Jakarta (ANTARA) - Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengusulkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia menyusun kurikulum keselamatan transportasi sejak dini, menyusul kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur yang merenggut belasan korban jiwa.
“Disarankan Mendikdasmen membuat kurikulum keselamatan bertransportasi agar anak-anak sejak usia dini memahami pentingnya keselamatan berlalu lintas,” kata Djoko saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
Djoko menekankan kurikulum tersebut perlu memuat konsep 3E, yakni edukasi (education), rekayasa (engineering), dan penegakan hukum (enforcement).
Menurut dia, penanaman kesadaran keselamatan berlalu lintas sejak usia dini penting agar menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
“Keselamatan transportasi adalah investasi jangka panjang, bukan sekadar beban biaya,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan Kementerian Perhubungan serta pihak terkait lainnya dalam menyusun dan mengimplementasikan kurikulum tersebut secara efektif.
Salah satu edukasi dalam kurikulum itu, kata Djoko, dapat mengajarkan agar setiap pengguna jalan raya yang hendak melintasi jalur kereta wajib mendahulukan perjalanan kereta.
Kemudian, Djoko mengusulkan kurikulu mencakup soal palang pintu perlintasan bukan alat pengaman utama dan bukan merupakan rambu lalu lintas. Namun, hanyalah alat bantu untuk mengamankan perjalanan kereta api.
"Hingga saat ini sudah banyak korban meninggal sia-sia karena kelalaian dan ketidakdisiplinan ketika melewati perlintasan KA," ucap dia.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan di tahun 2026, tercatat sebanyak 40 kecelakaan terjadi di perlintasan sebidang. Mayoritas insiden (57,5 persen) terjadi di perlintasan tanpa palang pintu sebanyak 23 kejadian, sementara 17 kejadian lainnya (42,5 persen) terjadi di perlintasan berpalang pintu.
Pemicu utama kecelakaan didominasi oleh perilaku pengendara yang menerobos (34 kasus), diikuti kendaraan mogok (4 kasus), dan keterlambatan penutupan palang pintu (3 kasus). Dampak kecelakaan ini sangat fatal, merenggut 25 nyawa (61 persen), serta menyebabkan 5 luka berat (12 persen) dan 11 luka ringan (27 persen). Adapun kendaraan yang terlibat meliputi 22 mobil (55 persen) dan 18 sepeda motor (45 persen).
Selanjutnya, sebagai penyebab kejadian mogok di perlintasan adalah (1) mobil berhenti mati mesin di perlintasan, (2) roda ban belakang motor tersangkut karena membawa beban bawaan berat dagangan, seperti ayam, (3) mobil mengalami gangguan mesin saat berada di tengah rel, dan (4) truk lowdeck tersangkut karena elevasi gradien di perlintasan tidak sesuai dengan truk.





