdokkes Polri, Jakarta Timur.

Kepala Rumah Sakit (Karumkit) RS Polri Kramat Jati, Brigjen Prima Heru Yuliharyono, menyatakan bahwa proses identifikasi berjalan lancar berkat kerja sama tim gabungan DVI Polri.

"Telah menyelesaikan seluruh pemeriksaan terhadap 10 kantong jenazah yang dikirim dari TKP," kata Prima di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026).

Prima merinci bahwa jumlah korban yang dilaporkan oleh pihak keluarga juga sebanyak 10 orang, sesuai dengan jumlah jenazah yang diterima tim forensik.

"Jumlah korban yang dilaporkan oleh pihak keluarga sampai saat ini sebanyak 10 orang."

"Pada pukul 14.00 WIB telah dilaksanakan sidang rekonsiliasi untuk menentukan identitas korban dan memutuskan 10 jenazah telah berhasil diidentifikasi," ungkapnya.

Suara Sri Bergetar

Sebelumnya, terik matahari menyengat di atas Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026).

Di antara para pelayat yang berdiri menunduk, seorang ibu terlihat tak beranjak dari sisi makam yang tanahnya masih basah.

Perempuan itu adalah Sri Lestari. Ia duduk bersimpuh di samping pusara putrinya, seolah belum siap benar-benar melepas kepergian anak yang begitu ia sayangi.

Matanya sembab dan tatapannya kosong memandangi gundukan tanah tempat Harum Anjasari kini terbaring untuk selamanya.

Dikutip dari Tribunnews.com, Harum Anjasari merupakan korban kecelakaan tragis di Stasiun Bekasi Timur yang meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya.

Di balik duka itu, Sri Lestari menyimpan kenangan tentang satu keinginan sederhana yang terus diucapkan putrinya sebelum meninggal dunia.

Di sela isak tangis yang pecah dari para pelayat, Sri Lestari mencoba mengumpulkan memori untuk bercerita.

Suaranya bergetar saat mengenang komunikasi terakhirnya dengan sang anak, Harum.

"Kami hari Senin siang masih sempat WhatsApp-an sama dia. Biasa, dia tanya, 'Bapak Ibu gimana?'," ujar Sri Lestari.

Sebelum peristiwa nahas di Stasiun Bekasi Timur terjadi, Harum kerap mengungkapkan keinginan yang tak biasa.

Ia terus-menerus mengucap ingin pulang ke rumah ibundanya, sementara selama ini Harum tinggal bersama keluarganya di kawasan Tambun.

Kalimat ‘Mama, aku pengen pulang’ seolah menjadi melodi sedih yang berulang dalam percakapan mereka belakangan ini.

"Memang sebelum meninggal dia sudah pengen pulang terus. Dia bilang, 'Mama, aku pengen pulang ke rumah Mamah, aku pengen pulang. Aku kangen sama Mamah. Aku pengen di rumah Mamah aja'," kenang Sri dengan suara bergetar.

Mendengar keluh kesah sang putri, Sri sebagai seorang ibu hanya bisa memberikan pelukan lewat kata-kata.

Ia mencoba menenangkan Harum yang saat itu tampak sedang menanggung beban rindu yang berat.

"Aku bilang, kalau kamu sudah enggak kuat, kalau kamu pengen pulang, pintu Mamah selalu terbuka buat kamu," ucap Sri.

Dalam percakapan terakhir itu, Harum sempat berjanji akan menemui ibundanya pada akhir pekan ini. Sebuah janji yang kini hanya tinggal kenangan.

"Iya Mah, nanti aku pulang ya Mah. Nanti hari Jumat aku pengen ke rumah Mamah. Boleh ya Mah?" ujar Sri menirukan ucapan Harum.

"Boleh, aku bilang begitu," lanjutnya.

Namun, takdir berkata lain. Sebelum hari Jumat itu tiba, Harum ‘pulang’ lebih awal. Bukan ke rumah hangat sang ibu di kawasan Cipayung Jakarta, melainkan pulang ke hadirat Allah SWT.

Keluarga besar tak pernah menyangka bahwa permintaan Harum untuk pulang ke rumah ibunya adalah isyarat bahwa ia akan pergi selama-lamanya.

"Kami semua kaget, tidak menyangka secepat itu dia pergi," pungkas Sri.

Sebelumnya, Harum Anjasari merupakan salah satu dari 10 korban kecelakaan kereta yang meninggal dunia dan berhasil teridentifikasi.

Identifikasi rampung pada Selasa (28/4/2026) sore di Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I Pusdokkes Polri, Jakarta Timur.

Kepala Rumah Sakit (Karumkit) RS Polri Kramat Jati, Brigjen Prima Heru Yuliharyono, menyatakan bahwa proses identifikasi berjalan lancar berkat kerja sama tim gabungan DVI Polri.

"Telah menyelesaikan seluruh pemeriksaan terhadap 10 kantong jenazah yang dikirim dari TKP," kata Prima di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026).

Prima merinci bahwa jumlah korban yang dilaporkan oleh pihak keluarga juga sebanyak 10 orang, sesuai dengan jumlah jenazah yang diterima tim forensik.

"Jumlah korban yang dilaporkan oleh pihak keluarga sampai saat ini sebanyak 10 orang. Pada pukul 14.00 WIB telah dilaksanakan sidang rekonsiliasi untuk menentukan identitas korban dan memutuskan 10 jenazah telah berhasil diidentifikasi," ungkapnya.

Berikut adalah rincian 10 jenazah korban tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur yang telah berhasil diidentifikasi:

1. Tutik Anitasari (P/31)

2. Harum Anjasari (P/27)

3. Nur Alimantun Citra Lestari (P/19)

4. Farida Utami (P/52)

5. Vica Acnia Fratiwi (P/23)

6. Ida Nuraida (P/48)

7. Gita Septia Wardany (P/20)

8. Fatmawati Rahmayani (P/29)

9. Arinjani Novita Sari (P/25)

10. Nur Ainia Eka Rahmadhyna (P/32)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.