Kisah Seorang Ayah 74 Tahun Selamatkan Putrinya dari Reruntuhan Gerbong Kereta di Bekasi
Joanita Ary April 29, 2026 11:19 PM

WARTAKOTALIVECOM, Jakarta —
Di saat sebagian orang hanya bisa menunggu kabar dengan cemas, Mahfud justru berlari menembus malam menuju lokasi bencana.

Naluri seorang ayah mengalahkan rasa takut, mendorongnya untuk mendekat ke sumber petaka yang baru saja merenggut banyak korban.
Malam itu, sekitar pukul 22.00 WIB, telepon berdering di genggamannya.

Di seberang, suara putrinya, Endang Kuswati, terdengar lemah dan tersendat oleh tangis. Ia terjebak di dalam gerbong kereta yang ringsek, di antara himpitan besi dan tubuh para penumpang lain.

Percakapan singkat itu menjadi satu-satunya penanda bahwa sang putri masih bertahan.

Tanpa ragu, Mahfud yang telah berusia 74 tahun bergegas menuju lokasi kecelakaan kereta di Bekasi Timur. 

Malam semakin larut, tetapi waktu seolah berjalan lambat bagi dirinya.

Di tengah hiruk-pikuk sirene dan teriakan petugas, ia menunggu kesempatan untuk masuk ke area evakuasi. 

Harapan dan kecemasan bercampur, membentuk keteguhan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Baru menjelang dini hari, Mahfud diperkenankan mendekat. Ia menyusuri reruntuhan gerbong yang hancur, mencoba mengenali jejak putrinya di antara serpihan besi.

Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian itu, ia menemukan sesuatu yang begitu ia kenal pakaian yang dikenakan Endang.

Endang masih hidup, namun tubuhnya terjepit, terkurung di antara korban lain yang sudah tidak bernyawa.

Waktu menjadi musuh sekaligus harapan.

Hampir sepuluh jam ia bertahan di posisi itu, sementara di luar, sang ayah menahan kecemasan yang nyaris tak tertanggungkan.

Upaya evakuasi berlangsung perlahan dan penuh kehati-hatian.

Petugas harus memastikan setiap langkah tidak memperparah kondisi korban yang masih terjebak.

Hingga akhirnya, sekitar pukul 06.00 WIB, Endang berhasil dikeluarkan dari gerbong. 

Ia menjadi korban terakhir yang dievakuasi dari rangkaian kereta yang luluh lantak itu.

Endang ditemukan dalam keadaan hidup. Ia segera dibawa menggunakan tandu untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.

Di tengah kabar duka yang menyelimuti tragedi tersebut, keselamatannya menjadi secercah harapan.

Peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi Timur yang melibatkan KRL relasi Bekasi–Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Hingga kini, penyebab kecelakaan masih dalam penyelidikan pihak berwenang.

Namun di balik tragedi itu, kisah Mahfud dan Endang menghadirkan narasi lain tentang keteguhan, tentang ikatan yang tidak runtuh bahkan ketika segalanya hancur.

Seorang ayah yang memilih mendekat saat orang lain menjauh, dan seorang anak yang bertahan di batas antara hidup dan mati.

Di titik paling gelap, harapan ternyata masih menemukan jalannya.

Bagi orang tua, selama napas masih ada, keyakinan untuk menyelamatkan anak tak pernah benar-benar padam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.