SURYA.CO.ID, SURABAYA – Permasalahan stunting dan pola pemberian nutrisi anak masih menjadi tantangan di wilayah kepulauan.
Kondisi itu ditemukan dalam kegiatan sosial #BersamaMomUung yang digelar Mom Uung bersama CHeNECE Unair di Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep pekan lalu.
CHeNECE (Center for Health and Nutrition Education, Counseling and Empowerment) adalah kelompok riset interdisipliner di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair).
Dalam kegiatan tersebut, tim dokter, tenaga kesehatan, dan konselor laktasi memberikan pemeriksaan kesehatan sekaligus edukasi mengenai ASI eksklusif, MPASI, hingga tumbuh kembang anak kepada para ibu.
Dokter spesialis anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A., mengatakan hasil skrining menunjukkan masih banyak anak mengalami stunting akibat pola nutrisi yang belum tepat.
Baca juga: Nutrition Run 2026 di Surabaya, 700 Peserta Lari Sambil Bantu Anak Stunting
“Fokus utama saya saat skrining ini adalah memastikan tumbuh kembang bayi berjalan optimal. Tapi sayangnya, hasil pemeriksaan menunjukkan rata-rata anak di sini mengalami stunting. Ini jadi pengingat penting buat orang tua supaya lebih paham tanda bayi menyusui dengan benar dan rutin memantau berat badan anak,” ujar dr. Ian pada SURYA.CO.ID, Kamis (30/4/2026).
Ia menjelaskan, sebagian masyarakat masih memberikan makanan atau minuman tambahan kepada bayi di bawah enam bulan, seperti air tajin, air mineral, hingga pisang halus.
Padahal, pada usia tersebut bayi seharusnya hanya mendapatkan ASI eksklusif.
Selain pemeriksaan tumbuh kembang anak, tim kesehatan juga memberikan resep obat untuk penanganan penyakit yang sering dialami anak seperti flu, batuk, dan demam.
Baca juga: Semangat Kartini Turunkan Angka Kematian Ibu di Jatim, Tekan AKI & Stunting
Sementara itu, dr. Ikhsanuddin Qoth’i menyoroti masih rendahnya pemahaman ibu mengenai proses menyusui yang tepat.
Menurutnya, kondisi psikologis ibu juga berpengaruh besar terhadap produksi ASI.
“Kalau ibu merasa tenang, didukung, dan cukup istirahat, produksi ASI biasanya akan jauh lebih optimal. Jadi bukan cuma soal teknik menyusui atau pumping, tapi juga kenyamanan perasaan ibu,” kata dr. Ikhsan.
Karena itu, para ibu diberikan edukasi mengenai teknik menyusui, penggunaan pompa ASI, hingga pendampingan agar lebih percaya diri memberikan ASI eksklusif kepada bayi.
Founder Mom Uung, Uung Victoria Finky, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan nyata bagi ibu menyusui di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.
“Mom Uung nggak ingin cuma hadir lewat produk saja. Kami ingin datang langsung, ngobrol dengan ibu-ibu, dan memahami apa yang sebenarnya mereka butuhkan,” ujar Uung.
Menurutnya, banyak ibu membutuhkan pendampingan yang menyeluruh, mulai dari edukasi kesehatan, dukungan emosional, hingga solusi praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Antusiasme warga terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satu warga Pulau Kangean, Ira, mengaku terbantu dengan adanya pemeriksaan kesehatan langsung karena akses dokter di wilayahnya masih terbatas.
“Biasanya dokter ke sini cuma sebulan sekali dan tidak lama. Jadi saya bersyukur bisa tahu kondisi anak saya dan dijelaskan langkah-langkah memperbaiki nutrisinya,” ujarnya.