Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kota Bandung kembali menghadirkan ruang bagi pelaku seni lokal melalui kegiatan Ruang Seni yang digelar di At Limatuju Coffee, Jalan PH Mustofa no 57, Kota Bandung, Rabu (29/4/2026).
Kegiatan yang dilakoni Ruang Rasa ini menjadi wadah bagi seniman yang memiliki karya, tetapi belum memiliki akses ke ruang pameran maupun jejaring seni yang lebih luas.
Sejak sore hari, deretan kriya hingga lukisan berderet rapi di meja-meja yang disediakan. Menjelang malam, sound check mulai terdengar, tak lama dari sana satu per satu musisi unjuk kebolehan suara emasnya.
Founder Ruang Rasa, Alpin Dulag, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keresahan melihat banyak seniman berbakat yang aktif berkarya sejak kecil, tetapi tidak memiliki tempat untuk menampilkan hasil karyanya.
“Dari Ruang Rasa, kami ingin menjaring teman-teman seniman yang tidak punya wadah, tapi punya skill. Banyak yang ikut ini bukan lulusan seni atau fakultas kesenian, tapi memang dari kecil sudah aktif berkarya,” ujar Alpin, kepada Tribunjabar.id, Rabu (29/4/2026).
Dalam pameran ini, Ruang Rasa menggandeng sejumlah tenant dan komunitas kreatif serta seniman.
Menurut Alpin, mereka memiliki potensi, tetapi terkendala akses untuk masuk ke ekosistem pameran yang lebih inklusif.
“Kami berharap kegiatan ini bisa membawa karya mereka ke level yang lebih luas. Jadi orang-orang yang selama ini enggak punya link besar bisa mulai dikenal,” katanya.
Alpin menuturkan, acara ini juga menghadirkan pertunjukan musik dari musisi lokal Bandung seperti Imam Kelana, Alda Abdilah, dan kolektif Proyek Berdua yang beranggotakan Widi, Ari, Hilmi, dan Raha.
Konsepnya serupa dengan seni rupa, yakni memberi panggung bagi musisi lokal yang telah memiliki karya, tetapi belum memiliki ruang aktivasi maupun pasar yang cukup besar.
“Kalau musisi yang sudah terkenal kan sudah punya market. Nah, kami ingin membawa musisi lokal ini supaya lebih dikenal dan market-nya lebih luas,” kata dia.
Kegiatan ini juga diramaikan dengan talk show yang membahas pentingnya membangun ruang kreatif inklusif bagi masyarakat umum.
"Diskusi tersebut diarahkan untuk membuka peluang kolaborasi, sekaligus memberikan edukasi dan apresiasi kepada seniman yang belum mampu melanjutkan pendidikan formal di bidang seni," kata dia.
Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati beragam karya visual, mulai dari lukisan arsiran dua dimensi hingga empat dimensi, miniatur karya anak-anak TK dan SD hingga konsep visual interaktif open air photobooth.
Alpin menyebut keberagaman karya ini menunjukkan bahwa seni tidak hanya lahir dari institusi formal, tetapi juga tumbuh dari kebiasaan dan minat yang diasah sejak dini.
“Banyak anak-anak sampai anak muda yang sebenarnya punya potensi. Tinggal bagaimana mereka diberi ruang untuk berkembang,” ujarnya.
Ke depan, pihaknya berencana menjadikan kegiatan serupa sebagai agenda berkelanjutan dengan skala yang lebih besar dan cakupan seni yang lebih luas, termasuk instalasi seni serta pameran tematik.
“Harapannya, orang-orang yang punya potensi seni tapi enggak punya wadah bisa naik level ke pameran yang lebih inklusif. Mudah-mudahan Ruang Rasa juga bisa bikin acara yang lebih besar lagi,” kata Alpin.