Semangat Tukang Gali Kubur dan Batu demi Wujudkan Mimpi Naik Haji, BPKH Nyata Melayani Sepenuh Hati
adisaputro April 30, 2026 05:36 AM

TRIBUNWOW.COM – Cuaca panas dan dingin sudah jadi sahabat tubuh rentanya.

Setiap ada panggilan kemanusiaan, tak kenal waktu dan cuaca jadi tanggung jawab yang selalu amanah dilakukannya.

jadi amanah yang sudah diemban.

Bergelut dengan dalamnya tanah jadi tantangan dalam keseharian dan waktunya.

Sunyinya tempat perisitirahatan terakhir jadi pemandangan dan situasi yang selalu dilihatnya.

Deras dan bekunya keringat karena terik panas atau dinginnya malam sudah biasa dihadapinya.

“Piye kurang jero gak (Gimana, kurang dalam nggak),” begitu lah gambaran isi percakapannya ketika menjalankan pekerjaannya.

Ya, begitu lah gambaran keseharian dari Temon Kartosemito.

Tukang gali kubur yang dengan ikhlas senantias membantu sesame demi misi kemanusiaan.

Pacul, topi, kaos dan celana pendek jadi teman setia yang selalu dikenakannya saat bertugas.

Ikhtiar Haji Seorang Tukang Gali Kubur-Kuli Bangunan

POTRET TEMON - Momen Temon sedang bekerja menjadi kuli bangunan.
POTRET TEMON - Momen Temon sedang bekerja menjadi kuli bangunan. (HO/TribunWow/Adi Manggala Saputro)

Temon menceritakan perjuangannya dalam mencari nafkah sebagai tukang gali kubur.

Menurutnya, upah yang didapatkannya pun kadang tak langsung diberikan.

Semua tergantung dari kondisi keluarga masing-masing yang meminta bantuan jasanya.

 “Kalau untuk gali kubur, kalau ada yang meninggal khususnya kampung sini, sekitar sini, kalau dikuburkan di tempat makam Bayan itu, saya istilahnya termasuk tukang gali nya. Ada rombongan 5 orang, istilahnya kalau sudah selesai terkadang langsung dikasih terkadang di lain hari baru dikasih,” ujar Temon kepada TribunWow.com pada Senin (6/4/2026).

Meski begitu, upah Rp130.000 biasa didapatkannya dari jasanya menggali kubur.

Itu pun tak lantas dihabiskan semuanya.

Melainkan, Temon sisihkan Rp100.000 ditabung untuk bisa mendaftarkan haji dan sisanya digunakan untuk pegangan.

“Bagian saya sekitar Rp130 ribu, 100 saya sisihkan saya celengin, yang 30 untuk pegangan, itu kalau ada, kadang seminggu 3 kali, kadang 2 bulan tidak ada,” jelasnya.

Tak hanya bergantung sebagai tukang gali kubur semata, pria paruhbaya berusia 73 tahun itu juga berikhtiar kumpulkan uang demi haji dengan menjadi kuli bangunan.

Uang pendapatannya dari kuli bangunan pun juga turut disisihkan demi bisa berangkat ke Baitullah.

“Untuk kerja sebagai kuli, bayaran saya Rp110.000 per hari. Kalau ada gajian malam minggu sebagian saya sisihkan, sebagian buat pegangan, kan untuk makan sudah diurusin sama anak, saya pakai untuk jajan dan kebutuhan lainnya, setiap harinya seperti itu,” ungkapnya.

Meski menjadi kuli bangunan, tak lantas membuat Temon menyisihkan pekerjaannya sebagai tukang gali kubur.

“Kalau untuk kerjaan tukang bangunan itu, alhamdulilah kerja di Payaman itu sampai 7 bulan itu alhamdulilah rutin kerja, tapi kalau ada yang layatan atau ada yang membutuhkan saya ambil libur dulu,” ungkap bapak 4 orang anak tersebut.

Selain menyisihkan uang dari pekerjaanya, Temon juga turut menjual aset warisan pemberian dari ayahnya demi bisa bertamu ke rumah Allah di tanah suci Mekkah.

Sementara kekurangan biaya lainnya Temon ambil dari pinjaman sanak saudara.

Dengan dikembalikan secara cicilan yang dibantu oleh beberapa anaknya.

