TRIBUNJABAR.ID - Harga emas hari ini, Kamis (30/4/2026), dari produk Antam, Galeri 24, dan UBS terpantau mengalami penurunan.
Emas adalah logam mulia yang kerap dijadikan instrumen safe-haven atau aset aman untuk menjaga nilai kekayaan dari tekanan inflasi.
Meski demikian, harga emas atau dalam pasar global disimbolkan XAU/USD tidak bersifat tetap, melainkan berfluktuasi mengikuti berbagai faktor.
Beberapa faktor penentu harga emas di antaranya seperti kebijakan ekonomi, kondisi geopolitik global, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS), hingga tingkat permintaan pasar.
Pada kuartal pertama tahun 2026 ini, harga emas mencapai rekor tertingginya melampaui Rp3 juta per gram.
Dalam fluktuasi harian, dilansir dari laman resmi Pegadaian pada Kamis pagi pukul 07.00 WIB, harga emas terpantau mengalami penurunan dibanding kemarin.
Untuk gramasi 1 gram, harga emas Antam mengalami penurunan dari Rp2.927.000 menjadi Rp2.896.000.
Sementara, harga emas Galeri 24 untuk gramasi yang sama turun dari Rp2.802.000 menjadi Rp2.775.000.
Baca juga: Kisah Alvi, Freelancer Muda yang Ubah Perjuangan Antre Emas Menjadi Peluang Bisnis Menggiurkan
Sama seperti Antam dan Galeri 24, harga emas UBS juga mengalami penurunan dari Rp2.840.000 menjadi Rp2.792.000.
Berikut adalah daftar harga emas hari ini selengkapnya:
Harga Emas Galeri 24
Harga Emas Antam
Harga Emas UBS
Pengamat ekonomi memproyeksikan harga emas di tengah gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran.
Dosen sekaligus pengamat ekonomi Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, mengatakan, koreksi harga emas saat ini seiring adanya gencatan senjata di Timur Tengah merupakan hal yang wajar.
"Sebelumnya harga emas sempat mengalami kenaikan cukup tinggi akibat meningkatnya tensi geopolitik," ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Jumat (10/4/2026).
Dia menuturkan, ketika kondisi mulai mereda, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas cenderung menurun, ditambah adanya aksi ambil untung dari investor.
Diketahui, pada Oktober hingga Desember 2025, harga emas bergerak naik secara bertahap dari kisaran Rp2,2 juta menuju Rp2,5 juta per gram.
Memasuki Januari 2026, kenaikan menjadi lebih tajam dengan harga melonjak mendekati Rp3 juta per gram dalam waktu singkat, menandai fase bullish yang dipicu sentimen global dan peningkatan permintaan.
Memasuki Februari hingga Maret 2026, harga emas sempat menyentuh level tertinggi di kisaran Rp3 juta per gram, namun pergerakannya mulai fluktuatif.
Sementara itu, pada Maret hingga April 2026, harga emas mengalami koreksi dan turun ke kisaran Rp2,7 juta hingga Rp2,85 juta per gram.
Meski demikian, koreksi ini dinilai Rizaldy sebagai penyesuaian wajar setelah lonjakan tajam sebelumnya dan peluang rebound harga emas masih terbuka.
Hal ini karena gencatan senjata yang terjadi saat ini belum tentu bersifat permanen, sehingga ketidakpastian global masih tetap ada.
Baca juga: Sentimen Damai Timur Tengah: Membaca Arah Harga Emas Pasca Gencatan Senjata AS-Iran
"Selama risiko tersebut belum benar-benar hilang, emas masih akan menjadi pilihan investor untuk menjaga nilai aset," ucapnya.
Rizaldy memproyeksikan, bila ke depan Iran dan Amerika Serikat benar-benar mencapai perdamaian yang stabil, maka harga emas berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut.
"Investor kemungkinan akan mulai beralih ke instrumen yang lebih berisiko seperti saham. Namun penurunan harga emas biasanya tidak terlalu dalam, karena tetap dipengaruhi oleh faktor lain seperti inflasi global dan kebijakan suku bunga," jelasnya.
Dia menambahkan, secara keseluruhan, dalam jangka pendek harga emas cenderung bergerak fluktuatif.
Sebab, dalam jangka menengah masih memiliki potensi untuk kembali menguat, terutama jika ketidakpastian global kembali meningkat.
(Tribunjabar.id/Rheina/Nappisah)