Mayoritas Negara Teluk Berpihak ke AS, Iran Kian Terjepit dan Sulit Berlakukan Tarif di Selat Hormuz
Christoper Desmawangga April 30, 2026 04:11 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Rencana Iran untuk memberlakukan tarif di Selat Hormuz menghadapi hambatan serius setelah negara-negara kawasan Teluk menunjukkan keberpihakan kepada Amerika Serikat dalam menolak kebijakan tersebut.

Dalam pertemuan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang berlangsung di Jeddah, Arab Saudi, Selasa (28/4/2026), para pemimpin regional membahas koordinasi respons terhadap perkembangan krisis Timur Tengah, termasuk meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.

Baca juga: Ngebom Iran Bikin AS Kuras Dana Besar, Kini Trump Pilih Blokade Berkepanjangan di Selat Hormuz

Pertemuan ini digelar hanya beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melakukan kunjungan ke Oman guna membahas kemungkinan kesepakatan pembagian jalur air strategis tersebut.

Menurut sejumlah sumber Amerika Serikat dan regional, Iran berharap skema tersebut dapat membuka jalan bagi Teheran untuk memperoleh peran lebih besar dalam pengelolaan Selat Hormuz.

Namun, Oman menolak proposal tersebut.

Penolakan itu menjadi sinyal kuat bahwa negara-negara Teluk tidak ingin Iran memiliki kontrol lebih besar terhadap salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.

Baca juga: Trump Ngamuk ke Kanselir Jerman, Tanggapi Pernyataan AS Dipermalukan Iran

Kondisi ini memperumit posisi Teheran, terutama setelah hubungan Iran dengan sejumlah negara GCC memburuk akibat konflik yang melibatkan serangan terhadap target-target regional.

“Mereka akan memaafkan, tetapi mereka tidak akan pernah melupakan apa yang telah dilakukan Iran. Mereka tidak tertarik untuk membayar biaya rekonstruksi Iran.”

“Sebagai akibat dari semua ini, mereka tidak akan mengizinkan Iran untuk mengendalikan selat tersebut maupun memungut tol dari kapal-kapal yang melewatinya,” kata sumber yang mengetahui upaya mediasi tentang sekutu-sekutu Teluk.

Sikap Oman dan anggota GCC lainnya juga selaras dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menolak keras segala bentuk penguasaan Iran atas Selat Hormuz.

Baca juga: AS dan Iran Jauh dari Kata Damai, Harga Minyak Dunia Kembali Meroket

“Negara-negara GCC mendukung pernyataan pemerintah (AS) bahwa Iran tidak dapat mengendalikan Selat Hormuz, tidak dapat memungut tol, atau menutup selat tersebut kapan pun mereka mau,” kata mantan pejabat Pentagon dan peneliti Atlantic Council, Alex Plitsas, kepada The Post.

Menurut Plitsas, strategi Iran yang sebelumnya mencoba menekan negara-negara Teluk justru menjadi bumerang.

Alih-alih memperkuat posisi regionalnya, tindakan tersebut malah mendorong negara-negara tetangga semakin mendekat ke Washington dalam isu keamanan maritim dan stabilitas energi global.

Pertemuan GCC di Jeddah menjadi forum penting pertama sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari 2026.

Baca juga: Gagal Deal dengan AS, Iran Mengadu ke Putin, Negosiasi 21 Jam Berakhir Tanpa Hasil

Negara-negara Teluk kini semakin fokus pada upaya menjaga stabilitas kawasan dan mencegah konflik berkepanjangan.

Qatar, salah satu anggota GCC, juga menegaskan pentingnya penghentian perang secara permanen.

“Kami tidak ingin melihat kembalinya permusuhan di kawasan ini dalam waktu dekat,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, dalam konferensi pers.

“Kami tidak ingin melihat konflik yang membeku dan akhirnya mencair setiap kali ada alasan politik.” (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.