“Waktu mendaftarkan punya tanah yang lumayan, saya bilang ke anak-anak untuk haji, anak-anak memperbolehkan, saya jual di tahun 2012 dan 2025 bisa naik haji, alhamdulilah sehat dan barokah.”

“Saya bisa nyelengin sedikit demi sedikit, saya sebelum naik haji itu sudah ada tabungan sedikit demi sedikit, terus pinjam sedikit yang penting saya bisa naik haji, saya pinjam adik ipar, sebenarnya mau dipakai naik haji juga, namun akhirnya diberikan saya terlebih dahulu, lalu saya cicil. Nanti untuk melunasi hutang bisa dicarikan dikit demi sedikit,” kata Temon seraya mengingat masa perjuangannya untuk haji.

Ditinggal Istri Pulang ke Rahmatullah

Seraya meneteskan air mata, Temon dan anak tertuanya, Triyem tak kuasa mengingat jasa besar istrinya di balik keberhasilannya pergi ke Baitullah.

Profesinya sebelum jadi tukang gali kubur dan bangunan yakni tukang becak.

Pekerjaan itu sudah dilakukan Temon sejak tahun 1980 ketika memiliki dua orang anak.

Alih-alih untuk berangkat haji, Temon mengatakan, untuk makan saja dirinya harus berjuang keras mengayuh setidaknya 3 penumpang demi bisa beli beras untuk dimasak istrinya.

“Untuk tukang becak itu waktu daftarkan haji, saya sudah becak itu sejak tahun 1980, anak saya saat itu ada dua. Dulu itu, saya mau masak nasi terus terang, narik 3 penumpang dulu, baru saya bawa pulang di belikan beras baru dimasak sama istri,” jelasnya.

Mengetahui suaminya banting tulang untuk mencari nafkah, almarhumah istrinya pun berinisiatif untuk membantu menopang ekonomi keluarga.

“Lama kelamaan istri ingin usaha bantu lalu jalan-jalan ke pasar, terus ke pasar mana saja dilakoni, terus akhirnya di pasar Penumping ada rezeki jodoh, di Penumping jadi, lalu tahun 2012 saya jual kebun itu buat daftar haji,” ungkap Temon sembari mengingat masa-masa perjuangan bersama almarhumah istrinya.

Setelah turut dibantu istri dengan berjualan, Temon pun menyampaikan keinginannya untuk bisa berangkat haji.

"Bu iki rodok enek rejeki ki, daftarke haji engko awak dewe nyelengi, sak barre daftarke haji awak dewe nyelengi (Bu ini ada sedikit rezeki, daftar haji nanti kita nyelengin, daftar dulu terus nyelengin-red),” ungkapnya mengingat isi pembicaraannya dengan almarhumah istrinya.

“Nggeh mboten nopo-nopo pak (ya tidak apa-apa pak-red),” jawab istrinya saat itu yang ditirukan oleh anak pertama Temon, Triyem.

Temon menceritakan, masa perjuangan dengan sang istri untuk haji saat itu sudah mulai temui titik ringan.

Almarhumah istrinya berjualan gori (buah Nangka-red) dari Pasar Nusukan ke Pasar Penumping setiap hari.

Sementara Temon turut membantu dengan mengangkut buah nangka ke pasar seraya cari penumpang di area Pasar Penumping.

Namun, semua itu berubah seketika setelah istrinya jatuh sakit stroke yang membuatnya tak bisa beraktivitas seperti sedia kala.

“Waktu itu, kalau ibu tidak sakit insyallah bisa menabung sampai berangkat insyallah ringan, karena alhamdulilah saat itu rezekinya ada meski saya becak ibu jualan buah nangka di pasar penumping itu, terus ibu sakit, saya tidak ke pasar, lalu saya jadi kuli bangunan.”

“Saya yang angkut gori (buah nangka) dari pasar nusukan ke pasar penumping itu setiap hari, terus cari tarikan ke pasar penumping, di sana banyak yang suka sama kerja saya, jadi banyak pelanggan. Setelah istri sakit, tidak bisa bantu cari rezeki, istilahnya tumpuan ekonomi saya sendiri, ibu kena stroke jadi tidak bisa ke mana-mana, yang pasti sudah tidak bisa aktivitas, yang pasti buat berobat terus, buat terapi, istilahnya banyak mengeluarkan uang terus, tapi alhamdulilah Allah kasih jalan akhirnya bisa dijalani,” kata Temon menceritakan kisah perjuangannya dengan sang istri.

