Mobil Terbang Diprediksi Banyak Digunakan 10 Tahun ke Depan, Ini Alasannya
Naufal Shafly April 30, 2026 01:33 AM

Naufal/GridOto.com
Aridge Traveller X2. Salah satu model mobil terbang garapan Aridge, brand di bawah naungan Xpeng.

GridOto.com – Impian banyak orang terkait mobil terbang tampaknya bukan lagi sekadar konsep futuristik.

Sebab, Xpeng melalui brand Aridge sudah memperkenalkan mobil terbang mereka yang diberi nama Land Aircraft Carrier.

Meski begitu, untuk bisa digunakan secara luas alias masif, ternyata masih butuh waktu.

Hal ini diungkapkan oleh Wang Tan, Co-founder sekaligus Vice President Aridge, dalam sesi workshop Xpeng Physical AI Immersive China Tour 2026 di Beijing, Kamis (23/4/2026).

Menurutnya, saat ini teknologi mobil terbang memang sudah mulai masuk tahap nyata.

Namun, untuk benar-benar bisa digunakan oleh banyak orang, prosesnya tidak bisa instan.

“Kalau bicara skala besar, menurut saya butuh setidaknya 10 tahun. Sekarang ini masih tahap awal, semacam kick-off,” jelas Wang Tan.

Ia menyebut, produk yang saat ini diperkenalkan masih berada di tahap awal komersialisasi, layaknya mobil mewah yang belum bisa dijangkau semua kalangan.

Sebagai gambaran, harga mobil terbang saat ini masih berada di kisaran 300.000 dolar Amerika Serikat, atau jika dirupiahkan sekitar Rp 5,1 miliar.

Brand mobil terbang Xpeng Aridge
Naufal/GridOto
Brand mobil terbang Xpeng Aridge

Dengan harga tersebut, pasar awalnya tentu masih terbatas.

“Untuk sekarang, kami tidak menargetkan volume besar. Kami mulai secara bertahap, seperti mobil mewah,” tambahnya.

Selain faktor harga, tantangan lain datang dari sisi penggunaan dan ekosistem.

Wang Tan menjelaskan, salah satu alasan kenapa XPENG mengembangkan konsep Land Aircraft Carrier adalah untuk mempermudah penggunaan mobil terbang.

Demo terbang Aridge Land Aircraft Carrier
Naufal/GridOto.com
Demo terbang Aridge Land Aircraft Carrier

Sebab, jika hanya berupa pesawat saja, pengguna akan kesulitan dalam hal penyimpanan, transportasi, hingga lokasi lepas landas.

“Kalau hanya pesawat, Anda butuh trailer untuk membawanya ke lokasi terbang. Itu tidak praktis. Makanya kami buat konsep gabungan dengan mobil,” jelasnya.

Konsep ini memungkinkan unit pesawat disimpan di dalam kendaraan, sekaligus memudahkan mobilitas menuju lokasi terbang.

Di sisi lain, regulasi juga menjadi faktor penting sebelum mobil terbang bisa digunakan secara luas.

Karena itu, ekspansi global akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari wilayah yang lebih siap secara regulasi.

eVTOL Flying Car. Salah satu mobil terbang garapan Aridge
Naufal/GridOto.com
eVTOL Flying Car. Salah satu mobil terbang garapan Aridge

“Pertama kami akan mulai dari Timur Tengah, lalu baru ke negara lain setelah mendapatkan sertifikasi yang dibutuhkan,” ungkapnya.

Selain regulasi, faktor infrastruktur juga ikut menentukan.

Saat ini, penggunaan mobil terbang masih terbatas di area tertentu seperti flying camp atau lokasi khusus yang sudah memiliki izin.

Namun, Wang Tan mengungkapkan bahwa jumlah fasilitas tersebut terus berkembang.

“Sekarang sudah ada lebih dari 200 flying camp, dan jumlahnya terus bertambah karena banyak pihak ingin bekerja sama,” ujarnya.

Meski begitu, Wang Tan optimistis mobil terbang akan menjadi bagian dari masa depan transportasi.

Dengan perkembangan teknologi baterai dan sistem penerbangan, ia meyakini mobilitas tiga dimensi akan benar-benar terwujud dalam 10 hingga 15 tahun ke depan.

“Impian saya sederhana, semua orang bisa terbang. Freedom to fly,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.