TRIBUNWOW.COM - Panas terik matahari bak seperti teman di kesehariannya.
Alat-alat pertukangan jadi teman wajib yang harus selalu ada disampingnya.
Saat itu, waktu menunjukkan hendak istirahat jam makan siang dan salat tiba.
Tepat di bawah gubug terbuka beratapkan kayu dan seng, seorang laki-laki berusia 40 tahunan duduk termenung sendiri di atas alas bambu.
Tetesan peluh keringat mengucur deras di tubuhnya yang tak lagi muda itu.
Badan yang setengah hari diajak bekerja diistirahatkan sejenak.
Dengan ditemani lima butir gorengan dan satu porong teh pelepas lapar dan dahaga sementara waktunya.
Pakaian dan celana panjangnya nampak lusu dan kotor karena aktivitasnya yang banyak bergelut dengan debu dan tanah.
Begitu juga dengan topi berwarna hitam yang dikenakan sebagai pelindungnya dari panasnya terik matahari.
Pria tersebut tak lain ialah tukang batu yang tengah menyelesaikan proyek jalan di satu di antara masjid di Gentan, Sukoharjo, Hantoro.
Pak Hantoro, begitu sapaan akrabnya, sudah menjalani berbagai macam proses hidup hingga akhirnya terjun ke dunia bangunan sebagai tukang batu.
"Kerja dibangunan itu mulai lulus STM tahun 1995 lalu sempat bekerja di pabrik di Tangerang dan sebagainya namun tidak kerasan."
"Lalu tahun 1997 saya mulai terjun ke dunia bangunan, pertama kali saya ikut di pembangunan hotel (dulu seraton) yang merupakan proyek besar dulu pertama kali. Dulu pernah jeda jualan roti namun tidak bertahan lama lalu kembali ke bangunan lagi," cerita Hantoro seraya mengingat masa-masa awal berkecimpung di dunia bangunan kembali kepada TribunWow.com, Sabtu (18/4/2026).
Demi mencukupi kebutuhan keempat anaknya, Hantoro juga turut membantu sang istri menjahit selepas kerja.
Itu pun juga jika tubuhnya tak capek selepas menyelesaikan pekerjaan beratnya sebagai tukang batu.
"Kalau kondisi badan sehat setelah pulang kerja itu saya membantu istri saya menjahit, tapi hanya menjahit konveksi gitu, bukan menjahit baju-baju bagus yang hem gitu saya enggak bisa. Namun, kalau celana-celana hawai seperti itu saya masih bisa, tapi kalau tidak lelah, jika lelah saya beristirahat," ujarnya.
Awal Tekad Bulat Hantoro Ingin Naik Haji
Dengan semangat, Hantoro menceritakan bagaimana perjuanganya demi bisa melaksanakan proses ibadah haji yang begitu diidam-idamkan.
Hantoro mengatakan, keinginan hajinya semakin tercambuk ketika mengantarkan ibu mertuanya melakukan proses haji pada tahun 2009 silam.
Dalam benaknya, terbesit kalimat “kapan ya giliran saya".
Bersitan itu terlintas karena ia sempat merasa pesimis dan minder untuk menunaikan rukun Islam kelima itu.
"Kalau keinginan naik haji itu kan, memang pertama kita kan orang iman nah tentu punya cita-cita, walaupun terkadang hanya “kaya gini kok punya cita-cita naik haji."
"Paling berkesan dan berhasil membuatku membulatkan tekad untuk haji terjadi pada 2009 lalu saat membantu mertuaku buat menyelesaikan proses haji. Saat itu, saya kerap mengantar ibu mertua ikut pengajian manasik haji secara rutin tiap hari tiap malam. Dalam hati terbesit "kapan ya giliran saya."
"Nah pada saat ibu mertua menerima koper haji itu kan yang membawa saya, karena saat itu kita goncengan, nah saat itu, di hati saya langsung bergetar. Kapan ya giliran saya, nah itu awalnya disitu awal mula saya bersemangat ingin naik haji disitu," jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, tekad Hantoro untuk pergi haji itu pun semakin kuat.
Rejeki dari Allah berupa warisan yang ia dapatkan menjadi langkah awalnya untuk menunaikan haji.
"Lalu, seiring waktu saya punya warisan, warisan saya dibeli kakak dalam bentuk uang. Meski saat itu hanya mendapatkan Rp 5 Juta, namun saya tabungkan ke bank sampai akhirnya kesampaian haji," lanjutnya.
Semangat Juang Hantoro demi Haji
Perjuangan Hantoro untuk datang ke tanah suci Makkah dimulai pada tahun 2012.