Namun, perjuangan yang diidam-idamkan Temon bisa berangkat haji bersama istri gagal setelah takdir berkata lain tepat satu tahun sebelum keberangkatan.

Tangis pecah Temon dan anak-anaknya tak kuasa ditahan melihat perjuangan istri sekaligus seorang ibu untuk haji gagal terealisasi tepat satu tahun sebelum berangkat.

Meski begitu, kuota sang istri diberikan Temon kepada Triyem.

“Saat itu mau 1 tahun sebelum berangkat, istri saya meninggal, saya tidak kuat menahan tangis, daftar haji susah payah  tinggal 1 tahun, istri malah tidak bisa haji, kurang setahun haji malah tidak bisa, saya sakit dan nangisnya waktu itu. Setelah itu saya limpahkan ke anak perempuan saya (anak pertama),” ungkapnya.

Mengenang jasa sang ibu, Triyem juga menceritakan tentang kebiasaan ibunya yang sering memberikan oleh-oleh berupa makanan kepada tetangga atau sanak saudara yang hendak pergi haji.

“Waktu ibu masih ada itu saya suka lihat orang haji bawa oleh-oleh, mau pergi haji saya minta doanya, jadi allah membalas itu.”

“Ibu itu suka buat tape atau jenang wajik, Jadi di setiap ada yang mau naik haji maupun pulang haji, ibu dulu itu membuat, kadang itu pernah satu kampung yang mau berangkat 4, jadi buatnya banyak dibagi beberapa tempat tadi,” ujar Triyem mengenai sosok ibunya.

Ia juga mengingat pesan semangat juang ibunya yang bertekad untuk menyusul tetangga maupun sanak saudaranya pergi haji.

“Ibu pernah bilang, sekarang saya yang ngasih nak, tapi besok kan aku juga seperti itu juga, bisa dibantu juga, dan doa ibu itu benar-benar tercapai, sampai satu bulan itu tamu saya tercapai,” katanya.

Ikhtiar Tukang Batu demi Naik Haji

Potret Hantoro, tukang batu yang tengah menyelesaikan pekerjaannya merapikan jalanan masjid di area Gentan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (25/10/2024).
Potret Hantoro, tukang batu yang tengah menyelesaikan pekerjaannya merapikan jalanan masjid di area Gentan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (25/10/2024). (HO TribunWow.com)

Ikhtiar senada juga dilakukan oleh satu di antara tukang batu di Sukoharjo yang sukses naik haji berkat kegigihannya, Hantoro.

Perjuangan Hantoro untuk datang ke tanah suci Makkah dimulai pada tahun 2012.

Saat itu, ia mendatangi salah satu bank syariah di Kota Solo untuk membuka rekening haji.

Selepas menyelesaikan pembuatan rekening haji, Hantoro pun lantas menanyakan tentang program talangan haji kepada petugas bank.

"Saya buka rekening pada bulan Maret tahun 2012 , lalu saya bertanya kepada petugas haji, di salah satu bank syariah di Solo. Saya tanya terkait program talangan haji."

"Waktu itu saya hanya membawa uang Rp 2 juta, lalu petugasnya berkata kalau ingin ikut program talangan haji saldo rekeningnya harus ada Rp 5 juta."

"Kurangan itu lalu saya kejar dari Rp 2 juta sampai akhirnya terkumpul Rp 5 juta, dan akhirnya bulan Mei 2012 bisa terkumpul sebanyak Rp 5 juta dan bisa langsung ikut program talangan haji," ungkap pria berusia 47 tahun itu.

Lebih lanjut, Hantoro menceritakan bagaimana perjuangan peluhnya sampai akhirnya bisa pergi ke tanah suci bulan Juni 2024 lalu.

Dengan meneteskan air mata, Hantoro membeberkan kisahnya yang sampai harus terseok-seok selama 3 tahun demi merealisasikan cita-citanya pergi ke baitullah.

Dalam 3 tahun itu, Hantoro hanya bisa menyisihkan rata-rata uang pendapatan di angka Rp 250 ribu.

Pendapatannya yang hanya sebesar Rp 960 ribu satu bulan sudah terpotong Rp 625 ribu untuk setoran rutin ke program talangan haji.

