TRIBUNNEWS.COM - Peran Inggris dalam konflik Iran kembali disorot setelah analisis data satelit mengindikasikan keterlibatan intelijen yang lebih dalam dari yang selama ini diakui pemerintah.
Laporan terbaru mengungkap dugaan keterlibatan tersembunyi Inggris dalam perang Iran melalui operasi intelijen berbasis satelit.
Analisis data menunjukkan aktivitas pengintaian meningkat tajam sebelum serangan militer terjadi.
Melansir Declassified UK, satelit militer Inggris bernama Tyche mencatat lonjakan signifikan lintasan di atas wilayah Iran menjelang konflik.
Jumlah pemantauan meningkat lebih dari 300 persen, dari 12 lintasan pada April menjadi 50 lintasan pada Juni saat perang berlangsung.
Satelit tersebut memiliki kemampuan resolusi tinggi hingga 90 cm, memungkinkan identifikasi posisi pasukan dan kendaraan militer secara detail.
Bahkan, data menunjukkan satelit sempat melintasi sejumlah target militer Iran sebelum lokasi tersebut diserang oleh Amerika Serikat atau Israel.
Temuan ini memunculkan dugaan bahwa Inggris tidak sekadar berperan defensif, melainkan turut menyuplai intelijen strategis dalam operasi militer.
Namun, Kementerian Pertahanan Inggris menolak memberikan rincian terkait kemungkinan berbagi data dengan sekutu, dengan alasan kerahasiaan intelijen.
Sebelumnya, pemerintah Inggris bersikeras keterlibatannya terbatas pada dukungan defensif untuk melindungi kepentingan nasional dan sekutu.
Laporan parlemen Inggris justru menyebut adanya “kesenjangan signifikan” antara narasi politik dan realitas dukungan militer yang diberikan.
Baca juga: Trump Diprediksi Cari Celah Perpanjangan Perang Iran-AS, Potensi Buat Krisis Global
Keterlibatan Inggris dalam konflik ini juga diperkuat oleh laporan lain yang menyebut adanya penggunaan fasilitas militer Inggris oleh Amerika Serikat dalam operasi terhadap Iran, meskipun sempat menuai perdebatan internal pemerintah.
Selain itu, pejabat pertahanan Inggris mengakui penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis citra satelit dan mempercepat pengambilan keputusan di medan perang.
Teknologi ini disebut berperan dalam memantau aktivitas rudal Iran dan mendukung operasi sekutu di kawasan Timur Tengah.
Temuan ini menambah daftar panjang kontroversi keterlibatan negara Barat dalam konflik Iran, sekaligus memperkuat dugaan bahwa perang modern tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga melalui dominasi data dan intelijen.
(*)