TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Hingga Kamis (30/4/2026) sekira pukul 02.30, puluhan petugas Dinas Kebakaran Kota Semarang berjibaku untuk memadamkan api agar dampaknya tidak semakin meluas.
Data sementara menyebut, ada sekira 220 kios yang mayoritas dihuni PKL dan sekira 26 ruko di bagian depan kompleks Pasar Kanjengan Semarang yang terbakar.
Namun mengenai penyebab atau titik awal api, petugas masih akan memeriksa secara lebih detail lagi. Saat ini mereka masih fokus pada pendinginan dengan menelusuri setiap titik yang terbakar di kompleks tersebut.
Seorang saksi, Anton (36), penjual buah di Pasar Kanjengan Semarang menyadari api pertama kali muncul sekira pukul 23.00. Itu saat dirinya sedang berada di sekitar lapak.
Namun Anton tak mengetahui pasti penyebab terjadinya kebakaran.
Baca juga: Detik-detik Pasar Kanjengan Semarang Terbakar, Rusianti: Listrik Padam
• Disdag: 220 Kios dan 26 Ruko Terdampak Kebakaran Pasar Kanjengan Semarang
“Awalnya dari keranjang atau peti buah kosong di ujung utara. Saya dengar letupan berkali-kali,” ujarnya kepada Tribunjateng.com, Kamis (30/4/2026) dini hari.
Dalam waktu singkat, kobaran api membesar dan mulai menjalar ke bangunan yang ada di sekitarnya.
Sekria 15 menit setelah titik awal, api sudah merambat ke deretan toko di bagian tengah pasar.
“Orang-orang berteriak, ada kebakaran, ada kebakaran,” katanya.
Dia menyebut, api secara cepat melalap pertokoan di tengah pasar yang sebagian besar menjual pakaian, sandal, hingga barang plastik.
Meski begitu, ada pula sejumlah kios yang dalam kondisi kosong.
“Yang di tengah itu banyak toko kecil-kecil, ada ratusan. Isinya macam-macam,” jelasnya.
Diawali Listrik Padam, Nyaris Terjebak Api
Di sisi lain, Rusianti yang sudah puluhan tahun berdagang di kawasan itu nyaris terjebak saat api melalap deretan ruko di Blok F.
Rabu (29/4/2026) malam itu, Rusanti yang kesehariannya berdagang buah itu sudah bersiap beristirahat di lapak sederhana yang juga dia gunakan untuk tidur.
“Saya sudah mau tidur, anak saya tadi habis main. Kondisinya memang sudah gelap karena mati lampu,” ujarnya.
Menurutnya, listrik di kawasan pasar padam terlebih dahulu sebelum muncul kabar adanya kebakaran.
Namun dia tidak bisa memastikan apakah padamnya listrik menjadi penyebab atau justru dampak dari api yang mulai membesar.
“Awalnya mati lampu. Saya kira memang listrik padam biasa. Tapi ternyata ada yang teriak kebakaran dari arah pojok sana (timur),” katanya.
Teriakan itu sontak membuatnya panik. Dalam kondisi gelap, Rusianti bergegas keluar menyelamatkan diri.
“Langsung bangun dan keluar. Gelap, tapi harus keluar,” ujarnya singkat.
Rusianti menyebut, api pertama kali terlihat dari bagian sudut bangunan.
Dalam waktu singkat, kobaran membesar dan menjalar ke ruko lain.
Perempuan yang sudah menempati lokasi tersebut sejak akhir 1990 itu mengatakan, kebakaran kali ini menjadi yang pertama selama dia berdagang di Pasar Kanjengan.
“Sudah lama di sini, dari anak saya lahir pada 1997. Baru kali ini ada kebakaran sebesar ini,” ungkapnya.
Di lokasi tersebut, Rusianti sehari-hari berjualan buah, khususnya pepaya.
Namun pada malam hari, lapaknya lebih sering digunakan sebagai tempat beristirahat karena keterbatasan tempat tinggal.
“Saya jualan pepaya. Tapi malam dipakai tidur, seperti numpang di dekat kamar mandi umum,” jelasnya.
Dia memperkirakan ada sekira 10 hingga 12 pedagang yang sederetan dengannya.
Kini, sebagian besar dari mereka hanya bisa pasrah melihat tempat usahanya terdampak kebakaran.
Rusanti bersyukur masih bisa menyelamatkan diri, meski belum mengetahui pasti kondisi barang dagangannya.
“Yang penting selamat dulu,” ucapnya pelan.
Baca juga: Damkar Kerahkan 10 Armada 60 Petugas untuk Padamkan Api di Pasar Kanjengan Semarang
• BREAKING NEWS, Rabu Malam Pasar Kanjengan Semarang Terbakar
220 Kios Terbakar
Kebakaran yang melanda Pasar Kanjengan Semarang pada Rabu (29/4/2026) malam, berdampak pada ratusan kios dan ruko di lokasi tersebut.