"Wah itu kalau prosesnya, bisa dikatakan hidup saya harus terseok-seok seperti itu, ya semua juga tau kan, kalau tukang batu itu gajinya berapa, waktu itu kan gajinya kalau tidak salah kalau seminggu full masuk terus 6 hari dikali 4 yang satu bulan Rp 960 ribu, itu kalau full."

"Sedangkan pada kenyataannya, tukang batu kan sering istirahat jadi cuma 5 atau 4 hari kerja itu pun kepotong untuk ikut talangan haji Rp 625 ribu jadi bersihnya bisa tinggal Rp 250-an ribu," ucap Hantoro sembari tak kuasa menahan air matanya.

Dengan uang kisaran Rp 250 ribu itulah Hantoro coba penuhi kebutuhan istri dan keempat anaknya selama 3 tahun.

Belum ditambah pengeluaran tak terduga semisal ada hajatan tetangga atau kebutuhan lainnya.

Meski begitu, Hantoro mengaku tak pernah merasa putus asa.

Ia meyakini, bantuan Allah untuknya pasti ada sehingga tekadnya untuk haji tak pernah padam meski harus hidup mepet dan terseok-seok.

"Uang Rp 250 ribu itu untuk hidup sebulan istri dan anak, itu benar-benar terseok-seok dalam artian seperti itu, tapi ya saya yakin ini janjinya Allah itu tidak berbohong, kalau kita melihat Allah pasti Allah akan membantu saya seperti itu janji Allah dan itu saya jadikan pedoman saya, jadi ya saya bismillah saja."

"Kalau ada uang sisa ya saya menabung kalau tidak ada ya tidak bisa menabung, dan kalau ada tetangga punya hajat ya tidak bisa menabung, kan harus jagong dan sebagainya itu ya jadi mau tidak mau ya harus pandai mengolah uang yang nominalnya Rp 250 ribu untuk kehidupan sehari-hari itu selama 3 tahun," ungkapnya.

Dengan sisa hasil pendapatannya, Hantoro pun sampai tak mampu untuk membelikan baju baru anaknya pada momen lebaran selama dua tahun.

Hanya untuk membelikan mie ayam keluarganya saja, Hantoro sampai tak bisa untuk merealisasikannya.

"Saya ikut program talangan haji 3 tahun,saat itu ditanya petugas hajinya mau yang 3, 2  atau 1 tahun, nah saya memilih yang 3 tahun itu, benar-benar perjuangannya untuk naik haji itu tidak semudah itu, masalahnya saya harus sampai selama 2 tahun itu anak saya sampai tidak saya belikan baju lebaran, ya masalahnya mau ngga mau ya harus begitu, sampai beli mie ayam saja sampai Ya Allah, anakku ingin mie ayam saja saya ya hanya bisa nanti-nanti, tapi ya kembali lagi itu adalah perjuangan supaya bisa haji," ungkapnya seraya menghela nafas saat mengingat perjuangannya dahulu.

Di sisi lain, Hantoro menjelaskan manfaat dari program talangan haji yang ia ikuti.

Sosok Hantoro, tukang batu asal Sukohajo, Jawa Tengah saat berswa foto di tanah suci Makkah, Juni 2024 silam.
Sosok Hantoro, tukang batu asal Sukohajo, Jawa Tengah saat berswa foto di tanah suci Makkah, Juni 2024 silam. (HO TribunWow.com)

"Untuk mudahnya saya artikan, talangan haji itu untuk menyegel angka tahun jadi kalau saya Mei tahun 2012 itu saya kan langsung dapat tahun 2024, jadi hanya sekedar ambil tahun keberangkatannya saja belum dengan pelunasannya," jelas Hantoro.

Mengingat, di tahun 2024, Ongkos Naik Haji (ONH) atau biaya haji mencapai angka Rp 58 juta.

"Masih terus dan itu kan belum ONH, ONH kemarin 2024 kalau tidak salah Rp58 juta, jadi sisa antara 25 juta sampai 58 juta itu kita mengangsur sendiri, jadi talangan 25 juta itu cuma supaya kita menyegel tahun haji saja," ungkapnya.

Untuk mensiasati kekurangan itu, Hantoro memutuskan untuk menabung uang sisanya di rumah.

Sebagian lainnya ia tabungkan di bank.

