Menu MBG yang Konsumsi Siswa SMP 1 Tulung Sebelum Mengalami Gejala Keracunan
Hari Susmayanti April 30, 2026 10:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Kasus keracunan massal yang diduga karena mengkonsumsi menu makanan program makan bergizi gratis (MBG) kembali terjadi.

Kali ini kasus keracunan massal terjadi di SMPN 1 Tulung, Klaten.

Sebanyak 225 siswa dan belasan guru mengalami gejala keracunan setelah mengkonsumsi menu makanan MBG pada Selasa (28/4/2026).

Para korban mengalami gejala berupa mual, muntah-muntah dari diare.

Sebanyak 11 orang terpaksa harus menjalani rawat inap di rumah sakit dan puskesmas karena kondisinya lemah.

Dikutip dari Tribun Solo Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 1 Tulung, Kris Hadiana mengatakan menu makanan yang disajikan terdiri dari nasi, sayur timlo, tempe crispy, telur puyuh, dan galantin.

Adapun siswa dan guru yang mengkonsumsi MBG sebanyak 668 orang.

"Untuk jumlah siswa SMPN 1 Tulung yang ikut merasakan (manfaat) dari MBG atau yang ikut program MBG ada 668 dari kelas 7, 8, dan 9," ujarnya saat ditemui di sekolah.

Menurut Kris, tidak semua siswa yang mengkonsumsi menu MBG mengalami gejala keracunan.

Dari total 668 orang yang mengkonsumsi, sebanyak 225 siswa mengalami gejala keracunan.

Sementara dari 225 siswa yang mengalami gejala keracunan, sebanyak 11 orang menjalani perawatan di rumah sakit.

 "Yang opname di rumah sakit itu di PKU Jatinom ada 2 anak, terus yang di Puskesmas Tulung itu ada 9 anak. Sementara yang lain sebagian besar rawat jalan dan mungkin mendapat pengobatan pendampingan dari orang tua mereka masing-masing," jelasnya.

Baca juga: Harga Emas Antam, Galeri24 dan UBS Hari Ini, Kamis 30 April 2026

Tak hanya siswa, sebanyak 18 guru juga dilaporkan mengalami keluhan serupa setelah mengonsumsi makanan tersebut.

Kris mengungkapkan, gejala yang paling banyak dikeluhkan oleh siswa dan guru adalah mual yang kemudian berkembang menjadi gangguan pencernaan.

"Yang paling banyak yang dikeluhkan oleh anak-anak adalah yang pertama adalah awalnya mual. Mual terus perutnya ada yang sakit, ada yang sampai sampai rumah muntah, bahkan nanti berlanjut sampai ke diare," ucapnya.

Gejala tersebut muncul dalam rentang waktu setelah konsumsi makanan MBG, sehingga memunculkan dugaan keracunan makanan.

"Menu yang diberikan oleh pihak SPPG dari hari Selasa itu adalah yang pertama itu ada nasi, terus sayurnya ada sayur timlo, tempe crispy, dan juga telur puyuh, sama galantin," kata Kris.

Untuk sayur timlo, terdapat berbagai isian seperti jamur, soun, dan wortel. Selain itu, siswa juga mendapatkan buah anggur sebagai pelengkap.

Makanan tersebut tiba di sekolah sekitar pukul 09.45 WIB dan langsung dibagikan kepada siswa pada pukul 10.00 WIB.

"Itu langsung kami distribusikan anak-anak kami panggil, di distribusikan ke kelas masing-masing untuk segera dikonsumsi. Pukul 10.30 kotak sudah kembali lagi," ucapnya.

Kris mengaku, menu makanan yang disajikan sebenarnya sudah diuji organoleptik oleh pihak sekolah.

"Waktu datang itu sebenarnya layak untuk dikonsumsi, belum ada mungkin tanda-tanda makanan basi ataupun yang lain. Makanya kami bagikan, karena memang waktu datang itu layak untuk dikonsumsi oleh anak," jelasnya.

Hal ini menjadi perhatian karena secara kasat mata, makanan tidak menunjukkan indikasi basi saat diterima sekolah.

Kris juga mengaku dirinya ikut mengonsumsi makanan tersebut, namun tidak mengalami gejala keracunan.

"Ikut (makan), tidak (keracunan). Karena saya tidak makan telur puyuhnya, jadi saya tidak mengalami sakit," ucapnya.

Sementara itu, seluruh siswa yang mengalami dugaan keracunan telah mendapatkan penanganan medis, baik di rumah sakit, puskesmas, maupun perawatan mandiri di rumah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.