Kepala Disdag Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva mengatakan, pihaknya menerima informasi kebakaran Pasar Kanjengan pada sekira pukul 23.15.
Dia menjelaskan, mayoritas yang terdampak merupakan kios pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini menempatinya secara swadaya.
“PKL di Pasar Kanjengan itu ada sekira 200, ditambah di Blok F sekira 20. Jadi total ada sekira 220 pedagang yang terdampak pada kebakaran itu."
"Namun itu data sementara, untuk pastinya akan kami data kembali,” jelasnya.
Selain itu, terdapat pula puluhan ruko di bagian depan yang ikut terdampak kebakaran.
“Untuk ruko yang di depan, ada sekira 26 yang terkena dampak,” tambahnya.
Sebagai langkah awal, Pemkot Semarang akan menyiapkan lokasi relokasi sementara bagi para pedagang agar tetap bisa berjualan.
“Kami siapkan tempat di Pasar Kanjengan gedung baru. Mereka bisa tempati untuk sementara waktu agar tetap bisa berjualan,” katanya.
Tak hanya itu, opsi relokasi juga dibuka di kawasan Pasar Johar lainnya hingga Pasar Tanjungkarang.
“Yang jelas, pedagang yang terdampak bisa memanfaatkan lokasi yang sudah kami siapkan, baik di Johar maupun Kanjengan (gedung baru)," ujarnya.
Terkait kerugian, Aniceto menyebut angka sementara diperkirakan mencapai miliaran rupiah, mengingat lapak dibangun secara mandiri oleh para pedagang.
“Perkiraan awal sekira Rp1,5 miliar. Kalau ditotal bisa mencapai Rp2 miliar hingga Rp2,5 miliar,” ungkapnya.
Meski demikian, pendataan masih terus dilakukan untuk memastikan jumlah kerugian secara rinci.
Dia juga menyampaikan bahwa pemerintah akan membahas langkah lanjutan, termasuk kemungkinan bantuan bagi para pedagang.
Dalam kesempatan itu, Aniceto turut mengapresiasi respons cepat petugas gabungan dalam menangani kebakaran.
“Terima kasih kepada jajaran kepolisian dan tim damkar yang bergerak cepat, sehingga api tidak meluas,” pungkasnya.
Kerahkan 10 Armada 60 Petugas
• Tragedi Adik Tusuk Kakak Hingga Meninggal di Semarang, Ayah Syok Kehilangan Dua Anak Sekaligus
Terpisah, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang mengerahkan sedikitnya 10 armada untuk memadamkan kebakaran yang melanda Pasar Kanjengan Semarang pada Rabu (29/4/2026) malam.
Kepala Dinas Damkar Kota Semarang, Sih Rianung mengatakan, pihaknya menerima laporan sekira pukul 22.00 dan langsung merespons dalam waktu sekira 10 menit.
“Teman-teman langsung sampai ke lokasi, begitu ada laporan kebakaran itu,” ujarnya.
Sekira 60 personel pun diterjunkan dalam upaya pemadaman.
Selain itu, bantuan juga datang dari daerah sekitar seperti satu armada dari Kabupaten Semarang dan satu dari Demak.
“Total ada sekira 10 armada dengan personel lebih dari 60 orang,” jelasnya.
Menurutnya, titik awal api diduga berasal dari bagian pojok bangunan di area belakang pasar.
“Informasi awal dari teman-teman di lapangan, api muncul dari sisi pojok belakang,” katanya.
Dalam proses pemadaman, petugas sempat menghadapi kendala, terutama terkait ketersediaan sumber air.
Sejumlah rumah hydrant di lokasi tidak dapat difungsikan secara optimal.
“Ada beberapa rumah hydrant di sekitar lokasi yang tidak bisa digunakan, ada yang tidak memiliki baterai, ada juga yang panel listriknya sudah dicopot,” ungkapnya.
Kondisi tersebut sempat menyulitkan petugas dalam memperoleh suplai air di awal penanganan.
Namun upaya pemadaman tetap berjalan dengan dukungan sumber air lain.
“Untungnya di dalam rumah hydrant masih ada tandon bawah dengan tekanan air yang cukup kuat, sehingga masih bisa dimanfaatkan oleh petugas,” tambahnya.
Selain itu, suplai air juga dibantu oleh PDAM dan BPBD, sehingga proses pemadaman dapat berlangsung relatif lancar.
“Kendala ada, tapi secara umum bisa diatasi karena ada bantuan suplai air,” ujarnya.
Saat ini, kondisi api telah dapat dikendalikan dan petugas masih melakukan proses pendinginan di beberapa titik untuk mencegah api kembali menyala.
Terkait penyebab kebakaran, pihaknya masih menunggu hasil investigasi yang akan dilakukan tim pada Kamis (30/4/2026) pagi. (Rezanda Akbar)