Namun, program nabung yang ia canangkan itu acap kali tak bisa dilakukan karena adanya kebutuhan mendadak yang tidak bisa ditunda lagi.

"Seperti yang saya sampaikan tadi kalau ada uang sisa ya saya tabung, kadang saya tabung dirumah, saya masukkan ke bank, kadang kalau ketabrak kebutuhan ya saya mau tidak mau ya saya tidak menabung," bebernya.

Selain itu, Hantoro juga turut berpesan kepada jemaah yang memiliki latar belakang ekonomi sepertinya untuk tak putus asa jika memiliki keinginan untuk bisa naik haji.

Hantoro mengungkapkan, haji itu bukan hanya bisa dilakukan oleh orang kaya semata.

Menurutnya, semua bisa haji asalkan memiliki niat dan usaha dalam mewujudkannya.

"Ketika pengajian diterangkan bahwa pahala haji kan besar-besar semua, kan itu semua orang bisa melaksanakan asalkan punya niat dan punya usaha, jadi dalam pikiran saya ya haji tidak hanya untuk orang kaya. Nah itu saya tanam didalam hati saya, orang kaya itu belum tentu mau naik haji belum tentu dia itu bersungguh-sungguh berusaha untuk naik haji, makanya saya ya sudah bismillah saja, ini urusannya gusti Allah nah ternyata ya ada jalan dan dipanggil," pungkasnya.

BPKH Nyata Melayani Sepenuh Hati

Triyem mengungkapkan, proses haji dirinya dan sang ayah sempat mengalami beberapa kendala administrasi.

Namun, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) serta beberapa instansi pemerintah terkait turut berikan pelayanan baik sehingga kerap dimudahkan atau dibantu terkait proses administrasi.

Adanya beberapa kendala administrasi tak terlepas dari pergantian atau alih kursi slot kuota haji dari almarhumah ibunda ke Triyem.

“Allah sudah mengkhendaki kita sebagai tamu allah, dan kita mempersungguh allah beri jalan yang luar biasa, tidak hanya itu saja, termasuk dukungan dari masyarakat sekitar, saudara-saudara, dan paling utama dari Pemerintahan, RT, RW, Dukcapil, Kantor Pos, BPKH dan Pengadilan Agama. Karena saya sebenarnya mengganti alih kursi dari ibu saya ibu Dariyem ke saya ibu Triyem, karena itu semua butuh proses, dan prosesnya tidak mudah ada beberapa kendala,” jelas Triyem.

Kemudahan itu dirasakan Triyem sejak awal proses hingga kepulangannya dengan sang ayah seusai haji.

“Dan sewaktu saya menjalani dari awal sampai saya pulang, saya benar-benar merasakan atau pertolongan serta manfaat yang luar biasa dari instansi pemerintah dari semua sampai ke bawah, selalu beri motivasi dan menyarankan saya yang terbaik, termudah dan termurah bagi saya, dan saya di sana selalu berdoa, dan semoga semua yang bersangkutan dengan saya dari bawah sampai ke atas, saya selalu mendoakan, semoga apa yang diinginkan segera terkabul, dan saya benar-benar bangga jadi WNI dan dibantu oleh pemerintahan Indonesia, benar-benar masyaAllah,” bebernya.

Triyem mengaku sangat terharu dengan peran instansi pemerintah terkait karena mau menunggu meski secara jam kerja sudah tutup.

“Proses mengurus surat itu tidak hanya 1 2 hari, ternyata butuh 1 bulan, dan saya pun bolak-bolak, satu hari bisa  pindah sampai 3-4 kali. Dari instansi lain pun sampai ditunggu, masib ditunggu, saya jam 4 lebih masih ditunggu, meskipun yang lain sudah tutup,” lanjutnya.

Bentuk kepedulian yang lain yakni saat lakukan isi data melalui aplikasi via handphone.

Triyem yang mengaku kesulitan dibantu petugas instansi terkait untuk memasukkan data yang bersifat non pribadi.

“Saya tidak tahu hp, ketik mengetik, itu pun sampai dibantu, tapi bukan yang bersifat pribadi, yang boleh mengetik hanya yang bersangkutan, itu karena sudah aturan, tidak bisa melanggar batas, beliau-beliau mau menunggu sampai putra saya datang,” ungkapnya dengan penuh haru.

