Kepala BGN Dadan Hindayana Sebut Jurusan Gizi Kini Mendadak Diminati Gara-Gara Program MBG
jonisetiawan April 30, 2026 12:08 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah derasnya perbincangan soal program Makan Bergizi Gratis (MBG), muncul satu fenomena tak terduga di dunia pendidikan.

Jurusan yang dulu kerap dipandang “sepi peminat” kini justru berbalik arah menjadi incaran baru para calon mahasiswa.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyebut perubahan ini sebagai dampak langsung dari kebutuhan besar di lapangan.

Program MBG yang terus berkembang ternyata membuka peluang luas bagi tenaga ahli di bidang gizi.

Baca juga: DPR Sebut Kebijakan BGN Tidak Masuk Akal: Rakyat Keracunan Kok SPPG-nya Malah Diguyur Rp6 Juta/Hari?

Lonjakan Kebutuhan, Lonjakan Minat

Menurut Dadan, meningkatnya minat terhadap program studi gizi bukanlah kebetulan. Hal ini didorong oleh kebutuhan nyata yang muncul dari operasional ribuan dapur MBG di berbagai daerah.

"Program studi gizi yang dulu tidak terlalu diminati, sekarang justru menjadi yang paling laku karena kebutuhan di lapangan sangat besar," kata Dadan.

Setiap unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi diwajibkan memiliki setidaknya satu tenaga ahli gizi. Dengan jumlah SPPG yang telah mencapai puluhan ribu, kebutuhan tenaga profesional pun melonjak drastis.

"Setiap unit membutuhkan setidaknya satu tenaga ahli, belum termasuk tim pendukung lain di bidang pengolahan pangan dan pengawasan kualitas," jelasnya.

DADAN HINDAYANA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana
DADAN HINDAYANA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana sebut prodi gizi kini makin diminati berkat adanya MBG. (Kompas.com/Fika Nurul Ulya)

Tak Hanya Lulusan Gizi, Banyak Bidang Ikut Terlibat

Menariknya, kebutuhan ini tidak terbatas hanya pada lulusan gizi murni. Pemerintah juga membuka peluang bagi berbagai latar belakang keilmuan yang masih berkaitan.

Mulai dari kesehatan masyarakat, teknologi pangan, hingga keamanan pangan, semuanya dilibatkan untuk memperkuat kualitas layanan MBG.

Langkah ini diambil demi mempercepat pemenuhan sumber daya manusia sekaligus menjaga standar makanan yang disajikan.

Baca juga: BGN Usul Tiap Kampus Punya SPPG Sendiri, Mahasiswa Bakal Kelola Sawah dan Ternak demi Dukung MBG

Peran Krusial Ahli Gizi di Balik MBG

Dadan menegaskan bahwa keberadaan tenaga ahli gizi bukan sekadar pelengkap, melainkan menjadi fondasi utama keberhasilan program ini.

"Keberadaan tenaga ahli gizi menjadi kunci dalam keberhasilan program MBG, terutama karena pendekatan yang digunakan berbasis potensi lokal," ujarnya.

Setiap daerah memiliki karakteristik bahan pangan dan pola konsumsi yang berbeda.

Di sinilah peran ahli gizi menjadi vital menyusun menu yang tidak hanya bergizi, tetapi juga relevan dengan kondisi lokal.

Dampak ke Dunia Kampus: Kurikulum Ikut Berubah

Lonjakan kebutuhan tenaga profesional ini turut memicu respons dari dunia pendidikan.

Perguruan tinggi mulai menyesuaikan kurikulum, kapasitas, hingga orientasi pembelajaran di bidang gizi dan pangan.

"Program MBG dinilai dapat menjadi momentum kebangkitan sektor pendidikan vokasi dan profesi di bidang tersebut," kata Dadan.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah kebijakan publik tidak hanya berdampak pada masyarakat secara langsung, tetapi juga mampu mengubah arah minat pendidikan dan kebutuhan tenaga kerja di masa depan.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.