Perang Iran Habiskan Anggaran AS Rp432 Triliun, Belum Ada Tanda-Tanda Akan Berakhir
Endra Kurniawan April 30, 2026 08:19 AM


TRIBUNNEWS.COM - Perang di Iran telah menelan biaya sekitar 25 miliar dolar AS sejauh ini (sekitar Rp432 triliun), menurut perkiraan Pentagon.

Namun, Menteri Pertahanan Pete Hegseth tidak memberikan indikasi kapan konflik tersebut akan berakhir.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR, Rabu (29/4/2026), Hegseth diinterogasi oleh anggota DPR Adam Smith, seorang Demokrat dari Washington.

Mengutip NPR, Smith bertanya kepada Menteri Pertahanan bagaimana menurutnya perang tersebut akan berakhir.

"Kita harus menghadapi musuh yang sangat bertekad untuk mendapatkan senjata nuklir, bawa mereka ke titik di mana mereka duduk di meja perundingan serta menyerahkannya," kata Hegseth.

"Jadi, mereka belum hancur," jawab Smith.

Hegseth mengatakan bahwa fasilitas nuklir Iran telah dimusnahkan, termasuk persediaan uranium yang sangat diperkaya yang diyakini terkubur di bawah tanah akibat serangan udara AS pada Juni 2025 lalu.

Smith menyatakan bahwa pemerintahan Trump melancarkan perang dua bulan lalu dengan alasan senjata nuklir Iran merupakan ancaman nyata.

"Sekarang Anda mengatakan bahwa senjata itu telah sepenuhnya dimusnahkan."

PERANG IRAN - Tangkap layar YouTube Fox Business memperlihatkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam rapat dengar pendapat (RDP) di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS 29 April 2026. Perang di Iran telah menelan biaya sekitar 25 miliar dolar AS sejauh ini (sekitar Rp432 triliun), menurut perkiraan Pentagon. (Youtube)

Hegseth menanggapi dengan menyatakan bahwa Iran belum melepaskan ambisi nuklirnya.

Selama RDP, Hegseth beberapa kali ditanya mengenai biaya perang.

Ia menjawab, "Berapa nilainya untuk memastikan bahwa Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir?"

Pengontrol keuangan Pentagon, Jay Hurst, yang juga hadir dalam sidang tersebut, mengatakan bahwa perang ini telah menelan biaya sekitar 25 miliar dolar AS sejauh ini.

Baca juga: 5 Populer Internasional: IRGC Dilaporkan Ambil Alih Kekuasaan Iran - UEA Keluar dari OPEC

Pengeluaran utama berasal dari penggunaan senjata yang ditembakkan ke Iran, tambahnya.

Pentagon menyatakan telah menghantam sekitar 13.000 target di Iran sebelum Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata pada 7 April.

Kesaksian Hurst menandai pertama kalinya pemerintahan Trump secara terbuka memberikan perkiraan biaya perang tersebut.

Perang Iran mendominasi sidang yang awalnya dijadwalkan untuk membahas anggaran Pentagon tahun depan.

Pemerintahan Trump mengajukan anggaran sekitar 1,5 triliun dolar AS, meningkat signifikan dari alokasi tahun ini yang sedikit di bawah 1 triliun dolar AS.

Meskipun gencatan senjata dengan Iran telah berlangsung selama tiga minggu, hanya sedikit kemajuan yang dicapai dalam upaya diplomatik.

Negosiator AS dan Iran baru mengadakan satu putaran pembicaraan formal, meskipun mereka telah bertukar pesan dan proposal melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator.

AS dan Iran saling memberlakukan blokade di Selat Hormuz, yang secara efektif menghentikan lalu lintas minyak dan perdagangan lainnya.

Hal ini mendorong kenaikan harga minyak secara drastis dan menyebabkan tekanan ekonomi di seluruh dunia.

Iran menutup Selat Hormuz pada awal perang dengan mengandalkan senjata sederhana seperti ranjau laut, drone, dan rudal dari darat.

AS membalas pada 13 April dengan blokade sendiri yang ditegakkan melalui kehadiran besar angkatan laut.

Kevin Donegan, pensiunan wakil laksamana Angkatan Laut AS yang sebelumnya memimpin Armada Kelima AS yang berbasis di Bahrain, mengatakan bahwa ia yakin AS dapat mempertahankan blokade tersebut tanpa batas waktu.

Kelanjutan Perundingan

PERANG IRAN - Tangkap layar postingan media sosial Donald Trump di Truth Social, 29 April 2026.
PERANG IRAN - Tangkap layar postingan media sosial Donald Trump di Truth Social, 29 April 2026. (Tangkapan layar media sosial)

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa AS saat ini masih berkomunikasi dengan Iran, namun pembicaraan dilakukan melalui telepon, bukan lagi di Pakistan.

“Kita tidak lagi terbang selama 18 jam setiap kali ingin melihat selembar dokumen. Sekarang kita melakukannya melalui telepon, dan itu sangat menyenangkan,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Rabu (29/4/2026) sore waktu setempat, mengutip Al Jazeera.

“Ketika Anda harus terbang 18 jam setiap kali ingin mengadakan pertemuan, dan Anda sudah tahu isi pertemuan itu serta bahwa mereka akan memberikan dokumen yang tidak Anda sukai bahkan sebelum berangkat, itu konyol.”

Namun, Trump juga menyatakan bahwa pembicaraan telah berkembang jauh, tetapi meragukan apakah itu "cukup jauh".

“Saat ini, tidak akan pernah ada kesepakatan kecuali mereka setuju bahwa tidak akan ada senjata nuklir.”

Sebelumnya, melalui unggahan di media sosial, Trump mengancam Iran untuk segera bertindak cerdas karena upaya mengakhiri konflik tampak menemui jalan buntu.

"Iran tidak becus mengurusi urusan mereka. Mereka tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka harus segera bertindak cerdas! Presiden DJT," tulis Trump, sambil mengunggah foto editan dirinya memegang senjata.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.