Lebih lanjut, secara fasilitas, Triyem mengaku, semuanya sudah terlayani dengan baik dan luar biasa.

Triyem merasakan sendiri bagaimana pelayanan ramah hingga tingkat kepedulian BPKH RI terhadap kondisi jemaah yang dinilai sangat baik.

“Untuk fasilitas dari tanah air sampai tanah suci luar biasa, bukan sekadar omongan saja, tapi saya benar-benar merasakan sendiri, di sana ibadah semuanya lancar, kalaupun ada yang katanya jalan kaki, memang kan di sana ada beberapa metode cara haji, ada yang tanazul, ada yang mukim.”

“Kalau untuk yang jalan kaki itu sebenarnya memang sudah dari awal benar-benar ingin tanazul dari muzdalifah ke Mina jalan kaki, dari Mina ke Jamarot jalan, nah kebetulan, bapak merasakan di tenda Mina. Begitu juga di tenda Arafah bagus, antri wajar, tapi untuk sampai melihat ini-ini tidak, lumayan longgar, kalau di Mina alhamdulilah Tanazul. Untuk makanan, untuk hotel, transportasi, kesehatan dan penyuluhan dan mungkin yang belum tahu caranya ibadah, di bantu dari sana, dijelaskan dari sana, bahkan waktu itu didatangi pemerintah dari sana, di tanyakan apa yang kurang untuk benar-benar memastikan fasilitas,” ujar wanita berusia 43 tahun tersebut.

Contohnya ketika Temon mengalami sakit di tanah suci, dengan sigap, petugas terkait dari BPKH RI memberikan bantuan dan perhatian khusus.

“Bapak sebenarnya juga ingin tanazul, tapi waktu itu allah baru berikah bapak sakit, jadi diharuskan untuk bermukim di Mina, jadi saya yang menjalani dari Arafah ke Mina cuma sebentar langsung ke Jamarot pulang ke hotel Bapak tidak, karena kan sakit jadi di badarkan, di Mina banyak bantuan, makanan melimpah,” pungkasnya.

Komitmen BPKH RI Beri Ketenangan bagi Jemaah Haji dalam Penyaluran Living Cost

Demi komitmen beri ketenangan lebih bagi jemaah haji, BPKH RI salurkan penyaluran living cost sebagai implementasi dari nilai manfaat dana haji.

Penyaluran living cost (biaya hidup-red) untuk jemaah haji merupakan bentuk dukungan nyata agar jemaah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya selama berada di Tanah Suci.

Adanya dukungan ini diharapkan bisa menghadirkan ketenangan sehingga jemaah bisa menjalankan prosesi ibadah haji dengan lebih khusyuk.

Momentum pelepasan jemaah haji kloter empat di Embarkasi Surabaya menjadi satu di antara penanda perjalanan ibadah haji tahun 1447 H/2026.

Momen itu juga jadi ajang kesiapan layanan termasuk dukungan pembiayaan bagi jemaah jadi bagian penting untuk memastikan kelancaran dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Anggotra Badan Pelaksana BPKH, Hary Alexander turut menjelaskan terkait penyaluran nilai manfaat dana haji yang tak cuma berfokus pada aspek pengelolaan saja.

Melainkan juga pada kebermanfaatan yang langsung bisa dirasakan oleh jemaah.

“BPKH memastikan nilai manfaat dari pengelolaan dana haji dapat kembali kepada jemaah, salah satunya melalui pemberian biaya hidup yang mendukung kebutuhan jemaah selama berada di Tanah Suci,” ujarnya dikutip TribunWow.com dari laman resmi BPKH RI, Rabu (29/4/2026).

Adanya penyaluran living coast ini merupakan bentuk dari sinergitas antara BPKH dengan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Kolabrasi ini diharapkan bisa menghadirkan pelayanan yang terintegrasi mulai dari aspek pembiayaan hingga pelaksanaan ibadah.

Sebagai lembaga yang bertugas mengelola dana haji, BPKH terus berupaya menjaga amanah pengelolaan dana secara profesional, transparan dan berbasis pada prinsip syariah.

Optimalisasi nilai manfaat ini bentuk komitmen BPKH untuk terus menghadirkan dukungan nyata bagi jemaah dalam setiap tahap dalam perjalanan ibadah haji.

(TribunWow.com/Adi Manggala S)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.