TRIBUNJAKARTA.COM - Nurlaela, seorang guru SDN Pulogebang 11, Cakung, Jakarta Timur tewas dalam kecelakaan kereta KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026).
Nurlaela rutin menggunakan KRL untuk pulang ke rumahnya di Kampung Ceger, Desa Tanjungbaru, Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi.
Ia dimakamkan di pemakaman yang tidak jauh dari rumah duka pada Selasa (28/4/2026).
Baru Lulus S2
Akun instagram @festivalgurupaud, menyebutkan bahwa Nurlaela baru saja lulus S2. Ia naik KRL setiap hari tanpa keluhan.
Akun instagram Universitas Negeri Jakarta telah menyampaikan ucapan duka cita.
"Rektor dan Keluarga Besar Universitas Negeri Jakarta
Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Wafatnya
Nurlaela, M.Pd.
Pada Senin, 27 April 2026
"Semoga segala amal kebaikan almarhumah diterima dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Aamiin Ya Rabbal Alamin.." tulis akun instagram @unj_official, Rabu (29/4/2026).
Akun instagram @festivalgurupaud menyebutkan Nurlaela meninggal seorang anak.
"Tiga bulan lalu ia baru lulus S2. Ia meninggalkan seorang anak yang duduk di kelas 6 SD. Tidak ada kata yang cukup. Hanya doa, dan penghormatan. Selamat jalan, Bu Nurlaela. Semoga tenang di sana. Al-Fatihah," tulis akun tersebut.
Dalam komentar akun @festivalgurupaud, akun @putramahesaaa_ mengaku sebagai murid Nurlaela.
Ia lalu memberikan kesaksian terkait putra Nurlaela.
"Qodarullah, kebetulan saya juga murid beliau, saya sekarang sudah jdi guru, bu❤ kemarin, anakmu membela tim sekolahnya sebagai kiper, tanpa diduga, rekan saya bilang kalau anaknya ibu, adalah anak yang sempat bercanda bergurau dengan saya bu Surga tempatmu," tulis akun @putramahesaaa_
"Lho ternyata bapak mahesa pernah diajar sm almarhumah? Berarti beliau pernah ngajar di cikarang ya pak?" tanya akun @kaffa_silmy.
"Pernah pak kan beliau di kitri bakti juga waktu itu," jawab Mahesa.
Di hadapan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang datang melayat ke rumah duka di Cikarang Timur, anak tunggal Nurlaela menceritakan momen terakhir komunikasinya dengan sang ibu.
Pesan itu dikirim pada pukul 17.30 WIB, beberapa jam sebelum kecelakaan terjadi.
“Iya, saya tanya ‘Mamah di mana’, dijawab masih di sekolah, pulang malam,” ujar sang anak dengan suara lirih.
Sang anak tak membalas lagi pesan tersebut, karena sudah terbiasa ibunya pulang larut saat ada kegiatan sekolah.
Namun malam itu berbeda—hingga larut, Nurlaela tak kunjung tiba di rumah.
"Biasanya kalau ada kegiatan jam 9 atau 10 itu sudah pulang. Ini belum pulang-pulang juga," lirih suami korban saat menceritakan detik-detik kecemasan mereka kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), Selasa (28/4/2026).
Kegelisahan keluarga berubah menjadi kenyataan pahit saat ponsel Nurlaela ditemukan oleh pihak berwenang di lokasi tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek.
Di rumah duka, suasana haru tak terbendung.
Tangis keluarga pecah saat mengenang sosok Nurlaela, yang dikenal sebagai guru berdedikasi.
Ia telah mengabdi sebagai pendidik di Jakarta Timur dan baru saja menyelesaikan pendidikan magister beberapa bulan lalu.
Nurlaela dikenal sebagai sosok pendidik yang gigih.
Selama empat tahun terakhir, ia rutin menempuh perjalanan jauh dari Cikarang menuju Jakarta Timur demi menjalankan tugas sebagai guru PNS.
Totalitasnya di dunia pendidikan kini menjadi kenangan manis bagi rekan sejawat dan keluarga.
Isak tangis pecah saat jenazah sang guru dimakamkan di pemakaman dekat rumahnya.
Suami dan ibunda korban tak kuasa menahan duka mendalam, sementara sang anak yang kini duduk di bangku kelas 6 SD harus menghadapi masa depan tanpa kehadiran pelukan sang ibu.