Saat itu, ia mendatangi salah satu bank syariah di Kota Solo untuk membuka rekening haji.
Selepas menyelesaikan pembuatan rekening haji, Hantoro pun lantas menanyakan tentang program talangan haji kepada petugas bank.
"Saya buka rekening pada bulan Maret tahun 2012 , lalu saya bertanya kepada petugas haji, di salah satu bank syariah di Solo. Saya tanya terkait program talangan haji."
"Waktu itu saya hanya membawa uang Rp2 juta, lalu petugasnya berkata kalau ingin ikut program talangan haji saldo rekeningnya harus ada Rp5juta."
"Kurangan itu lalu saya kejar dari Rp2 juta sampai akhirnya terkumpul Rp 5 juta, dan akhirnya bulan Mei 2012 bisa terkumpul sebanyak Rp 5 juta dan bisa langsung ikut program talangan haji," ungkap pria berusia 47 tahun itu.
Lebih lanjut, Hantoro menceritakan bagaimana perjuangan peluhnya sampai akhirnya bisa pergi ke tanah suci bulan Juni 2024 lalu.
Dengan meneteskan air mata, Hantoro membeberkan kisahnya yang sampai harus terseok-seok selama 3 tahun demi merealisasikan cita-citanya pergi ke baitullah.
Dalam 3 tahun itu, Hantoro hanya bisa menyisihkan rata-rata uang pendapatan di angka Rp250 ribu.
Pendapatannya yang hanya sebesar Rp960 ribu satu bulan sudah terpotong Rp625 ribu untuk setoran rutin ke program talangan haji.
"Wah itu kalau prosesnya, bisa dikatakan hidup saya harus terseok-seok seperti itu, ya semua juga tau kan, kalau tukang batu itu gajinya berapa, waktu itu kan gajinya kalau tidak salah kalau seminggu full masuk terus 6 hari dikali 4 yang satu bulan Rp 960 ribu, itu kalau full."
"Sedangkan pada kenyataannya, tukang batu kan sering istirahat jadi cuma 5 atau 4 hari kerja itu pun kepotong untuk ikut talangan haji Rp625 ribu jadi bersihnya bisa tinggal Rp250-an ribu," ucap Hantoro sembari tak kuasa menahan air matanya.
Dengan uang kisaran Rp 250 ribu itulah Hantoro coba penuhi kebutuhan istri dan keempat anaknya selama 3 tahun.
Belum ditambah pengeluaran tak terduga semisal ada hajatan tetangga atau kebutuhan lainnya.
Meski begitu, Hantoro mengaku tak pernah merasa putus asa.
Ia meyakini, bantuan Allah untuknya pasti ada sehingga tekadnya untuk haji tak pernah padam meski harus hidup mepet dan terseok-seok.
"Uang Rp250 ribu itu untuk hidup sebulan istri dan anak, itu benar-benar terseok-seok dalam artian seperti itu, tapi ya saya yakin ini janjinya Allah itu tidak berbohong, kalau kita melihat Allah pasti Allah akan membantu saya seperti itu janji Allah dan itu saya jadikan pedoman saya, jadi ya saya bismillah saja."
"Kalau ada uang sisa ya saya menabung kalau tidak ada ya tidak bisa menabung, dan kalau ada tetangga punya hajat ya tidak bisa menabung, kan harus jagong dan sebagainya itu ya jadi mau tidak mau ya harus pandai mengolah uang yang nominalnya Rp250 ribu untuk kehidupan sehari-hari itu selama 3 tahun," ungkapnya.
Dengan sisa hasil pendapatannya, Hantoro pun sampai tak mampu untuk membelikan baju baru anaknya pada momen lebaran selama dua tahun.
Hanya untuk membelikan mie ayam keluarganya saja, Hantoro sampai tak bisa untuk merealisasikannya.
"Saya ikut program talangan haji 3 tahun,saat itu ditanya petugas hajinya mau yang 3, 2 atau 1 tahun, nah saya memilih yang 3 tahun itu, benar-benar perjuangannya untuk naik haji itu tidak semudah itu, masalahnya saya harus sampai selama 2 tahun itu anak saya sampai tidak saya belikan baju lebaran, ya masalahnya mau ngga mau ya harus begitu, sampai beli mie ayam saja sampai Ya Allah, anakku ingin mie ayam saja saya ya hanya bisa nanti-nanti, tapi ya kembali lagi itu adalah perjuangan supaya bisa haji," lanjutnya seraya menghela nafas saat mengingat perjuangannya dahulu.
Di sisi lain, Hantoro menjelaskan manfaat dari program talangan haji yang ia ikuti.
"Untuk mudahnya saya artikan, talangan haji itu untuk menyegel angka tahun jadi kalau saya Mei tahun 2012 itu saya kan langsung dapat tahun 2024, jadi hanya sekedar ambil tahun keberangkatannya saja belum dengan pelunasannya," jelas Hantoro.
Mengingat, di tahun 2024, Ongkos Naik Haji (ONH) atau biaya haji mencapai angka Rp58 juta.
"Masih terus dan itu kan belum ONH, ONH kemarin 2024 kalau tidak salah 58 juta, jadi sisa antara 25 juta sampai 58 juta itu kita mengangsur sendiri, jadi talangan 25 juta itu cuma supaya kita menyegel tahun haji saja," ungkapnya.
Untuk mensiasati kekurangan itu, Hantoro memutuskan untuk menabung uang sisanya di rumah.
Sebagian lainnya ia tabungkan di bank.
Namun, program nabung yang ia canangkan itu acap kali tak bisa dilakukan karena adanya kebutuhan mendadak yang tidak bisa ditunda lagi.
"Seperti yang saya sampaikan tadi kalau ada uang sisa ya saya tabung, kadang saya tabung dirumah, saya masukkan ke bank, kadang kalau ketabrak kebutuhan ya saya mau tidak mau ya saya tidak menabung," bebernya.
Selain itu, Hantoro juga turut berpesan kepada jemaah yang memiliki latar belakang ekonomi sepertinya untuk tak putus asa jika memiliki keinginan untuk bisa naik haji.
Hantoro mengungkapkan, haji itu bukan hanya bisa dilakukan oleh orang kaya semata.
Menurutnya, semua bisa haji asalkan memiliki niat dan usaha dalam mewujudkannya.
"Ketika pengajian diterangkan bahwa pahala haji kan besar-besar semua, kan itu semua orang bisa melaksanakan asalkan punya niat dan punya usaha, jadi dalam pikiran saya ya haji tidak hanya untuk orang kaya. Nah itu saya tanam didalam hati saya, orang kaya itu belum tentu mau naik haji belum tentu dia itu bersungguh-sungguh berusaha untuk naik haji, makanya saya ya sudah bismillah saja, ini urusannya gusti Allah nah ternyata ya ada jalan dan dipanggil," pungkasnya.
BPKH RI Beri Solusi demi Ketenangan bagi Jemaah Haji
Demi komitmen beri ketenangan lebih bagi jemaah haji, BPKH RI salurkan penyaluran living cost sebagai implementasi dari nilai manfaat dana haji.
Penyaluran living cost (biaya hidup-red) untuk jemaah haji merupakan bentuk dukungan nyata agar jemaah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya selama berada di Tanah Suci.
Adanya dukungan ini diharapkan bisa menghadirkan ketenangan sehingga jemaah bisa menjalankan prosesi ibadah haji dengan lebih khusyuk.
Momentum pelepasan jemaah haji kloter empat di Embarkasi Surabaya menjadi satu di antara penanda perjalanan ibadah haji tahun 1447 H/2026.
Momen itu juga jadi ajang kesiapan layanan termasuk dukungan pembiayaan bagi jemaah jadi bagian penting untuk memastikan kelancaran dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Anggota Badan Pelaksana BPKH, Hary Alexander turut menjelaskan terkait penyaluran nilai manfaat dana haji yang tak cuma berfokus pada aspek pengelolaan saja.
Melainkan juga pada kebermanfaatan yang langsung bisa dirasakan oleh jemaah.
“BPKH memastikan nilai manfaat dari pengelolaan dana haji dapat kembali kepada jemaah, salah satunya melalui pemberian biaya hidup yang mendukung kebutuhan jemaah selama berada di Tanah Suci,” ujarnya dikutip TribunWow.com dari laman resmi BPKH RI, Rabu (29/4/2026).
Adanya penyaluran living coast ini merupakan bentuk dari sinergitas antara BPKH dengan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Kolabrasi ini diharapkan bisa menghadirkan pelayanan yang terintegrasi mulai dari aspek pembiayaan hingga pelaksanaan ibadah.
Sebagai lembaga yang bertugas mengelola dana haji, BPKH terus berupaya menjaga amanah pengelolaan dana secara profesional, transparan dan berbasis pada prinsip syariah.
Optimalisasi nilai manfaat ini bentuk komitmen BPKH untuk terus menghadirkan dukungan nyata bagi jemaah dalam setiap tahap dalam perjalanan ibadah haji
(TribunWow.com/Adi Manggala S)